DARI UNORIGINAL SAMPAI VIOLENCE



Pameran Seni Rupa Un Original


(Laporan artventure Daunjati)
Oleh John Heryanto

            Perempuan telanjang itu terharu menyaksikan seorang laki-laki kencing dengan lampu-lampu berwarna biru di depan wajahnya, ia berkaca-kaca dengan jempol yang diacungkan
.
            Itu adalah instalasi di pintu masuk ruang pameran Asmudjo Jono Irianto di ruang galeri Selasar Sunaryo yang tampak profan meski sebetulnya itu sudah menjadi kebiasaan setiap orang diwaktu kecil bahkan tak sekedar kecing di muka ibu tapi juga kencing di tubuh ibu, tapi masalahnya bagaimana hal itu bila dilakukan oleh lelaki dewasa di depan perempuan dewasa pula yang tidak saling kenal dan dilakukan di ruang publik mungkin itu yang menjadi sesuatu yang seronok.
           
Bukankah menciptakan karya seni itu seperti pula kencing atau berak, sebuah aktifitas untuk memuntahkan segala yang ditanam di kepala sejak mengenal dunia terutama bangku sekolahan dengan segudang teori dan dogma. Sebuah keterpengaruhan mungkin lebih tepatnya untuk mengatakan bahawa pameran unoriginal sin: art in expired  yang setidaknya menjadi implementasi selera personal Asmudjo pada teknik penciptaan karya seniman-seniman seperti Cristian Boltanski, Kara Walker, Chuck Close, Marin Puryear dan lain-lain.
Sebuah instalasi yang dipajang di ruangan berdinding hitam tentang seorang laki-laki yang terpesona melihat kotak-kotak kaca dengan  gambar pohon diatasnya dimana lampu-lampu taman di pasang dikeduanya dengan menyala bergantian yang disatukan kabel-kabel listrik, seolah- olah ingin menegaskan bagaimana sebuah transformasi pengetahuan itu berlangsung begitu saja secara alamiah seperti halnya adam yang memakan buah buah khuldi/ pohon ilmu pengetahuan dan kiranya begitulah sebuah keterpengaruhan itu berlangsung dalam unoriginal dimana asmudjo begitu perpeksionis terhadap peniruan yang secara ironis diakuinya pula berdasarkan selera personalnya dengan tidak pula menjustifikasai bahwa karya-karyanya mewacanakan hal-hal tertentu, alamiah adalah kata yang paling tepat untuk mengatakankan bagaimana karya Asmudjo itu jujur.



Pameran Seni Rupa Soft Violence
          
  Ada begitu banyak kepala yang pecah dikertas seperti lelehan ice cream dan semua orang dalam aktifitas apapun baik bersepeda, bercinta dan berkumpul semua kepalanya pecah. Sebuah kekerasan dengan rasa manis semanis ice cream dengan berbagai rasa ada vanilla, stawberry dll. Itulah sekilas pameran soft violence/ Muhammad Taufik di platform3 yang berlangsung dari tanggal 15-30 April.
Segala apa-apa yang ada dan menjadi sebuah keyakinan maupun pemahaman pada mulanya bersumber dari pikiran dan dari pikiran itu pula segalanya mewujud berdasarkan kehendak dan ide. Maka segalanya mestilah kembali ke asalnya seperti pula gambar-gambar need (series), Ronald & nancy, once a cheater – al wayer a character, dll. Gambar-gambar yang dihadirkan tentunya tidak jauh dari aktifitas manusia namun menjadi jarum-jarum yang menusuk ketika semua kepalanya pecah, cat-cat air itu meleleh sehingga tak mampu dikenali lagi identitasnya kecuali asal usul gambar yang membentuk yaitu cat air itu sendiri, disini mungkin benar bahwa tubuh hanyalah penjara bagi jiwa yang bebas.
             
Seni memang sebuah dunia rekaan yang diciptakan senimannya namun tentu saja bukanlah tiruan dari pada kenyataan, namun manakah yang lebih menarik bagi seorang pengunjung pameran seperti saya ketika memasuki galeri, mungkin akan bertanya manakah yang lebih memikat apakah galerinya atau karya yang ada di galerinya?
Terlepas dari itu semua tentu saja ada kebenaran-kebenaran yang apresiator terima dari kebenaran seorang seniman yang menjadi kebenaran bersama.

Seni adalah kebohongan-kebohongan yang menunjukan pada kebenaran
(Picaso)









           

Related

Seni Rupa 7780504145286085247

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item