Headlines News :
Home » » Hari Buruh Internasional

Hari Buruh Internasional

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 20 Mei 2014 | 00.12.00





Oleh Barra Pravda [i]

Borjuis dan proletar, atau, pekerja dan pemodal, merupakan hasil dari “penyederhanaan pertentangan klas” yang terjadi pada masyarakat borjuis. “…masyarakat seluruhnya semakin terbelah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan”, menghasilkan borjuis dan proletar.
Tapat pada 1 Mei, secara kasat mata, diartikan sebagai kemunculan eksistensi kekuatan klas pekerja dalam memperjuangkan hak. Di balik yang kasat mata itulah, substansi perang ideologis sedang berlangsung. Pertentangan demi pertentangan yang sebelumnya ada, akhirnya tak terbendung oleh represi militer dan disiplin ketat pabrik (perbudakan industri).
Perlawanan semakian membesar, pengaruhnya bertambah meluas di kota, provinsi dan antar negara. Terhadap perkembangan ini, penguasa terpaksa melakukan kompromi terhadap gelombang perlawanan arus bawah; menurunkan jam kerja.
1 Mei 1886 hingga 1 Mei 2014, adalah rentang waktu yang cukup lama bagi perjuangan kelas buruh. 128 tahun sudah berlalu, kini pergerakan buruh terus berupaya mengambil manfaat dan semangat dari atmosfir perjuangan kaum buruh waktu itu. Mereka berjuang demi kesejahteraan, melakukan mobilisasi politik, menyerang pusat-pusat industri dan pemerintahan. Kebanyakan adalah para serikat buruh di Eropa Barat dan Amerika.
Bertandangnya kapitalisme yang menggantikan sistem produksi feodal mengakibatkan jumlah pekerja industri meningkat tajam, angakatan kerja semakin naik, perempuan yang awalnya ada di rumah, oleh kapitalisme ditipu untuk keluar rumah, bukan untuk menciptakan keadilan tapi, untuk menggerakkan mesin-mesin industri, demi keuntungan si kapitalis. Seketika itu pula, aktifitas industri menyerap banyak sekali tenaga kerja. Dalam proses masa-masa gegap gempitanya revolusi industri (berkembangnya mesin) membuat posisi tenaga kerja yang bekerja secara manual menjadi rendah. Pada masa itu, kehadiran mesin diserang sebagai factor penyebab PHK. Inilah kejahatan kapitalisme dalam mekanisme rekruitmen tenaga kerja. Sepertinya, teori Adam Smith yang menganggap bahwa: ”Tingkat upah ditentukan oleh perimbangan permintaan dan penawaran pasar tenaga kerja (buruh)” memberikan legitimasi bagi para ekonom borjuis kala itu. Jika begitu maka, dengan kata lain, ’penawaran’ tenaga kerja (buruh) yang berlebih dan ’permintaan’ yang terbatas, membuat pengusaha mendapatkan keyakinan konsep untuk menurunkan tingkatan ’harga jual’ tenaga buruh yang berwujud upah. Di sinilah ketepatan Marx dalam memandang bahwa penghisapan kaum buruh (oleh pengusaha/majikan) telah sempurna dengan dikuasainya tenaga yang keluar dari hasil kerja para buruh. Tapi ingat (peringatan bagi borjuis) bahwa, mesin memang mengefektifkan KERJA, tapi mesin tidak bisa menghilangkan yang namanya KERJA itu sendiri. Artinya, tanpa sentuhan kerja manusia, mesin tak akan memiliki nilai guna/pakai. Bisa-bisa saja para kapitalis memiliki semua uang di jagat raya ini, bisa-bisa saja kapitalis memiliki komoditas di seluruh bumi ini, tapi, tanpa adanya KERJA dari manusia (buruh), segala uang dan komoditas tadi tak akan berguna. Ini menunjukkan bahwa, salah satu faktor paling fundamental dari kapitalisme adalah buruh/proletar itu sendiri. Maka, proletar memiliki peluang yang sangat mungkin untuk merebut alat produksi, membalikkan secara radikal sistem ekonomi kapitalisme menjadi sosialisme, itu adalah keniscayaan, bukan utopia belaka.
Mahasiswa, sayang rakyat,kah ?

Mahasiswa sebagai salah satu penyumbang terbesar lahirnya kaum intelektual. Di sinilah letak strategis dari peranan gerakan mahasiswa, yaitu, melahirkan intelektual-intelektual progresif yang memiliki gagasan alternative tentang dunia baru. Peran mereka sangat penting bagi perkembangan gerakan dan perubahan social yang revolusioner. James Petras telah membantu kita agar peluang-peluang tersebut kita ambil (mencetak dan melakukan pengorganisiran kepada kaum intelektual dan praktisi) karena, “di bawah kondisi-kondisi tertentu”, kaum intelektual dan praktisi “memang tidak selalu secara langsung mempengaruhi politik massa, tidak juga mereka memimpin atau mengorganisir perjuangan massa, kecuali klaim-klaim (pengakuan-pengakuan tak benar) dan pamrih-pamrih sebagian dari mereka”. Meski begitu, Petras mengambil makna penting dari kaum intelektual yaitu: “(1) mempengaruhi pimpinan-pimpinan dan militan-militan partai, gerakan sosial dan politisasi kelas sosial; (2) melegitimasi dan, secara halus, mempropagandakan sebuah rejim, kepemimpinan atau gerakan politik; (3) menyediakan diagnosa atas masalah ekonomi, politik negara, kebijakan dan strategi-strategi imperialis: (4) menguraikan solusi-solusi, strategi-strategi politik dan program-program bagi rejim, gerakan serta para pemimpin; dan (5) mengorganisasi dan berpartisipasi dalam pendidikan politik partai atau aktivis gerakan.”

Integrasi Ke Rakyat; Sebagai Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa
"Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana" 
"Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas"
Salam.


[i] Koord Divisi Riset Lembaga Advokasi Kerakyatan (LEMBARRAKYAT),
Departemen Pendidikan dan Propaganda PEMBEBASAN (www.pembebasan-pusat.blogspot.com).
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger