Headlines News :
alt/text gambar
alt/text gambar

BERITA FOTO : WARGA KEBON JERUK MENGGERUDUK KANTOR PT KAI DAOP 2



     Ratusan warga kebon jeruk melakukan Aksi unjuk rasa didepan kantor PT KAI          Daop 2 Jalan Stasiun Barat , Rabu (19/7/2017).

     Aksi warga Kebun Jeruk ini menuntut agar PT KAI Daop 2 agar tidak mengancam     warga untuk melakukan penertiban bangunan yang ada sepanjang jalan Stasiun        Barat Bandung.




Warga Kebon Jeruk menghampiri Gerbang DAOP 2
Ratusan Masyarakat Kebon Jeruk mendengarkan Penjelasan dari Manager Hukum DAOP 2



Salah satu Warga Kebon Jeruk menyalahkan Sikap dari Manager Hukum DAOP 2

Salah satu Warga Kebon Jeruk menyalahkan Sikap dari Manager Hukum DAOP 2

Salah satu Warga Kebon Jeruk mempertanyakan sikap Polisi


Salah satu Warga Kebon Jeruk mempertanyakan Sikap dari Manager Hukum DAOP 2

Ibu - ibu dari Kebon Jeruk mempersiapkan diri untuk menuju Gedung DAOP 2


Masyarakat Kebon Jeruk bernyanyi untuk membakar semangat perjuangan mereka

Masyarakat Kebon Jeruk bernyanyi untuk membakar semangat perjuangan mereka. 

Masyarakat Kebon Jeruk tengah mendengarkan Orasi

Salah satu Pendukung pergerakan Masyarakat Kebon Jeruk menyuarakan Orasinya

Masyarakat menghancurkan Gerbang DAOP 2 karena Permintaan mereka tidak juga dikabulkan oleh PT. KAI

Masyarakat menghancurkan Gerbang DAOP 2 karena Permintaan mereka tidak juga dikabulkan oleh PT. KAI

Masyarakat menghancurkan Gerbang DAOP 2 karena Permintaan mereka tidak juga dikabulkan oleh PT. KAI

Salah Satu Wanita dari Kebon Jeruk menyeruakan Orasinya




 Miuraby

Wartawan  Foto Daunjati

HARI PERTAMA : SCREENING TUGAS AKHIR PRODI TELEVISI DAN FILM





DAUNJATI, Bandung – Rabu, (19/07) Prodi Televisi dan Film ISBI Bandung mengadakan sebuah acara Penayangan Film atau Screening Film Karya dari mahasiswa Semester Akhirnya. Acara yang bertajuk “Journey Cinema” ini dibagi menjadi 3 sesi, sesi pertama dengan 3 Film, dilanjut dengan Sesi kedua yang menayangkan 2 Film, dan diakhiri dengan Sesi ketiga yang menayangkan 3 Film. Dengan keseluruhan menjadi 8 Film karya Tugas Akhir Mahasiswa Prodi Televisi dan Film yang ditayangkan pada Hari Pertama ini.

Sesi pertama dimulai pada Jam 13:15 WIB dengan diawali oleh Film Dokumenter berjudul “Hajarbleh” Karya Noora Sania (Sutradara) dan Neni Nurshanah (D.O.P.). Film ini menceritakan tentang perjalanan sebuah Big Band yang bernama Hajarbleh dengan gambar – gambar yang menarik, juga diiringi oleh Musik yang Asik, film ini mampu membuat para Penonton menjadi Santai untuk Melihat film ini.. 

Kemudian dilanjut oleh Film “Kemaro” Karya Alfiqo Fara Soraya. Film ini menceritakan Sebuah Pulau Wisata yang ada di Palembang, pulau ini bernama Kemaro. Dengan Genre Televisi Dokumenter-nya, Film ini mampu memberikan Informasi tentang Pulau tersebut. Dan sesi pertama diakhiri oleh Film berjudul “Potret Larasati” karya Putri Dwi Asih (Sutradara), Sri Sulistiyani (Penulis Naskah), Nopiyanti (D.O.P.) dan Arochman Eka R (Editor). Film yang didasari dari Kisah Nyata ini mampu membuat penonton Hanyut dalam Percintaan antara dua sejoli yang berbeda Suku tersebut.

