WORKING CLASS HEROES

a documentary by huub ruijgrok and arno van beest



Oleh:

Ario Wibisono, S.T., M.Sn.

Rabernir, S.Sn.


  



A.      Tinjauan film

Film ini adalah film dokumenter yang menceritakan tentang pergerakan buruh di 2 negara yaitu Indonesia dan Kolumbia. Huub dan arno membuat perbandingan kehidupan buruh, dan pergerakannya diantara kedua negara. Tokoh sentral dari film ini adalah presiden serikat buruh dua negara. Dari mereka segala informasi yang berkaitan dengan pergerakan buruh didapatkan. Mesikpun demikian Huub dan arno juga menampilkan narasumber lain sebagai penyeimbang informasi. Seperti perwakilan dari pengusaha, pemerintah dan stake holder lainnya. Untuk mendapatkan gambaran tentang kehidupan buruh, Huub dan arno juga menampilkan profil buruh dari kedua negara.


Film ini menggunakan pola tutur yang konvensional dan tidak rumit. Mudah difahami dan komunikatif. Strukturnya juga jelas, ada opening/prolog, isi, dan penutup. Latar belkang dibahas secara detil namun tidak bertele-tele. Isi dan permasalahannyapun juga demikian. Meskipun tidak disimpulkan, namun penutup film ini cukup bagus, dilengkapi dengan harapan berbagai pihak. Penonton diberi keleluasaan untuk menyimpulkan sendiri.

Film ini dibuat oleh huub ruijgrok and arno van beest, 2 orang warga negara belanda yang mempunyai ketertarikan pada pergerakan buruh terutama di negara dunia ketiga. Setahu saya, mereka tidak cukup produktif dalam membuat film, dan film WCH ini yang lumayan mendapat apresiasi.

Dari sisi sinematografi, film ini cukup berhasil. Gambar cukup jelas, demikian juga dengan suaranya. Bloking juga baik, tidak terlihat jumping yang berarti. Terlihat Huub dan arno mempersiapkan dengan matang team teknisnya.

B.      Ulasan

Film ini bergenre dokumenter. Dengan sub genre, dokumenter perbandingan (gerzon :2009)

Dokumenter ini mentengahkan sebuah perbandingan, bisa dari seseorang atau sesuatu seperti film Hoop Dreams (1994) yang dibuat oleh Steve James. Selama empat tahun, ia mengikuti perjalanan dua remaja Chicago keturunan Afro-America, William Gates dan Arthur Agee untuk menjadi atlit basket profesional. (kusendony :2010)
Meskipun demikian, menurut saya film ini juga gado-gado, tidak melulu perbandingan namun juga ada unsur lain, seperti investigasi. Ples juga ‘provokasi’. Hal seperti ini boleh-boleh saja, sah, dan tidak haram hukumnya. Karena memang tidak ada yang masif dalam dunia film. Genre dibentuk oleh konvensi yang berubah dari waktu ke waktu.  Dalam kenyataannya bahwa setiap genre berfluktuasi dalam popularitasnya dan akan selalu terikat erat pada faktor-faktor budaya.
Film dokumenter adalah sebuah upaya untuk ‘menceritakan kembali sebuah kejadian/realita, menggunakan fakta dan data’.Ada tiga hal yang saya garisbawahi dalam penjelasan Nichols tersebut. Pertama adalah ‘kejadian’ atau ‘realita’. Kejadian dalam hal ini dipahami sebagai apa yang tampak di sekitar pembuat  film. Sesuatu yang menganggu atau menggelitik rasionalitas pembuat film. Sesuatu yang memunculkan pertanyaan lebih jauh lagi dalam benak sang pembuat film. Apa? Kenapa? Bagaimana? Siapa? Dan selanjutnya. Itu sebabnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, pembuat film perlu melakukan sejumlah penggalian data. Seberapa jauh penggalian data dilakukan oleh pembuat film? Jawabnya adalah: sampai pembuat film merasa jelas duduk perkaranya dan ia memiliki opini atau pendapat mengenai hal tersebut.Lalu apa yang dilakukan setelah pembuat film memiliki opini terhadap persoalan yang mengganggunya itu? Tentunya, pembuat film ingin menyampaikan pendapatnya kepada orang lain. Ia ingin berbagi pendapatnya tersebut ke lebih banyak orang, itu sebabnya ia memilih medium film. Konsekuensi dari penggunaan medium film adalah, ia memerlukan cerita untuk bisa menyampaikan opininya. Kenapa perlu cerita? Karena alur cerita akan memudahkan orang lain dalam menyerap semua informasi yang berkaitan dengan persoalan yang diangkat. Cerita digunakan untuk membangun ketertarikan penonton dalam mengikuti penjelasan-penjelasan dalam film, hal yang seringkali diabaikan dalam sebuah karya ilmiah atau presentasi yang bersifat umum. (http://shozam.wordpress.com/)

Dalam pembuatannya, saya cukup yakin bahwa Huub dan Arno melakukan riset dengan baik, sehingga pesan yang ingin disampaikan cukup mengena.

Film ini tidak membuat kesimpulan khusus, penonton dibiarkan menarik sendiri kesimpulan atas film yang dilihatnya. Tidak ada intervensi, opini, dan cukup fair. Namun sebagai media propaganda dirasa kurang

Media propaganda
Sebuah film propaganda adalah sebuah film yang melibatkan beberapa bentuk propaganda. Film-film propaganda dapat dikemas dalam berbagai cara, tetapi yang paling sering produksi gaya dokumenter atau skenario fiksi, yang diproduksi untuk meyakinkan pemirsanya pada sudut pandang politik tertentu atau mempengaruhi pendapat atau perilaku penonton, sering dengan menyajikan konten subjektif yang mungkin secara sengaja menyesatkan.
Propaganda dapat didefinisikan sebagai kemampuan "untuk memproduksi dan menyebarkan pesan-pesan yang subur, sekali ditaburkan, akan bertumbuh dalam budaya yang besar." Namun, pada abad ke-20, sebuah propaganda "baru" muncul, yang berkisar di seputar organisasi politik dan kebutuhan mereka untuk mengkomunikasikan pesan yang akan "menarik golongan yang relevan untuk mengakomodasi agenda-agenda mereka". Pertama kali dikembangkan oleh Lumiere bersaudara pada tahun 1896, media film menyediakan sarana unik untuk mengakses penonton dalam jumlah sekaligus besar. Film adalah media massa universal pertama yang secara bersamaan dapat mempengaruhi pemirsa sebagai individu dan anggota kerumunan, yang menyebabkan media ini dengan cepat menjadi alat bagi pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk menyuarakan pesan ideologis yang diinginkan.Seperti Nancy Snow menyatakan dalam bukunya, Information War: American Propaganda, Free Speech and Opinion Control Since 9-11, propaganda "dimulai di mana pemikiran kritis berakhir."
(http://en.wikipedia.org/wiki/Propaganda_film)

C.      kesimpulan

Sebagai film documenter Huub dan Arno ‘lumayan’ berhasil dalam membuat dokumenter, meskipun menurut saya film ini cukup sederhana dan konvensional, bahkan cenderung monoton dan membosankan. Tidak ada mood yang dominan, kalaupun ada tidak dimanfaatkan secara cerdik oleh Huub dan Arno. Film ini hanya akan menambah dan membuka wawasan kita tentang kondisi perburuhan di Indonesia dan dunia, namun tidak cukup bisa menggerakkan penontonnya untuk melakukan ‘movement’ . Jika kita berharap film ini akan memberikan ekses lebih kuat, maka harus dibuat lebih ‘provokatif’ , lebay, berkesinambungan, dan ditayangkan secara berualang-ulang.

Related

Film 7876545145964458313

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item