Headlines News :
Home » » CATATAN KECIL YANG TERLUPAKAN

CATATAN KECIL YANG TERLUPAKAN

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 20 Mei 2014 | 00.25.00

 

Sebuah Pandangan Terhadap Gerakan Mahasiswa[i]

Oleh Dian Ardiansyah
 
Tepat 16 tahun yang lalu – tentu saja masih dapat kita ingat dengan jelas – gelombang aksi mahasiswa berhasil menumbangkan sebuah rezim yang berkuasa selama 32 tahun. Kekuatan besar itu dapat tercapai ketika seluruh mahasiswa pada saat itu memiliki musuh bersama yang kemudian membentuk kesadaran bahwa mereka harus menumbangkan rezim itu. Bukan hanya kalangan mahasiswa saja terjadi aksi yang luar biasa massive, pada saat itu buruh juga merupakan elemen besar dalam menghancurkan rezim Soeharto. Jika dikaji ulang, maka gerakan pekerja sudah bisa ditarik jauh hari sebelum aksi Mei ’98. Masih segar didalam ingatan kita perihal kasus Marsinah yang hingga hari ini tidak kunjung terpecahkan. Atau perihal hilangnya Wiji Thukul yang sekarang jargonnya dipakai di hampir seluruh elemen gerakan. Dan begitu banyak kasus pekerja yang melawan pabrik di zaman pra reformasi.

Sekarang kita bergerak maju ke saat sekarang, tahun 2014, apakah yang terjadi pada gerakan Mahasiswa? Masihkah gerakan mahasiswa memiliki musuh bersama? Atau masihkah memiliki tujuan bersama? Ternyata sejarah kemenangan kaum terpelajar ini di tahun 1998 semakin lama semakin menyusut euforia nya. Pasca reformasi, setiap anak SMU yang masuk ke level perguruan tinggi selalu bercita – cita menjadi aktivis karena terpengaruh kisah heroik para mahasiswa yang berdemo di depan komplek Senayan. Tak bisa dipungkiri, dampak tragedi ’98 ternyata begitu besar pengaruhnya bagi cara pandang anak – anak SMU yang akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Akan tetapi, seiring sejalan dengan waktu yang menggerus, dan juga pemerintah dan kebijakannya yang berganti dan cenderung mengekang gerakan mahasiswa, maka runtuhlah kebanggaan gerakan mahasiswa. Gelar agent of change yang dulu melekat pada mahasiswa berubah menjadi agent of hedonism, agent of skepticism, atau juga agent of capitalism?

Berbanding terbalik dengan gerakan mahasiswa, justru gerakan buruh semakin menguat di Indonesia. Aksi Mayday selalu jadi tolok ukur bagi gerakan buruh atas kekuatan yang mereka miliki. Dan hal ini terbukti ketika setiap tahunnya aksi Mayday semakin dipadati pekerja yang ikut menyalurkan aspirasi dan tuntutan mereka. Buruh mulai bergeser dari kelas yang selama ini dipinggirkan baik itu oleh pemerintah maupun oleh masyarakat itu sendiri (walaupun banyak sekali kalangan masyarakat itu sendiri berasal dari buruh juga) menjadi kelas yang diperhitungkan. Mulai ada semacam ketakutan dari pemerintah terhadap gerakan buruh, mulai ada kesadaran jika gerakan buruh bersatu maka mampu menggoyang pemerintahan. Buruh mulai dapat memaksakan perubahan perlahan – lahan walaupun masih dalam skala kecil dan terkadang masih sering dipermainkan oleh kebijakan – kebijakan.
Jika kita melihat tujuan gerakan mahasiswa dan buruh, tentu saja kita akan menemukan perbedaan yang sangat signifikan, perbedaan yang berjarak antara langit dan bumi. Perbedaan yang paling mencolok adalah permasalahan hak normatif. Hal ini adalah hal yang paling mendasar dalam gerakan buruh. Selalu terjadi permasalahan antara buruh dan perusahaan tentang hak normatif buruh yang jauh dibawah UMR dan UMK. Sekarang kita lihat permasalahan – permasalahan yang ada di mahasiswa: Kurikulum, kenaikan SPP, Beasiswa yang macet, pembredelan organisasi mahasiswa, dan lain – lain. Permasalahan ini mungkin telah menjadi masalah penting di mahasiswa, hanya saja tidak se esensial permasalahan hak normatif buruh yang berhubungan dengan berjalannya produksi rumah tangga mereka.
Kebanyakan mahasiswa saat ini tidak berusaha untuk menganalisis apa yang sedang terjadi dalam sistem pendidikan di tempat mereka belajar. Mereka dibutakan oleh janji – janji fasilitas yang diberikan oleh pihak kampus tempat mereka belajar. Sebagian dari mereka memang berfikir pragmatis, sekolah/ kuliah hanyalah untuk meraih gelar dan mendapatkan pekerjaan yang menurut mereka layak dan bergaji besar. Cara berfikir seperti inilah yang nantinya menghasilkan penerus – penerus kaum borjuis dan kapitalis. Banyak juga diantara mereka yang merasa tidak penting untuk berada di dalam organisasi kemahasiswaan karena dianggap membuang – buang waktu dan juga ketakutan mereka terhadap dosen – dosen mata kuliahnya yang akan memberikan nilai rendah pada mereka karena aktif di organisasi. Sementara jika di kalangan pekerja, hal yang membuat mereka terkadang takut untuk bergabung ke serikat adalah karena ancaman PHK.
Jika dilihat dari kacamata awam, sebenarnya permasalahan mahasiswa di kampusnya adalah sangat tidak esensial. Permasalahan nilai A,B,C,D,E dari dosen, permasalahan beasiswa dan SPP, permasalahan kurikulum dan lain – lain agaknya menjadi belum seberapa dengan apa yang menjadi permasalahan pekerja di pabriknya. Gaji yang tidak mencapai UMK dan UMR (Upah Layak), permasalahan outsourcing buruh yang semakin banyak, Jaminan Sosial, dan sebagainya adalah masalah yang berhubungan dengan permasalahan roda produksi rumah tangga mereka, yang apabila salah satunya diabaikan akan membuat permasalahan baru dalam rumah tangga mereka.
Tulisan ini hanyalah berusaha memberikan kilasan masalah antara apa yang terjadi di gerakan buruh dan mahasiswa sangatlah berbeda jauh. Mungkin ada yang harus dipahami oleh mahasiswa adalah, pola gerak mereka tidak akan sama dengan gerakan buruh, karena mahasiswa sendiri pada prinsipnya tidaklah sama dengan buruh, walaupun mungkin ada banyak mahasiswa yang merupakan anak dari buruh pabrik. Akan tetapi, kehidupan pabrik dan kampus sangat berbeda jauh dan problematika yang dihadapi juga berbeda jauh. Mahasiswa masih hanya sekedar memberikan empati mereka pada gerakan buruh, mereka belumlah lagi menjadi gerakan yang sejalan dengan gerakan buruh baik secara gagasan, analisis, pola gerakan, hingga capaian tuntutan. Mahasiswa masih hanya sekedar orang kedua dari buruh yang  - terkadang – mencoba coba untuk tahu dan terlibat pada permasalahan buruh.
Ketika pola gerakan dan tujuan gerakan disadari, maka akhirnya mahasiswa harus pahami betul bagaimana mereka seharusnya bekerja. Siapa lawan mereka sebenarnya. Dan untuk apa gerakan mahasiswa itu ada. Artinya sebuah gerakan mahasiswa bukanlah gerakan reaksioner yang hanya merespons kebijakan sesaat, tetapi seharusnya lebih pada gerakan aksi yang memiliki analisis mendalam terhadap suatu masalah dan persiapan yang matang. Semuga gerakan mahasiswa lebih baik dan masif. Sama seperti gerakan buruh yang semakin hari semakin menunjukkan penggelembungan massa yang massif.



[i] Disampaikan pada diskusi Pergerakan Buruh dan Mahasiswa di Era Kapitalisme Kontemporer, UKM Pers Daunjati STSI Bandung, 1 Mei 2014
 




Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger