SUNAT





Oleh Riyadhus Shalihin

Adimas merasa bahwa dirinya belum juga dewasa, sebab sampai umur 15 tahun, dirinya belum juga disunat, Adimas malu, dia memilih berdiam di bale daripada keluar pendopo. Lah, kalau keluar, Adimas mengkerut, apalagi kalau papasan sama gadis-gadis pengajian, bisa-bisa Adimas lari terbirit-birit menembus hutan, nah khawatirnya itu, akhir-akhir ini terkadang terdengar suara Adimas meringis kalau lagi di kamar mandi, biasanya diakhiri lolongan panjang yang miris. Sudah sebulan Adimas melamun, ngimpi-ngimpi, ingin seperti bapanya yang perkasa, Raden Joko Marwoto, pamong keraton kasunanan. Ya, tapi apa mau dikata, Soyo Boyo, tukang jagal titit desa baru saja meninggal 4 hari yang lalu. Semenjak hari kematian Soyo Boyo, Adimas sering ngigau jadi golok, nabrak kentongan mushalla.
 Suatu ketika bapanya bercerita, “Adimas, bapa menjadi lelaki terpandang, sebab bapa sudah disunat pada umur 1 tahun”, Adimas yang belum mengerti bahasa, memilin-milin kemaluannya, seperti memilin pakaian basah, beberapa gadis yang sedang bermain congklak terpingkal melihat tingkahnya, bapanya pun menyentil kemaluan Adimas, Aw,Raden Joko Marwoto kembali dalam posisi teguh, tegar seperti bisma, bercerita kembali, “Adimas, semenjak disunat, bapa seperti tercerahkan, bapa dapat menjadi lelaki yang sopan, lelaki yang bergairah, lelaki yang punya tujuan hidup, dan yang paling membanggakan bapa diakui sebagai lelaki dewasa”, Adimas termenung, lalu kembali memperhatikan kemaluannya yang serupa kuncup melati, tidak lama kemudian,  Adimas berlari ke arah para gadis, kemaluannya terlempar-lempar, para gadis menjerit, berlari, hingga berhamburanlah  bola-bola congklak, “Aku mau dewasa”, teriak Adimas sambil mengejar para Gadis.
***
“Haduh pa Marwoto, susah banget nih ya anakmu ini, aku udah nda sanggup lagi, masa sudah umur 8 tahun, mengeja abjad saja to ga bisa sih pa”, Pa Hadiyat, Guru Bahasa Indonesia, terlihat frustrasi, namun Raden Joko Marwoto tetap teguh dan tegar seperti bisma,“Pa Hadiyat janganlah menyerah, kita sebagai pria-pria yang sudah disunat, haruslah tabah menghadapi situasi seperti ini, malu sama Pa Soyo Boyo pa”, Pa Hadiyat seakan teringat sesuatu“ Haduh, pa Marwoto, ngomongin sunat, aku jadi lupa belum nyunat anakku yang kedua, lah bentar lagi muharam toh ”, Raden terpandang itu bingung, “Oala anakmu itu berapa tahun to pa”, Pa Hadiyat malah tertawa“alah baru saja 2 tahun, eh tapi sudah bisa ngomong loh, lah itu lanangmu itu sudah 8 tahun ko belum juga disunat to pa”,mendengar jawaban temannya, Raden Joko kini mulai terlihat tidak tegar, “Pa Hadiyat, jujur ni ya, aku itu bingung, lah dia itu nda mau disunat sunat juga”, Raden gagah itu mulai merajuk, membanting vas di meja, “loh-loh kenapa to pa”, Raden itu meleleh di lantai, “ dia itu maunya lari-lari terus, ke sana kemari, susah diatur, kaya ga tau moral, dan sopan santun saja, padahal sudah 8 tahun”,Guru Bahasa Indonesia yang sederhana itu tidak kuasa melihat Bhisma meringis ” Oalah toh pa, sabar pa, sabar pa”, Raden gagah itu tidak menggubris perkataan Pa Hadiyat dia terus sesenggukan memikirkan anaknya yang mungkin kini masih di jalanan memainkan kemaluannya.
Raden yang tegar itu teringat bagaimana santunnya dirinya, bagaimana dia hormat kepada ayahnya, pada eyang kakung, pada pa’le towo, pada mbah jilan, suster yang merawatnya dari kecil. Dia teringat bahwa setiap penduduk Cakil Bondo mengenangnya sebagai lelaki yang patuh aturan. Setelah dirinya disunat, seluruh warga RT 03 berbaris di depan pintu rumahnya masing-masing, Marwoto kecil berjalan tegap menantang, dia angkat sarungnya tinggi-tinggi, seluruh warga membungkukan badan dan mengucap haru, “Marwoto telah tercerahkan, marwoto siap menjadi dewasa”, Marwoto kecil tidak mengerti, karena dia belum bisa bahasa, namun dirinya tetap bangga, dan kini dia menyesali kenapa tidak menyunat anaknya sejak kecil saja. Dirinyamenyesal, namun tangisnya tidak sanggup mengiris daging kecil di selangkangan Adimas.
***
Pemerintah mencanangkan program berantas buta aksara, desa Cakil Bondo tidak lepas dari sasaran program, di mana-mana tampak papan kayu besar-besar, di sana dituliskan “Bahasa akan menuntunmu menjadi manusia”, atau seperti yang dituliskan di depan rumah cantrik desa, “Bahasa akan membuatmu masa depanmu cerah”.
Melihat semua geliat itu, Raden Marwoto semakin gelisah, tapi bagaimanapun juga Raden Marwoto tetap harus membiayai hidupnya dan  hidup anaknya, malam itu dia bergegas naik andong menuju keraton, Nyi Ratu akan melahirkan anaknya yang ke 2, maka sudah tugas pamong untuk menjaga dan mengantarkan keselamatan Nyi Ratu. Sementara itu Adimas masih tertidur di dalam kamar. Mendengkur di dalam kelambu putih, nguyek-nguyek, sudah seminggu ini Adimas bermimpi menjadi golok, dia menabrak-nabrakan dirinya ke tiang rumah, ke kentongan mushalla. Dan malam itu, Adimas kembali terbangun, mimpinya menuntun Adimas keluar kamar, menabrak-nabrak kayu pendopo, lalu terhuyung-huyung di jalan. Adimas meliuk-liuk di jalan, hingga terantuk di sebuah papan besar, samar-samar Adimas membuka mata, malam baru saja membuka dirinya, tiba-tiba terdengar suara-suara orang menjerit, merintih, Adimas semakin senang, segala yang aneh membuat dia senang, maka dia pun masuk ke pekarangan rumah itu,perlahan-lahan terdengar suara macapatan, suara gamelan yang mengalun, dan diakhiri suara gong yang menggema, terdengar juga suara sinden yang melantunkan kawih. Begitu dia membuka pintu yang ke 5, bau menyan menyelusup ke dalam rongga hidung Adimas, lalu dia berjalan pelan-pelan menyusuri tangga yang menuju ke bawah, lalu Adimas melewati sebuah lorong, terlihat huruf-huruf alphabet, dicoret-coretkan dengan asal. Adimas semakin penasaran, meski suara dalangmulai membuat bulu romanya bergidik. Lalu dia berhenti di sebuah pintu jati besar, suara orang menjerit kembali terdengar, suara merintih menahan sakit, suara gamelan yang mendengung, bayang-bayang orang yang memantul di dinding lorong, membuat Adimas ingin melihat apa yang terjadi di balik pintu tersebut, tak disangka pintu jati bergerak, ada yang hendak keluar dari dalam. Adimas bersembunyi di salah satu meja, terlihat seorang pria dewasa yang kesakitan, itu kan cak hanung, Adimas ingin memanggil tetangganya yang tukang soto itu, tapi dia tidak kuasa karena cak hanung menjerit-jerit kesakitan, dia memegangi kemaluannya, darah menetes dari pahanya, Adimas tertegun, matanya menyorot dengan tajam, jantungnya berdegup kencang, dia ingin berlari, tapi cahaya lorong kembali gelap, pintu jati itu kembali menutup diri. Adimas pun segera mencari-cari lubang di sekitar tembok lorong, satu celah kecil terlihat menyempit. Adimas menempelkan mata kirinya ke celah itu, bola matanya melolong, dan dari balik lubang tersebut Adimas menyaksikan proses pendewasaan manusia, ranjang-ranjang putih dibariskan, para pemain gamelan khusyu bermain, Sinden terlihat sedang merapikan make up wajahnya, para lelaki dewasa menjerit menunggu giliran disunat, sembari disayat, mereka mengucapkan, A,B,C,D,E,F,G,H,I,J hingga Z, di sisi kiri dan kanan, terlihat beberapa orang yang memakai jas, duduk santun di balik meja dengan susunan buku-buku tebal, mereka semua berkulit merah, dengan mata yang biru, tiba-tiba dari kanan dan kiri datang seorang lelaki memakai lurik dan kain kebat, membawa piring-piring besar, dan botol-botol minuman, Adimas menerobos keterbatasan matanya, lalu dia melihat kulitan-kulitan daging yang tersayat di atas piring tersebut, di antara orang-orang itu terlihat Pa Soyo Boyo sedang mengasah pisau sunatnya, Adimas merasa pusing, lorong ruangan tiba-tiba memlintir kepalanya, samar-samar terdengar suara “Aku siap tercerahkan”, “Aku tercerahkan”, bau masam darah menusuk hidungnya, Adimas mencoba keluar dari lorong itu, dia menapaki satu persatu pintu, hingga terdengar suara bapanya yang memanggil-manggil, suara itu menggaung, Adimas merasa malam serasa runtuh di kepalanya.
***

Program berantas buta aksara benar-benar berhasil, seluruh penduduk desa Cakil Bondo kini bisa berbahasa yang baik dan benar, desa Cakil Bondo menjadi desa teladan, contoh kesopanan. Lalu tahun ajaran ketiga pun berlalu, para murid SMA Santo Carolus berhamburan dari dalam kelas, mengambil raportnya masing-masing. Wajah mereka sumringah dan penuh ambisi, jalan mereka tegap, membusung tanpa ragu. Mereka memegang bundel merah di tangannya masing-masing, mereka saling bercakap-cakap, tentang masa depan, tentang peperangan, tentang wanita, tentang wine dan steak. Jalan-jalan dipenuhi dengan sorak sorai kegembiraan, di mana-mana kaum muda merayakan hari mereka, soda dan pesta tidak pernah berhenti, harapan dan impian menguap di udara, namun dari ujung jalan tiba-tiba terlihat seorang lelaki yang berlari-lari, melambung dan meloncat, melesat, menabrak-nabrak orang-orang yang sedang berjalan, dia mengucap-ucapkan kalimat yang tidak jelas, terkadang mengaduh, berteriak lalu kejang-kejang, setiap bertemu dengan lelaki, segera dia pegang kemaluan lelaki tersebut, lalu tiba-tiba dia menjerit, begitu seterusnya hingga dia berlalu, melesat ke arah jalan utama. Beberapa orang terheran, namun mereka tetap tenang, mereka bercakap dengan tegar seperti bhisma, “Maaf menggangu, Apakah kamu tahu siapa manusia yang baru saja berlari tersebut wahai temanku”, dengan tegap seorang pria lain menjawab penuh dengan kewibawaan  “menurut informasi yang saya terima, dirinya adalah manusia yang menolak untuk berbahasa, menolak untuk dicerahkan seperti kita wahai temanku”.

Related

Cerpen 8674303983860584930

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item