Hari-hari adalah seni




(catatan workshop tertutup bersama Willem Brugmen dan Catherine Hassall)*


Oleh: John Heryanto
1
                Manusia selama ini tidak pernah menyadari bagaimana dirinya bernafas (organic) dimana setiap inci tubuh bereaksi ketika jantung memompa (action) atau sebaliknya (mechanic) semuanya seperti diluar kesadaran (nature) dan bagaimana seseorang (performer) melakukan itu semua dengan kehendak (system) sesuai dengan kebutuhannya (performance) sampai melewati batas-batas (transedental) yang tak terduga (magic) dimana pikiran (rasio) dan perasaan (sensibilitas) bersatu dalam momentum ketubuhannya.

                Hal yang paling mendasar adalah bagaimana tubuh mampu mengenali (geografi) tubuhnya sendiri dari hal yang paling terkecil yaitu nafas, helaan untuk mengucapkan selamat pagi kepada dunia, helaan kecil, seperti baru saja menjadi bayi yang lahir beberapa menit lalu dari perut ibu, sebentuk nafas pertama untuk tubuh dan dunia baru. Maka pagi ini Mr.Willem Brugmen mengajak  kami untuk bersama-sama mengucapkan “Selamat Pagi” selama tiga menit sambil menepuk-nepuk dada sampai suara bergetar alami (vulkanik). Aku, Catherine, Gepeng, Karensa, Wanggi, Sugi dan Katho saling berhadap-hadapan mengucapkan selamat pagi, lalu melingkar seperti huruf O untuk menarik nafas dengan cara  diminum secara berulang-ulang pula, rasakan bagaimana udara menyusuri kerongkongan dan aku pikir ada sensasi yang lain semacam jatuhan air di sudut gang yang sepi, “cobalah untuk berpikir dan mengenali tubuh kita masing-masing dari masa lampau, hari ini dan masa depan. Dengan demikian kita akan tahu bagaimana tubuh kita sesungguhnya”  ucap Mr. Willem kepada kami sambil menyuruh untuk  bermeditasi memikirkan sejarah tubuh dari masa lalu sampai masa depan, tak ada yang benar-benar tahu apa sesungguhnya yang masing-masing orang pikirkan di kepalanya, ketika matanya ditutup saat meditasi kecuali dirinya sendiri, mungkin juga orang akan berpikir yang lain-lain. Aku pun mulai memejamkan mata untuk mengingat-ngingat masa lalu meski sebetulnya susah, karena masa yang manakah yang paling membekas, sesuatu yang tak bisa dilupakan dari masa lalu adalah tentang kematian ayah tiga tahun lalu, dan masa lalu yang tak bisa aku ingat adalah kapan aku terlahir menjadi manusia. Sedangkan bila berpikir tentang masa depan seperti membangkitkan hantu di tengah hari yang bolong.
2
                Pagi ini udara terasa dingin bagai masuk ke dalam kulkas, seperti es dalam plastik yang lembab, Catherine Hassall mengajak kami untuk mengenal metode butoh, sebuah tarian yang lahir dari kegelapan setelah dibomya Hiroshima dan Nagasaki, sebuah tarian tentang eksotopi kematian. Mula-mula kami diajak untuk bernapas menghentakan perut  “ha” lalu  mengenal sejauh mana sensibilitas tubuh di awali dengan sentuhan-sentuhan kecil pada kulit dan setiap yang tersentuh harus bereaksi sekecil apapun sampai melampaui batas-batas ketubuhan. Sentuhan tersebut merupakan arah atau tanda bagi tubuh untuk bergerak, mula-mula dilakukan sepasang-sepasang bergantian saling menyentuh dengan mata tertutup, setelah itu satu orang disentuh oleh dua orang dimana titik sentuhannya secara acak berdasarkan kehendak si penyentuh, setelah itu selesai lalu kami berbaris tiga-tiga untuk mempresentasikan sejauh mana sentuhan itu mempengaruhi pola-pola gerakan. Ada yang bergerak cepat sekali, ada pula yang pelan, ada yang bergerak seperti kumpulan hentakan dll. Tentu gerakan itu semua dihasilkan berdasarkan siklus yang dirasakan si tubuh, bersama pengalaman empiris dimana tubuh mengalami hantaman-hantaman (sentuhan) yang membangun  struktur dramatik.
3
                Mr. Willem Brugmen mengajak kami untuk jalan-jalan ke dunia robot, sebuah dunia yang dibangun dari kumpulan fantasi virtual, dan bagaimana tubuh boneka itu mewujud tanpa kehendak melainkan sebuah kerangka imajinasi yang dibangun oleh orang lain yaitu master puppet dan bagaimana keduanya bisa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, tak hanya pikiran, tetapi juga perasaan yang mengalir di dalamnya. Tentu ini perlu kerja sama yang tepat dan itulah yang coba kami lakukan pada siang hari ini, mula-mula kami berpasangan, dua-dua, satu yang menjadi boneka dan satu yang menjadi pengendali, dimana si boneka bergerak sesuai kehendak komando dari si pengendali, hal yang pertama dilakukan si boneka adalah berdiri di kursi, dan bagaimana caranya si pengendali menggerakkan boneka itu dengan komando secara mekanik, lalu bertukar posisi untuk mekukan hal yang sama sehingga masing-masing dapat merasakan bagaimana tubuh itu bergerak secara mekanik. Masing-masing peserta mesti mengusung gagasan yang sama untuk menemukan struktur dramatiknya, lalu setelah itu selesai, dicobalah satu boneka bergerak dengan banyak pengendali, tentu ini adalah suatu hal yang rumit dan bagaimana tubuh boneka merespon semuanya secara tepat dalam waktu yang sama dengan banyak komando, dan dari situ kita semua dapat mengetahui seberapa naluri (insting) berjalan dalam memahami situasi dan bagaimana menyatukan pikiran para komando untuk mengusung tempo dramatik yang sama tanpa didiskusikan, sebab masing-masing bergerak dengan sendirinya.
4
                Pagi ini tepatnya jam 09.30, Catherine Hassall mengajak kami untuk bergerak secara bebas di ruang pendopo ikan untuk merespon apa- apa yang melekat dalam tubuh masing berdasarkan pengalaman empiris dari sentuhan kemarin dan bagaimana tubuh mengalami kontraksi dengan ruang, menjadi tubuh siklis, tubuh cuaca yang  menyeret kepada hal-hal badani yang menerjang secara tiba-tiba, kadang menjadi angin, kadang menjadi pancaroba, kadang juga hujan, dan bagaimana tubuh menjadi bagian, menjadi respon dari itu semua.
5
                Kami membagi diri menjadi 2 kelompok dimana masing-masing kelompok berjumlah tiga orang, dan setiap kelompok yang ada  mesti mempresentasikan karya tubuhnya dalam waktu 3 menit, dengan pola simetris maupun asimetris. Bagaimana setiap tubuh membentuk momentnya sendiri-sendiri, dengan mengusung hal tersebut Willem Brugem mengajak kami untuk bergerak dalam durasi waktu antara 1, 3 dan 5 menit. Mempresentasikan kembali sejarah tubuh masing-masing, dengan mengingat ulang hari-hari pertama, dimana kami bermeditasi tentang masa lalu, masa kini dan masa depan. Bagaimana tubuh merealisasikan itu semua , demi membangun sejarah ketubuhannya dalam satu momen yang dapat menceritakan semuanya semacam self potret tentang ketakutan kita sendiri, tentang hujan yang tumbuh di dalam perut kita.

______________
*Workshop ini selenggarakan oleh The Centre for Ausrtalasian Theatre (CfAT) dan Darah Rouge selama 9 hari


Related

Teater 3840026885626705477

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item