Kemudian Sesi kedua dimulai pada Jam 16:00 WIB, dengan Film berjudul “Story of Stray Cat” karya Rosmayanti sebagai pembukanya. Film ini menggambarkan sebuah penderitaan Hidup seekor Kucing Kampung, dengan diiringi oleh Puisi Karya Dosen RY. Adam Panji, film ini mampu menyentuh hati para penontonnya.  Dan Film terakhir dari sesi kedua ini adalah Film Dokumenter berjudul “Racikopi” karya Auliana M Wiryadi. Film ini memperkenalkan sebuah Profesi seorang Seniman Peracik Kopi atau biasa kita kenal dengan nama “Barista”. Tidak hanya memperkenalkan, tetapi juga menjelaskan bahwa betapa sulitnya Profesi seorang Barista. Film ini berhasil menggiur para penonton untuk ingin meneguk segelas Kopi Hangat.


terakhir adalah Sesi Ketiga. Sesi ini dilanjut pada Jam 18:30 WIB, dengan Film Dokumenter “Math in Batik” sebagai pembukanya. Film yang disutradarai oleh Kharisma N Setiawati ini menjabarkan bahwa Batik tidak hanya sekedar Pola yang tidak beraturan, tetapi juga Pola – pola tersebut dapat dihitung dengan Ilmu Matematika, sehingga Pola – Pola batik tersebut memiliki Arti dan makna yang lebih Mendalam. Dengan di D.O.P.  kan oleh Rafi Ghali, film ini mampu membuat Penonton tidak merasa Bosan karena memberikan Gambar – gambar yang menarik. 

Kemudian diikuti oleh Film Berjudul “Amanat Rimba” Karya Irvan Perdian (Sutradara) dan Gumgum Rizka Ramdayana (D.O.P.). Film Bergenre Dokumenter ini menceritakan Hewan Owa yang dilindungi oleh sebuah Lembaga Perlindungan dari pemburuan Liar terhadap hewan tersebut. Di film ini, Gumgum mampu menyajikan gambar – gambar yang menarik terhadap hewan lucu ini, membuat penonton menjadi asik melihatnya.  Dengan mengambil sudut pandang Penjaga Hewan tersebut, Film ini mampu memberikan Sebuah Amanat Rimba yang sangat bermanfaat bagi penontonnya. 

Terakhir sekaligus menjadi Penutup bagi Sesi ketiga, juga menjadi penutup bagi Screening Tugas Akhir di Hari Pertama ini adalah Sebuah Film menarik Karya Pria Yudi Pamungkas dengan Judul “Dendang Musik Nusantara – Memori Musik Indonesia”. Film Dokumenter ini menceritakan sebuah perjalanan Panjang dari dunia Musik Indonesia. Dengan Narasumber – Narasumber yang berpengalaman, film ini memberikan banyak sekali Informasi seputar dunia Musik di Indonesia. Film Rekomended bagi kalian yang ingin tau tentang Sejarah Musik Indonesia.


Bayu Rekartono
wartawan Daunjati 

SEKILAS SEJARAH NGABUBURIT



Salah satu aktivitas keagamaan di Sukawening-Ciwidey. Foto: John Heryanto

Sepanjang bulan Ramadhan, kata “ngabuburit” akan selalu diletakan dalam aktivitas yang dilakukan sore hari sebelum berbuka puasa / adzan magrib. Mengapa hanya aktivitas dibulan ramadhan saja yang dilakukan sore hari disebut ngabuburit? Apakah benar karena menunggu buka puasa? Apakah aktivitas sore hari ketika melakukan puasa sunah bisa juga disebut ngabuburit? 

Istilah ngabuburit mulai muncul sekitar tahun 70-an. Ketika mimbar keagamaan hadir di televisi, radio yang tayang setiap subuh dan sore, juga di koran maupun majalah ibu kota. Sehingga sebagian  masyarakat kota maupun desa, lebih memilih media masa ketimbang berkumpul di masjid-masjid maupun di madrasah. Hal ini, membawa perubahan terhadap pola dakwah yang dilakukan di madrasah-madrasah atau pesantren tradisional di pinggiran kota. Selain itu di tahun tersebut, kegiatan berserikat dan berkumpul dianggap tidak pancasila, komunis, teroris, kafir dan makar sehingga para aktivis, intelektual muda atau kalangan menengah terpelajar kota mencari cara lain untuk tetap bertegur sapa sekedar membicarakan situasi dan kenyataan yang dihadapi.

Menangapi perubahan situasi yang bergeser dari tahun-tahun sembelumnya terutama setelah naiknya Soeharto. Maka dikalangan  Pendidikan Agama yang bersipat tradisional / Pesantren di pinggiran kota muncul kegiatan  “pesantren kilat” yang kemudian menjadi kegiatan wajib ditahun 90an berdasarkan keputusan Presiden untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan dan karakter bangsa dikalangan generasi muda mulai dari SD sampai SMA. Yaitu belajar agama dalam waktu sesingakat-singkatnya;  setelah subuh, pagi, sore dan malam hari selama 20 hari. Selain menaggapi maraknya dakwah dimedia masa. Siswanya kebanyakan diikuti oleh remaja sekitar pesantren ‘santri kodok’ dan juga anak muda kota yang berpaling dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Sedangkan kalangan terpelajar kota/santri abangan memilih diskusi dengan keliling ke masjid-masjid secara diam-diam diwaktu sore, guna menghimpun masa.

Dari kedua aktivitas tersebut, muncullah istilah “ngabuburit”. Jika dikaitkan dengan situasi di tahun 70-an maka “ngabuburit” berasal dari kata “ngabubur” yang artinya mengolah gagasan ‘ngasakeun’ yang dilakukan setiap sore oleh kalangan terpelajar kota begitu juga dengan didesa mengenai agama dan realitas masyarakat. Maka “ngabuburit” di tahun 70 dan 80-an menjadi aktivitas yang rutin dilakukan, tidak hanya sekedar merawat keremajaan tapi juga memelihara kebersamaan. Hingga berbagai acara dilakukan di ruang-ruang publik khususnya di Bandung seperti "Konser Musik Ngaburit"(1975) dan lain sebagainya. Dari berbagai aktivitas sore-sore yang dilakukan secara berkala, akhirnya kata ngabuburit menyebar keseluruh Indonesia untuk menyebut aktivitas sore-sore di bualan Ramadhan. Sudahkan anda “ngabuburit” hari ini?

(John Heryanto)

GENDING KARESMEN: OPERA SUNDA YANG TERLUPAKAN



John Heryanto

;
Sebuah jalan entah menuju kemana. Foto: John Heryanto
 Itu Nyai cing itu tinggali
Ku Nyai pek tempo,
Kalangkang tѐh ѐstuning anѐh
Nutur-nutur teu welѐh ngukuntit
Cik tѐwak ku Nyai
Asupkeun kana saku. 

Begitulah seorang pemuda berujar kepada teman-temanya dalam naskah “Budak Leungit” – R. Hidayat Suryalaga (1993). Seorang lelaki yang terheran-heran melihat orang lain di air dengan wajah yang serupa dirinya. Wajah yang akrab, namun tidak saling bertegur sapa dan ketika keduanya berjabat tangan merekapun menghilang ditelan air. Apakah orang itu yang mengaku bernama sunda? Atau seseorang tak bernama dan menghilang ditelan keadaan, yang dikenal sekaligus hilang begitu saja? Kiranya begitu pula dengan nasib Gending Karesmen hari ini?

Gending Karesmen mulai muncul setelah lahirnya sastra sunda (1904) dan setelah bertemunya dengan Drama musikal/Opera yang dibawa orang Eropa di Schouwburg /Gedung Kesenian Jakarta (1821) dan Klub-Klub Hindia Belanda ‘Societe‘, dengan naskah-naskah seperti “Faust”, “Les Noces de Jeannette”, “Eerloos”, “Agon Sultan Van Bantam”, "Lakme" dll. Serta Komedie Stamboel yang muncul pertama kali di Surabaya (1891) di pelopori oleh  Agust Mahieu dengan sajian musik Mars, Polka, Keroncong, Gambus, Waltz, dan Tanggo.  Bahkan konon Bertolt Brecht, dramawan Jerman sempat mengunjungi Surabaya sehingga lahirlah lagu opera-nya yang populer di Eropa yaitu "Soerabaya, Johnny!". Ditahun-tahun selanjutnya Stamboel di Hindia Belanda dikenal sebagai Komedie Bangsawan. Ditambah dengan hadirnya pasar malam Jarrbeur di Bandung yang diselenggarakan setahun sekali bulan juni-juli, yang setiap malamnya diisi dengan konser musik Eropa dan Opera Sunda/Toenil Tembang

Sedangkan untuk pertunjukan Toenil Tembang mulai dikenal oleh masyarakat setelah pertunjukan “Lutung Kasarung” yang diangkat dari pantun dan cerita yang tersebar di masyarakat Priangan. Pertunjukan tersebut berlangsug di Pendopo Kabupaten Bandung atas prakarsa Java Institute, sebuah lembaga pengembangan ilmu pengetahun dan budaya pimpinan Prof. Hoesein Djajadiningrat (1921) dan salah satu Komedie Stamboel yang berbahasa sunda yaitu Opera Valencia / Miss Tjietjieh (1928) di Bativia/Jakarta yang bertahan hingga kini.

Gending Karesmen dulu dan kini

Istilah Gending Karesmen untuk menyebut Opera Sunda diciptakan oleh  R. Machyar Anggakusumahdinataa (1925) dan dipopulerkan oleh R Memed Sastrahadiprawira (1927). Selain Gending Karesmen, Opera sunda sering disebut pula sebagai Rinengggasari dan Toenil Tembang. Dimana teks-teks lakon ditulis dengan danding, kawih, pupuh atau puisi sunda.

Akor-aktor  Gending Karesmen tentunya tidak hanya pandai memainkan peran tetapi ia juga harus menguasi tehnik juru kawih/sinden sebab teks dilontarkan dengan dikawihkan. tentunya disertai dengan seperangkat tekhnik pemeran sebagaimana layaknya Opera dimana setiap dialog bisa berubah-rubah pupuh dan iringan raras juga jenis musik dari pengrawit mulai dari karawitan cianjuran ’setra karesmen’, degung, gamelan dan lain-lain. Sebagai gambaran dari situasi, perasaan dan watak sang tokoh ketika berada di atas pentas.

Salah satu tokoh Gending Karesmen yang paling dikenal di masyarakat yaitu Mang Koko / H Koko Koswara (1917-1987). Seniman sekaligus pemikir kesenian sunda khususnya di bidang karawitan yang menyebarkan gagasannya lewat perkumpulan seni seperti ‘Jenaka Sunda Kaca Indihiang’ (1946), Taman Murangkalih (1948), Taman Cangkurileung (1950), Taman Setiaputra (1950), Kliningan Ganda Mekar (1950), Gamelan Mundinglaya (1951), dan Taman Bincarung (1958). Serta mendirikan Yayasan Cangkurileung yang cabang-cabangnya tersebar di sekolah-sekolah se propinsi Jawa Barat, Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Bandung (1971), dan lain sebagainya.

Kini seiring dengan kepergian Mang Koko, Gending Karesmen pun seolah tidak terdengar lagi dan hanya bertahan sampai tahun 90-an, selebihnya hanyalah kisah di buku-buku yang disimpan di Perpustakaan. Atau mungkin saya yang tidak sempat menonton, semoga saja tidak terlupakan!

 
alt/text gambar
alt/text gambar
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger