Headlines News :
Home » » BAPA BANGSA DARI KOTA YANG LUPA

BAPA BANGSA DARI KOTA YANG LUPA

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 20 April 2014 | 01.14.00


Laporan dari Heritage Performance, Sel No.5 Ex. Penjara Bung Karno.


Oleh Riyadhus Shalihin

Tubuh dapat merawat apa yang telah ditinggalkan oleh waktu, apa yang tenggelam dan terhisap oleh usia. Dimana yang berlalu akan hadir dan terus diingatkan kembali, kesakitan dan lupa pada apa yang tidak seharusnya dilupakan akan menjadi lebih getir ketika tubuh melakukan pernyataan di dalamnya. Itulah tindakan mulia tubuh pada sejarah, ketika dirinya dimakan oleh waktu maka tubuh menolak untuk digerogoti, dan tubuh akan bangun, untuk terus melakukan peremajaan atas waktu.
Beberapa seniman sejak pukul 09:00 WIB, terlihat melakukan ritus di Sel No.5 Ex. Penjara Bung Karno Komp. Banceuy Permai. Jalan Banceuy No.8 Bandung. Mereka melakukan penghormatan di tengah-tengah lalu lalang pasar yang sedang sibuk memperkaya dirinya. Para seniman tersebut berkhdimat dan bersemadi untuk sejarah yang telah dilupakan oleh masyarakat, sebuah puisi tentang keengganan menengok sejarah bangsanya sendiri, kesakitan dari daging sendiri, kesakitan untuk tidak melawan apa-apa, kesakitan tanpa politik aku untuk mereka, kesakitan dari dan untuk diri sendiri. Sikap ini diambil oleh para seniman yang peduli terhadap tidak terurusnya kawasan situs sejarah, di mana Soekarno dipenjarakan oleh kolonial Belanda, dan disanalah lalu lahir teks pidato Soekarno yang paling terkenal, yaitu Indonesia Menggugat. Pembacaan teks tersebut dibacakan oleh Navajo Bima Hadisuwarno, sebuah pembacaan yang seharusnya dapat menjadi amat perkasa, namun teks-teks tersebut menjadi layu, karena ada kesedihan yang sebenarnya tidak terbacakan, kesedihan atas teks yang lelah dan tidak gagah di masa kini. Teks yang tertidur dalam pemakaman suara pasar dan teriakan jual beli di sekitar komplek Banceuy

Inggit dan sebuah kesepian dari lagu Indonesia Raya

Wanggi Hoediyatno mencoba mengelilingi tugu tersebut, berkeliling dengan sangat teratur. Kanan ke kiri, belakang ke depan, berulang-ulang, meninggalkan garis yang merintih, dan menghasilkan rotasi yang  religius. Seperti pergerakan para biksu budhha menuju kuil, seperti thawaf yang mengelilingi kabah. Serupa buana panca tengah dalam tradisi ruang di dalam khazanah sunda, axis mundi di dalam persatuan langit dan bumi. Wanggi menghasilkan keteraturan yang teramat tipis, di dalam jejak-jejaknya, ada garis yang meringis untuk ditumbuhi bunga-bunga, mungkin juga kaktus yang tumbuh dari dalam dagingnya sendiri. Tubuh yang ingin merawat apa yang ada di dalam sejarah, ketika pemerintah terlalu sibuk memikirkan iklim moda produksi dengan pendirian taman-taman hiburan, taman-taman yang memanjakan warga kota, sekelompok seniman ini serupa penjaga kebun yang tidak lelah merawat apa yang tidak menarik di mata pasar. Namun suasana di sekitar area performance tetap saja sepi dan sunyi, beberapa orang melongok heran atas tindakan-tindakan mereka, namun berlalu pergi pada akhirnya. Navajo dan wanggi serupa tubuh yang terpisah dengan satu tujuan, kita melihat wanggi dan navajo sama-sama memakai kostum yang serupa, kemeja putih, celana putih dan berkopeah hitam, namun mereka bergerak dengan ketegangan yang berbeda, tarikan antara yang dilisankan dan ditubuhkan menciptakan efek kegentingan yang sama-sama satir, dan kita berada di antara keduanya, dalam kesedihan yang tidak meminta kita untuk meringis.Wanggi terus melakukan gugatan melalui gerak yang dia lakukan, navajo terus menggugat dengan teks pidato Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Ir.Sukarno dihadapan pengadilan landraad, Bandung 18 Agustus 1930. Semakin lama semakin cepat, rutin, dan berulang-ulang, terus saja bermuntahan dari tubuh dan mulut mereka, meluber hingga perlahan-lahan menjadi hening, semakin tenang, sepi, getir dan pedih.

Apa jadinya jika Soekarno berada di jawa barat, di Kota Bandung, Kota yang dahulu membuat Soekarno menaklukan hatinya pada seorang wanita dari jawa barat, yang membuat soekarno jatuh cinta pada segala yang bernama pergerakan demi kemerdekaan, ada yang lebih membuat Bandung sekedar hanya menjadi kota bagi Soekarno, kota ini adalah rembesan dari kenangan Soekarno, muncul dari balik dinding-dinding sel.penjara yang terabaikan.Apa yang dapat menyatakannya lagi, apa yang dapat membangunkan lagi dirinya, tubuhnya, kenangannya dan segala kesedihan yang telah lapuk menjelma menjadi ngengat. Beberapa penari yang dipimpin oleh Akuy Muttaqin, mencoba menerbos masuk kembali kepada pengalaman tersebut, masuk perlahan-lahan dan menusuk di dalam tugu yang mereka kitari. Lengang dan luas, mereka menempati satu persatu titik yang ada di sekitar tugu, mengambil posisi hingga akhirnya terdengar suara gentra musik, dengung dari degung dan juga tetabuhan khas tradisi jawa barat. Mereka seakan membasuhi tugu tersebut menghadirkan kembali genangan-genangan kenangan, dengan gerak yang mereka ciptakan, tarikan antara ketidakpedulian mereka yang ada di sekitar, tepukan atas keasingan, dan keanehan dari mereka yang skeptis pada apa yang sedang dilakukan. Kita tidak bisa memaksa masyarakat untuk mau mengerti tentang apa yang ingin disampaikan oleh sejumlah seniman tersebut, tapi kita bisa memaksa mereka untuk mengerti tentang arti sebuah tangisan dari tanah yang telah mereka injak, arti dari keringat atas rumah yang mereka tinggali, dari seorang lelaki yang dahulu terkurung dan terpenjara di dalam sel, yang kini ditinggalkan oleh jeritan harga-harga, dan mereka yang berlarian di pasar menggantungkan harga dirinya di dalam etalase dagang.


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger