Headlines News :
alt/text gambar
alt/text gambar

SEKILAS SEJARAH NGABUBURIT



Salah satu aktivitas keagamaan di Sukawening-Ciwidey. Foto: John Heryanto

Sepanjang bulan Ramadhan, kata “ngabuburit” akan selalu diletakan dalam aktivitas yang dilakukan sore hari sebelum berbuka puasa / adzan magrib. Mengapa hanya aktivitas dibulan ramadhan saja yang dilakukan sore hari disebut ngabuburit? Apakah benar karena menunggu buka puasa? Apakah aktivitas sore hari ketika melakukan puasa sunah bisa juga disebut ngabuburit? 

Istilah ngabuburit mulai muncul sekitar tahun 70-an. Ketika mimbar keagamaan hadir di televisi, radio yang tayang setiap subuh dan sore, juga di koran maupun majalah ibu kota. Sehingga sebagian  masyarakat kota maupun desa, lebih memilih media masa ketimbang berkumpul di masjid-masjid maupun di madrasah. Hal ini, membawa perubahan terhadap pola dakwah yang dilakukan di madrasah-madrasah atau pesantren tradisional di pinggiran kota. Selain itu di tahun tersebut, kegiatan berserikat dan berkumpul dianggap tidak pancasila, komunis, teroris, kafir dan makar sehingga para aktivis, intelektual muda atau kalangan menengah terpelajar kota mencari cara lain untuk tetap bertegur sapa sekedar membicarakan situasi dan kenyataan yang dihadapi.

Menangapi perubahan situasi yang bergeser dari tahun-tahun sembelumnya terutama setelah naiknya Soeharto. Maka dikalangan  Pendidikan Agama yang bersipat tradisional / Pesantren di pinggiran kota muncul kegiatan  “pesantren kilat” yang kemudian menjadi kegiatan wajib ditahun 90an berdasarkan keputusan Presiden untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan dan karakter bangsa dikalangan generasi muda mulai dari SD sampai SMA. Yaitu belajar agama dalam waktu sesingakat-singkatnya;  setelah subuh, pagi, sore dan malam hari selama 20 hari. Selain menaggapi maraknya dakwah dimedia masa. Siswanya kebanyakan diikuti oleh remaja sekitar pesantren ‘santri kodok’ dan juga anak muda kota yang berpaling dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Sedangkan kalangan terpelajar kota/santri abangan memilih diskusi dengan keliling ke masjid-masjid secara diam-diam diwaktu sore, guna menghimpun masa.

Dari kedua aktivitas tersebut, muncullah istilah “ngabuburit”. Jika dikaitkan dengan situasi di tahun 70-an maka “ngabuburit” berasal dari kata “ngabubur” yang artinya mengolah gagasan ‘ngasakeun’ yang dilakukan setiap sore oleh kalangan terpelajar kota begitu juga dengan didesa mengenai agama dan realitas masyarakat. Maka “ngabuburit” di tahun 70 dan 80-an menjadi aktivitas yang rutin dilakukan, tidak hanya sekedar merawat keremajaan tapi juga memelihara kebersamaan. Hingga berbagai acara dilakukan di ruang-ruang publik khususnya di Bandung seperti "Konser Musik Ngaburit"(1975) dan lain sebagainya. Dari berbagai aktivitas sore-sore yang dilakukan secara berkala, akhirnya kata ngabuburit menyebar keseluruh Indonesia untuk menyebut aktivitas sore-sore di bualan Ramadhan. Sudahkan anda “ngabuburit” hari ini?

(John Heryanto)

GENDING KARESMEN: OPERA SUNDA YANG TERLUPAKAN



John Heryanto

;
Sebuah jalan entah menuju kemana. Foto: John Heryanto
 Itu Nyai cing itu tinggali
Ku Nyai pek tempo,
Kalangkang tѐh ѐstuning anѐh
Nutur-nutur teu welѐh ngukuntit
Cik tѐwak ku Nyai
Asupkeun kana saku. 

Begitulah seorang pemuda berujar kepada teman-temanya dalam naskah “Budak Leungit” – R. Hidayat Suryalaga (1993). Seorang lelaki yang terheran-heran melihat orang lain di air dengan wajah yang serupa dirinya. Wajah yang akrab, namun tidak saling bertegur sapa dan ketika keduanya berjabat tangan merekapun menghilang ditelan air. Apakah orang itu yang mengaku bernama sunda? Atau seseorang tak bernama dan menghilang ditelan keadaan, yang dikenal sekaligus hilang begitu saja? Kiranya begitu pula dengan nasib Gending Karesmen hari ini?

Gending Karesmen mulai muncul setelah lahirnya sastra sunda (1904) dan setelah bertemunya dengan Drama musikal/Opera yang dibawa orang Eropa di Schouwburg /Gedung Kesenian Jakarta (1821) dan Klub-Klub Hindia Belanda ‘Societe‘, dengan naskah-naskah seperti “Faust”, “Les Noces de Jeannette”, “Eerloos”, “Agon Sultan Van Bantam”, "Lakme" dll. Serta Komedie Stamboel yang muncul pertama kali di Surabaya (1891) di pelopori oleh  Agust Mahieu dengan sajian musik Mars, Polka, Keroncong, Gambus, Waltz, dan Tanggo.  Bahkan konon Bertolt Brecht, dramawan Jerman sempat mengunjungi Surabaya sehingga lahirlah lagu opera-nya yang populer di Eropa yaitu "Soerabaya, Johnny!". Ditahun-tahun selanjutnya Stamboel di Hindia Belanda dikenal sebagai Komedie Bangsawan. Ditambah dengan hadirnya pasar malam Jarrbeur di Bandung yang diselenggarakan setahun sekali bulan juni-juli, yang setiap malamnya diisi dengan konser musik Eropa dan Opera Sunda/Toenil Tembang

Sedangkan untuk pertunjukan Toenil Tembang mulai dikenal oleh masyarakat setelah pertunjukan “Lutung Kasarung” yang diangkat dari pantun dan cerita yang tersebar di masyarakat Priangan. Pertunjukan tersebut berlangsug di Pendopo Kabupaten Bandung atas prakarsa Java Institute, sebuah lembaga pengembangan ilmu pengetahun dan budaya pimpinan Prof. Hoesein Djajadiningrat (1921) dan salah satu Komedie Stamboel yang berbahasa sunda yaitu Opera Valencia / Miss Tjietjieh (1928) di Bativia/Jakarta yang bertahan hingga kini.

Gending Karesmen dulu dan kini

Istilah Gending Karesmen untuk menyebut Opera Sunda diciptakan oleh  R. Machyar Anggakusumahdinataa (1925) dan dipopulerkan oleh R Memed Sastrahadiprawira (1927). Selain Gending Karesmen, Opera sunda sering disebut pula sebagai Rinengggasari dan Toenil Tembang. Dimana teks-teks lakon ditulis dengan danding, kawih, pupuh atau puisi sunda.

Akor-aktor  Gending Karesmen tentunya tidak hanya pandai memainkan peran tetapi ia juga harus menguasi tehnik juru kawih/sinden sebab teks dilontarkan dengan dikawihkan. tentunya disertai dengan seperangkat tekhnik pemeran sebagaimana layaknya Opera dimana setiap dialog bisa berubah-rubah pupuh dan iringan raras juga jenis musik dari pengrawit mulai dari karawitan cianjuran ’setra karesmen’, degung, gamelan dan lain-lain. Sebagai gambaran dari situasi, perasaan dan watak sang tokoh ketika berada di atas pentas.

Salah satu tokoh Gending Karesmen yang paling dikenal di masyarakat yaitu Mang Koko / H Koko Koswara (1917-1987). Seniman sekaligus pemikir kesenian sunda khususnya di bidang karawitan yang menyebarkan gagasannya lewat perkumpulan seni seperti ‘Jenaka Sunda Kaca Indihiang’ (1946), Taman Murangkalih (1948), Taman Cangkurileung (1950), Taman Setiaputra (1950), Kliningan Ganda Mekar (1950), Gamelan Mundinglaya (1951), dan Taman Bincarung (1958). Serta mendirikan Yayasan Cangkurileung yang cabang-cabangnya tersebar di sekolah-sekolah se propinsi Jawa Barat, Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Bandung (1971), dan lain sebagainya.

Kini seiring dengan kepergian Mang Koko, Gending Karesmen pun seolah tidak terdengar lagi dan hanya bertahan sampai tahun 90-an, selebihnya hanyalah kisah di buku-buku yang disimpan di Perpustakaan. Atau mungkin saya yang tidak sempat menonton, semoga saja tidak terlupakan!

 
alt/text gambar
alt/text gambar
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger