MENGAPA MESTI MENULIS PUISI








Oleh John Heryanto

Mengapa mesti menulis puisi? Itu adalah salah satu dari sekian banyak jawaban kenapa aku bernama John Heryanto selain pertanyaan dari pada kenapa nanti ada kiamat dan akhirat.
Mengapa mesti menulis puisi? Itu sama dengan mengapa ada perang? Mengapa PKL terus di gusur? Mengapa ada pengangguran? Mengapa ada kemiskinan? Mengapa ada korupsi? Dan mengapa ada Indonesia?
Mengapa mesti menulis puisi? Mungkin pula karena ada orang yang membaca puisi, tapi kenapa orang mesti baca puisi?
Mengapa mesti menulis puisi? Apakah karena sekedar mengisi waktu luang yang kosong atau memeng karena tidak ada pekerjaan lain selain dari pada tidur, nongkrong, ngerumpi, nonton tv, facebook, dan lain-lain?
Mengapa mesti menulis puisi? Bukankan nenek, kakek, ibu, bapa, paman, bibi, keponakan dan tetangga rumah juga tidak menulis puisi?
Mengapa mesti menulis puisi? Apa karena waktu kecil ketika ada samenan madrasah diniah disuruh membaca nadom dan puisi oleh guru ngaji.
Mengapa mesti menulis puisi? Apa karena waktu duduk di bangku sekolah SD ada pelajaran bahasa Indonesia, dimana didalamnya ada apresiasi puisi?
Mengapa mesti menulis puisi? Apa karena jatuh cinta pada perempuan atau patah hati sehingga perlu menulis puisi sebagi ungkapan perasaan?
Mengapa menulis puisi? Apa karena ada majalah dan koran yang memuat puisi, dan mengapa koran atau majalah memuat?
Mengapa menulis puisi? Apa karena ingin membuat buku antologi puisi, lalu mengapa mesti dibikin buku?
Mengapa menulis puisi? Apa karena kuliah di jurusan sastra sehingga berkewajiban menulis puisi lalu mengapa memilih fakultas sastra?
Mengapa menulis puisi? Bukankan kuliah di teater, mengapa di jurusan teater?
Mengapa menulis puisi? Apakah karena pelarian atas ketidak mampuan dalam menghadapi kenyataan hidup sehingga perlu dicatat semacam curhatan?
Mengpa menulis puisi?
Apa karena tiba-tiba saja ingin menulis tanpa alasan yang jelas hanya keinginan yang tanpa alasan?
Menulis puisi, menurut saya bukanlah semata-mata mengandai-andai atau membayang-bayangkan sesuatu di luar jangkaun manusia atau menciptakan ralitas baru dari hasil tiruan alam (mimetis), tentu saja tidak sebab puisi tak akan mampu menandingi idahnya kuncup bunga yang mekar dipagi hari.
Menulis puisi adalah membagun dunia atau kehidupan lain diluar dari pada yang bersipat materialis dimana dunia dibangun dari kemungkinan-kemungkinan yang tanpa batas.
Menulis puisi adalah sebuah upaya pengekalan dari ingatan-ingatan semacam pemeliahran akal demi kebijaksaaan seperti halnya kepercayaan

Related

Sastra 3370775365519030304

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item