Headlines News :
Home » , » PERJALANAN MENGULITI ISBI #6 : Menimbang Pariwisata Sebagai Strategi Mengemas Seni

PERJALANAN MENGULITI ISBI #6 : Menimbang Pariwisata Sebagai Strategi Mengemas Seni

Written By LPM DAUNJATI on Jumat, 10 Oktober 2014 | 21.55.00


Drs.Nur Sahid.M.Hum
( Dosen Pasca Sarjana ISI Jogjakarta) 



 
Beranjak dari D.K.I Jakarta saya pun segera memesan ticket untuk pergi ke D.I.Y Jogjakarta di mana pada akhirnya saya bertemu dengan beberapa pengajar dari perguruan tinggi seperti ISI Jogjakarta, dan juga Pasca Sarjana Kajian Seni Pertunjukan & Seni Rupa Universitas Gajah Mada. Ditolong oleh teman saya Raden Mas Jonathan ( Mahasiswa Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Jogjakarta ), saya pun dapat bertemu dengan beberapa staf pengajar di institut tersebut, yaitu Drs.Nur Sahid.M.Hum, pengajar di Jurusan Teater, S2 dan S3 Pengkajian Seni, Program Pascasarjana ISI Jogjakarta. Ditemui di ruang prodi seni teater, Drs.Nur Sahid yang sedang membimbing salah satu mahasiswanya tersebut menyempatkan menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan.
Pada dasarnya perspektif dari diri beliau tidak berkeberatan jika STSI sebagai sekolah yang bergerak di bidang seni, merambah lebih luas menjadi institut yang juga menaungi persoalan seni budaya. Dirinya menyampaikan bahwa pada nantinya ISBI Bandung akan memiliki kiprah yang lebih luas, di mana wilayah eksplorasinya akan lebih berkembang. Payung besar pelebarannya itu sendiri yang memang tetap bersumber pada dimensi kesenian, saya kira ISBI Bandung akan lebih duluan mengembangkan sayap perluasannya. Saya kira akan lebih baik jika pada akhirnya seni tradisi itu dilibatkan, dikonservasi untuk pengembangan dari penggalian akan nilai-nilai budaya itu sendiri, karena saya sangat khawatir terhadap seni tradisi, jika bukan kita ( mahasiwa/dosen seni) yang mengayomi dan menjaganya, maka siapa lagi. Dirinya sangat menyetujui jika pada akhirnya ISBI Bandung ini pun akan berorientasi pada konservasi nilai-nilai budaya lokal, yang akan memperkaya pertumbuhan dari kesenian tersebut.
Dirinya pun menambahkan bahwa persoalan seni dan budaya di dalam sebuah kurikulum  perguruan tinggi memang jangan dicampur adukan, jikalau nantipun ISBI Bandung akan didirikan, dirinya menghimbau agar dipisahkan. Pemisahan ini sendiri dengan tujuan untuk saling melihat dan saling melengkapi, bukan untuk saling merebut lahan kajian.
Ditanyakan mengenai pendapatnya akan kurikulum pariwisata yang akan hadir di dalam perguruan tinggi seni, dirinya menyampaikan tidak ada masalah. Sebab kita jangan selalu mengatakan bahwa pariwisata itu negatif, ataupun pariwisata itu hanya bisanya menjual saja. Sebab, tugas dan skill-nya pun akan lebih berkembang, di mana yang tadinya hanya bertugas untuk mengkonservasi kini pun harus bisa dengan taktis menyajikan kemasan seni yang dapat dijual kepada publik, seni yang dihasilkannya pun akan menjadi lebih beragam dan berwarna.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger