Headlines News :
Home » , » PERJALANAN MENGULITI ISBI #7 : Tubuh dan Tarianmu pun sudahlah budaya

PERJALANAN MENGULITI ISBI #7 : Tubuh dan Tarianmu pun sudahlah budaya

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 11 Oktober 2014 | 12.56.00

Dr. G.R. Lono L. Simatupang, M.A
( Dosen Program Pasca Sarjana UGM Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa )




                Saya pun bergegas menuju Universitas Gadjah Mada, untuk bertemu dengan pakar antropologi seni daru UGM, yaitu Dr.Lono Simpatupang. Saya pun menemui beliau di Sekolah Pascasarjana UGM, Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan & Seni Rupa. Di sela-sela kesibukan beliau membimbing tesis beberapa mahasiswanya, dengan baik hati dirinya masih menyempatkan diri untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah saya susun. Ditanyakan mengenai konversi STSI menjadi ISBI, Dr.Lono mengaku sudah mengetahui mengenai kabar yang beredar tersebut, namun ketika diminta memberikan tanggapan atas perubahan tersebut, Dr.Lono bingung, dirinya menyatakan tidak mengerti apa itu ISBI, dan apa yang ingin dilakukan oleh ISBI.
                Melalui latar belakang antropologi yang dimilikinya, Dr.Lono menyatakan bahwasanya budaya sendiri jangkauannya lebih luas daripada seni, dimana sistem pemerintahan, sistem politik, sistem kekerabatan adalah budaya juga. Kesenian sendiri jika dilihar dari perspektif antropologi berada di dalam lingkup kebudayaan, yang menjadi pertanyaan dari Dr.Lono kepada tim perumus ISBI adalah apakah dengan mengubah STSI menjadi ISBI, berarti kita akan mempelajari ilmu seni yang akan ditambahkan dengan ilmu-ilmu kebudayaan lainnya secara lebih luas, jika seperti itu maka akan ada pergeseran nilai seni menjadi kajian yang lebih bersifat antropologis sifatnya. Keheranan beliau selanjutnya pada saat ini adalah, apakah dengan kita hanya menamakan diri kita Institut Seni saja, artinya hanya mempelajari seni saja lantas membuat kita tidak mempelajari budaya sama sekali.  Seni selalu dekat dengan berbagai unsur kebudayaan, selalu ada dimensi politik,spritualitas dan kekerabatan di dalamnya, artinya belajar seni adalah kita belajar budaya secara bersamaan, meskipun tidak melalui seluk-beluk teori. Artinya tidak perlu ada ISBI, sebab setiap aktivitas kesenian yang kita ciptakan selalu menghasilkan efek kebudayaan darinya, baik setelah maupun sebelum.
                Konsekuensi dari perubahan seperti ini maka akan ada pemberatan yang lebih di wilayah‘logos’ ( logika ; red ), wilayah ‘logos’ ini adalah wilayah perguruan tinggi pada umumnya seperti UI, UGM, UNPAD yang lebih banyak berteori dan menggunakan akal sebagai pisau bedah masalah, tetapi kesenian itu seharusnya ditemapatkan pada jalur yang berbeda, sebab kesenian memiliki keistimewaan teknik estetik, yang hanya dan dipelajari secara sistematis di dalam lembaga perguruan tinggi seni, jika kini ingin mencampur adukan dengan ranah budaya, maka akan menjadi terguncang wilayah pemetaannya.
                Apa yang ingin dihasilkan dari penambahan budaya di dalam institut seni, sebab setiap bidang ilmu sudah memiliki warna dan pilihannya masing-masing. institut seni sudah jelas jalannya berada di dalam bidang ‘techne’ ( praktik ) yang banyak mempelajari teknis-teknis menciptakan kesenian, lalu budaya sudah jelas adalah ‘logos’ ( pikiran ) yang banyak mempelajari teori semata, jika pada akhirnya akan ada penambahan pada seni dengan embel-embel budaya, saya khawatir perlahan-lahan pesona dan daya kreatif dari ranah seninya akan terkikis sedikit demi sedikit.
                Apa yang sering salah dipikirkan oleh pemerintah adalah bahwasanya ‘techne’ dianggap jauh lebih rendah daripada ‘logos’, ini jelas merupakan kesalahan fatal. Kedua-duanya sama dan sejajar, bahkan seringkali ‘logos’ itu hadir karena mengkaji ‘techne’, artinya tidak akan ada ‘logos’ jika tidak ‘techne’, tidak akan ada kajian seni jika tidak objek seni hasil ciptaan ‘techne’. Akan menjadi bahaya jika ISBI nanti hanya akan menjadi ‘logos’ dan kreasi ‘techne’ itu lama kelamaan akan hilang, jika ‘techne’ hilang maka ‘logos’ pun akan hilang.
                Ditanyakan mengenai kajian pariwisata yang akan hadir di dalam kurikulum seni dan budaya, dirinya menjadi semakin bingung akan rumusan tersebut. Menurut analisisnya memasukkan pariwisata di dalam kurikulum seni dan budaya adalah rumusan yang mengada-ngada dan cenderung ngawur. Sebab secara mendasar pun dirinya menilai bahwa antara logika pariwisata dan logika estetika bertolak belakang, sebab logika pariwisata itu selalu berorientasi pada market-oriented yang tidak mementingkan ‘techne’ seni, sedangkan logika estetika selalu memikirkan eksplorasi ‘techne’ tanpa mengenal untung-rugi setelahnya. Inilah dua kutub yang tidak akan bisa disatukan. Mangakhiri wawancara dengan beliau, Dr.Lono menyampaikan bahwasanya problematika seni yang seharusnya ditingkatkan adalah pengalaman estetik yang hanya ditujukan untuk objek estetik itu sendiri, seharusnya ada ruang pejelajahan lain yang menempatkan musik pada wilayah agama, atau agama dalam sisi musik, teater dalam politik, atau politik yang ditempatkan dalam wilayah teater, yang bisa dipelajari tanpa harus menambahkan muatan budaya.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger