Kematian esensialisme dari mustahilnya kebersihan seni

 

Oleh Riyadhus Shalihin

Bagaimana kita sebagai penikmat seni memaknai  sebuah “durasi” yang sedang berlangsung di dalam karya seni, terutama “durasi” yang hadir di dalam sebuah seni pertunjukan, hingga akhirnya bagaimana kita sebagai pembaca pertunjukan membawa “durasi” tersebut ke luar gedung pertunjukan.

Durasi setelah pertunjukan perlahan-lahan akan berganti muka menjadi persepsi, diam-diam dirinya akan mencoba mengakar, menginterogasi dan menciptakan ideologi, dirinya lalu akan menyiapkan diri untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang lebih luas, durasi itu kini tidak hanya akan berbicara dengan penonton yang hadir di dalam gedung pertunjukan saja, dirinya akan bertegur sapa dengan istri, anak, saudara, tetangga, teman, rekan kantor, teman kuliah dan seluruh kerabat para penonton pertunjukan, durasi itu akan bekerja terus menerus, dirinya akan terus mempublikasikan politisasi persepsi yang dibentuk oleh seniman,  dirinya akan dengan gigih menyebarkan apa yang diidealisasi oleh seniman, meskipun pertunjukan itu telah selesai, meskipun sang senimannya sendiri sudah tidak perduli lagi dengan karyanya, durasi itu akan terus bergerak, mengendap dan hidup.

Durasi setelah pertunjukan mempunyai syahwatnya sendiri-sendiri, durasi itu dibalut oleh kepentingan yang berada di baliknya, entah itu seniman, produser, pemilik dana ataupun sekelompok massa yang mempunyai ideologi tertentu dan memanfaatkan seniman sebagai alat untuk mengkamuflase ideologi di dalam kostum bernama seni. Akhirnya, bagaimanakah seorang penonton sebagai individu yang hidup memaknai rekayasa-rekayasa tersebut, dan dimanakah letak individuasi seorang penonton menghadapi karnaval kebohongan yang sedang bergerak di atas panggung.

Ilmu menipu dari semiotika seni yang basi

“aku pembaca” sebagai subjek aktif telah dilucuti menjadi “aku penonton”, kita menjadi konsumen sekaligus tawanan yang dipasifkan oleh kepentingan-kepentingan di balik pertunjukan, kita menjadi pasif sebab telah lebih dahulu larut dengan apa yang ada “di depan pertunjukan”, dan sebagai penonton kita tidak pernah peduli dengan apa yang ada “di belakang pertunjukan”, jika peristiwa yang sedang berada di depan pertunjukan selalu berusaha “menciptakan puisi” dan metafor yang indah untuk melenakan para penonton, namun apa yang ada di belakang pertunjukan selalu “menampilkan sisi prosaik” dari karya seni, baik itu kegelapannya, kemuramannya, tipu dayanya, intrik dan seluruh sikat sikut produksinya, bahkan kisah dari belakang pertunjukan selalu berhasil menguak sisi-sisi penumbalan dari tidak puitisnya produksi seni itu sendiri.

Mengkaji apa yang ada di belakang pertunjukan adalah sebuah tindakan kritis seorang penonton yang menolak tunduk pada ceramah seniman, sebuah tindakan investigatif yang tidak lagi percaya bahwa seniman adalah tabib, seniman adalah penyembuh dan kaki tangan tuhan, tindakan ini juga memancung itikad  Plato yang menyusun konsepsi bahwa negara akan sempurna apabila dipimpin oleh Filsuf dan Seniman, kini bahkan filsuf dan seniman tidak seutuhnya menampilkan dirinya sendiri, ada permainan di depan dirinya, permainan yang diciptakan dari  belakang pertunjukan, mereka ternyata hanya bermain dengan berbagai media yang dia ciptakan di luar tubuhnya, baik itu bahasa ataupun karya seni, Para Seniman Hegelian akan kesal dengan tumbuhnya individuasi penonton seperti ini, sebab kesejarahan seniman yang absolut, seni yang menyejarah dan menciptakan kesempurnaan kini musnah dan berkecambah menjadi partisi-partisi kecil di dalam otak penonton, menjadi tafsir-tafsir kecil yang lebih sederhana dan biasa saja.

Tindakan ini memanusiakan kembali kesenian itu sendiri, bahwa seni berasal dari manusia, esensialisme mati dalam tesis ini. Antara penonton dan seniman tidak ada bedanya, maka apabila seorang seniman mempunyai otoritas berceramah maka seorang penonton pun memiliki otoritas mengkaji dan menyaring teks-teks yang diidealisasi oleh seniman, berbagai teks yang sudah dipoles dan diberi gincu-gincu pertunjukan.

Ini adalah keseimbangan yang menjadikan seniman sama saja dengan manusia lainnya, tindakan ini saya kira akan lebih menyehatkan seni itu sendiri,  apabila kita mengingat pada masa pra-1998, para seniman memang menjadi corong dan suara masyarakat, di sana represi pemerintah menjadi lahan basah bagi para seniman untuk menampilkan dirinya sebagai subjek heroik, sikap ideal seniman pada masa ini cocok dan kontekstual, namun setelah terbitnya masa kebebasan berkesenian, setelah Soeharto lengser kerprabon, setelah pintu Hak Azasi Manusia atas nama seni terbuka, kita mengalami banjir ceramah seni yang dimuntahkan oleh para seniman, banjir ini terjadi di berbagai bidang, lalu siapakah yang menjadi panelis pembanding bagi seniman itu sendiri, dan yang paling genting adalah “apakah aku-kebenaran kini dipegang oleh aku-seniman”, hal ini saya sebut sebagai politik seni jenis pertama.

Secara sederhana seniman berkarya untuk mengkritik apa yang dia rasa tidak sesuai dengan apa yang diidealisasinya, lalu dia hadirkan dalam sebuah karya seni, namun di sini timbul pertanyaan, apakah karya seni yang dia tampilkan itu selaras dengan apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat banyak, apakah yang dia ciptakan di atas panggung sudah sesuai dengan gerak sejarah yang terjadi di luar panggung, di tengah proses monolisme tersebut, hadir  seorang kritikus yang mempunyai beban untuk mengingatkan seorang seniman akan resiko-resiko petualangan yang dilakukannya, kritikus bertindak seperti ilmuwan yang melakukan falsifikasi karya seni, di sini seniman tidak bisa lagi menganggap dirinya sebagai pahlawan masyarakat, dan tanggung jawab terbesar seorang kritikus-lah untuk menganalisa kohergensi yang ada di dalam realitas masyarakat dengan realitas seni yang diciptakan oleh seniman, lalu dialektika pun akan terus terjadi, seniman menciptakan karya lalu sang kritikus menganalisa serta membantu seniman memahami realitas sosial di luar karya, tentu ini sudah seimbang, namun apabila gerak ini hanya terjadi antara seniman dan kritikus, maka akan ada subjek yang tertinggal di sini, subjek yang tertinggal tersebut adalah  masyarakat yang hingga kini masih hanya sebagai subjek penikmat/penonton bukan sebagai subjek yang aktif berfikir, dan pada akhirnya dialektika yang hanya terjadi antara seniman dan kritikus pun akan menjadi kebenaran baru, monolisme baru.

Menumbuhkan kritikus organik, menuju masyarakat meta-kritik.

       Kenyataan seperti ini akan menjadi dilema baru, sebab pada akhirnya kebenaran pun hanya akan dimainkan oleh seniman dan kritikus, lalu di manakah subjek warga sebagai salah satu entitas penting dari sebuah proses pertunjukan sebagai proses kemanusiaan, sebab di sini penonton sebagai salah satu entitas ‘kemanusiaan’ diasingkan oleh politik seni jenis kedua ini. Jika kita hanya berharap pada kritikus untuk meresepsi dan mengkritisi ceramah-ceramah seniman, maka akan terjadi lagi politisasi persepsi yang hanya dimainkan oleh beberapa pihak, kebenaran tetap saja akan menjadi monolitik, seniman mengeluarkan karya, dan kritikus mengomentari, dan pada akhirnya lagi-lagi masyarakat hanya jadi penonton, sebuah sikap ganjil di tengah hingar-bingar era yang mengagungkan H.A.M, hak seorang penonton seharusnya memilik porsi yang sama dengan hak berceramah seniman dan hak berkomentar kritikus seni, di sinilah sikap investigatif “penonton” sebagai seorang “pembaca”
  akan menjadikan seni lebih sehat dan kebenaran akan menjadi lebih manusiawi, lebih plural.

Mustahilnya kebersihan seni

Secara spesifik saya menyebutnya dengan nama “Durasi Politik sebelum, saat dan sesudah, pertunjukan”, durasi yang tidak kita sadari itu meresap dan menjadi persepsi hingga akhirnya menjadi ideologi dan cara hidup, seni menjadi radikal, menjadi gerakan yang tumbuh, diam-diam menggerogoti otentitas penonton sebagai subjek berfikir. politisasi perspesi ini banyak dimainkan oleh konseptor pertunjukan, yang bisa disebut sebagai sutradara, koreografer, pelukis dan apapun panggilannya, durasi ini hadir baik di dalam seni rakyat, seni kotemporer bahkan di dalam tayangan tayangan pop yang ada di televisi, tulisan ini saya buat sebagai tindakan kritis para penonton untuk tetap terjaga dari segala strategi politis yang berada di balik pertunjukan, sebuah tindakan agar para penonton tetap ‘menjadi aku’, di tengah-tengah durasi politik yang berada di balik sebuah karya seni, agar seniman tidak menjadi pengampu kebenaran, agar penonton  memiliki daya regresi menakar para politikus seni, para produser seni, para foundation seni, dan para pihak yang berada di balik sebuah penyajian karya seni.
Kini seni tidak lagi hanya berbicara indah dan tidak indah, namun di dalamnya  ada hal lain yang lebih rumit, lebih bertendensi, lebih politis, kepada segala hal yang telah saya paparkan di atas, saya mengucapkan selamat datang di dalam panggung seni yang penuh intrik, penuh desas-desus, tumbal-menumbal, saling menghidupi juga saling mematikan.

 

Related

Teater 4773732187911811775

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item