Headlines News :
alt/text gambar
alt/text gambar

PERFORMANCE NOW : MEMBACA STRATEGI JALANAN WANGGI

suasana diskusi


Bandung, Daunjati (23/05)- Performance Now, lembaga pengarsipan dan pengembangan seni performance Indonesia. Mengadakan diskusi terbuka  tentang “Strategi Jalanan”, dengan pembicara Wanggi Hoed (Seniman pantomim), bertempat di Lantai-2 Perpustakaan ISBI Bandung, 23 Mei 2017. Acara dibuka oleh moderator John Heryanto, Materi diskusi yang dimoderatori John, memaparkan strategi yang dilakukann Wanggi Hoed selama begelut di jalanan dengan pantomimnya. 

Ketika Wanggi melakukan aksi pantomim diruang publik, banyak hal yang menjadi pertimbangan Wanggi dalam melakukan aksi pantomim. Selain perijinan tempat, tidak luput Wanggi juga mempertimbangkan peran pers yang meliput aksinya. Bagi Wanggi bila kita tidak mengenal dengan baik lingkungan tersebut bisa berbahaya terhadap berjalanya aksi tersebut.

Pertama yang digunakan Wanggi adalah dengan riset, riset yang dimaksud Wanggi adalah mengenal keadaan dan lingkungan di daerah tersebut. Jika sudah mengenal lingkungan  yang akan dijadikan tempat melakukan aksi pantomim, langkah yang dilakukan wanggi adalah melakukan pendekatan dan meminta perijinan kepada orang yang memiliki kewenangan atas daerah tersebut dan menjelaskan maksud dan tujuan agar dipermudah.

Jika cara yang diatas sudah dilakukan, hal yang dilakukan Wanggi adalah melakukan performance dengan intens, dengan melakukan aksi performance dengan intens bisa merubah pandangan apresiator yang tadinya hanya lewat tanpa memperhatikan aksi yang dilakukan menjadi simpatik dan bertanya, saat apresiator mulai bertanya disanalah terjadi interaksi dimana seniman bisa menyebar luaskan gagasan yang ingin disampaikanya.

Cara yang terakhir yaitu Strategi Media, bagi Wanggi elemen penting dalam pertunjukan pantomimnya adalah pers, peran media dalam pertunjukan wanggi diletakan sebagai penyampai pesan kehalayak yang lebih luas. 

Bagi Wanggi peran Pers menjadi salah satu yang penting dalam aksinya selama ini, Karena dengan adanya pers yang meliput, isu yang dibawa saat performance bisa sampai juga kepada publik lain yang tidak datang pada saat aksi berlangsung. Bagi Wanggi aksi yang sering dilakukanya bukan hanya untuk Eksistensi sebagaimana yang perlu para pembaca ketahui “Street Art” bukan Mengamen tapi untuk membaca Ruang Publik dan berbagi Edukasi


Teguh Kurnia

VIOLENTUS, KEKERASAN ANAK DAN YANG TAK USAI



John Heryanto

Pertunjukan "Violentus" Fitriah Handayani. Foto: John Heryanto
Bandung, Daunjati. Kenyataan yang berlangsung di luar panggung dan teater, dekat selalu bertemu dan terikat. Keduanya tak dapat dipisahkan, dimana pelaku teater dan penonton sama-sama berhadapan dengan situasi di luar pertunjukan sebagai  yang berlangsung dalam rutinitas. Salah satunya yang marak terjadi disekitar kita, yaitu  persoalan kekerasan terhadap anak. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang 2016 kasus kekerasan anak meningkat 15 % dari tahun sebelumnya dan setiap tahunnya kasus kekerasan berjumlah puluhan ribu dan terus mengalami peningkatan. Fenomena inilah,  menjadi persoalan pada pertujukan “Violentus”, yang dipentaskan dalam rangkaian ujian Tugas Akhir (TA) gelombang 1 Prodi Seni Kriya – Fakultas Seni Rupa Desain (FSRD) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Dengan minat Tata Pentas di GK. Dewi Asri, senin malam (22/5). Lantas kenapa kekerasan anak tidak pernah berakhir? Ada apa dengan kekerasan anak? Barangkali inilah yang menjadi pertanyaan bersama antara seniman dengan penikmatnya ketika keduanya bertemu dalam pertunjukan sebagai yang dilihat dan yang melihat.

Seorang anak, secara alami akan memilih ibu. Dimulai ketika bayi dengan disentuh didekap dan dipeluk hingga seorang ibu pada akhirnya menjadi tempat sang anak untuk melekat atas pengalaman rasa aman yang tumbuh sejak dari bayi hinga usia yang dijalani. Bila sang anak absen perhatian dari orang tua, maka sang akan cendrung menjadi penyendiri dan sulit untuk percaya pada orang lain. Apalagi jika sang anak menjalani hari-harinya dengan berbagai tindakan kekerasan dari orang terdekat seperti yang diperlihatkan “Violentus”,  hari-hari sang anak menjadi darutat dan penuh kecelakan.

Pertunjukan "Violentus" Fitriah Handayani. Foto: John Heryanto

Fitriah Handayani, mencoba menghadirkan kekerasan pada anak melalui strategi ruang pertemuan. Dimana kisah menjadi pintu masuk bagi perwujudan visual di atas pangung. boneka-boneka, mainan anak semuanya memperlihatkan eksplorasi dunia seorang anak.

Satu-satunya alasan kenapa seorang ayah, ibu atau sodara terdekat menyakiti anak kecil. Ketika seorang anak kecil ingin melihat  handphon sang ibu, si ibu tiba-tiba melemparnya. Begitu juga ketika sang anak  menghampiri ayah, yang memegang laptop dan si ayah tiba-tiba melemparnya begitu saja. Semua berjalan dengan tiba-tiba dan adegan seterusnya menyiksa sang anak. Barangkali hal tersebut, salah satu dari sekian banyak cara kenapa orang menyakiti anak, dari hal yang terkecil. Soal keingin tahuan seorang anak terhadap aktifitas orang tuanya? Dimanakah seorang penonton melihat realitas di atas panggung? Bagaimana nasib sang anak dalam “Violentus”? Ia hanyalah korban dan korban dari sesuatu diluar dirinya, seseorang yang selalu terancam. Teater di sini selesai dengan membagi kisah dan memperlihatkan kekerasan yang dialami sang anak kepada penotonton. 

Pertunjukan "Violentus" Fitriah Handayani. Foto: John Heryanto
Pertunjukan "Violentus" Fitriah Handayani. Foto: John Heryanto
 “Violentus” dalam perwujudannya di atas panggung, menjadi ruang yang tak lagi akrab untuk seorang penikmat, berjarak dan hambar. Barangkali hal ini disebabkan karena laku para aktor di atas panggung yang terombang-ambing, tertimbun narasi yang dipikulnya sendiri, begitu juga dengan musik. Keduanya saling berebut tempat, mencari jalannya sendiri-sendiri.

Terlepas dari itu semua, “Violentus” telah memperlihatkan sesutu yang luput disekitar kita yaitu kekerasan pada anak sebagai  yang tak berujung dari tatapan kita.


 
alt/text gambar
alt/text gambar
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger