PERJALANAN MENGULITI ISBI # 2 : Menimbang Kajian Pariwisata di dalam Kampus Seni & Budaya


Dr.Heri Herdini S.Sen, M.Hum 


Beberapa pertanyaan yang lain sengaja saya tunda, agar dapat diimbangi oleh pendapat dari pihak pemangku kebijakan. Saya pun menyambangi ruang kerja Pembantu Ketua I, PK I, Dr.Heri Herdini.S.Sen,M.Hum, di sela-sela kegiatannya menguji ujian resital Jurusan Karawitan Gelombang I. Berikut petikan wawancara.

T : Apa landasan dasar perubahan STSI menjadi ISBI ?

J : ini sebenarnya kebijakan dari pusat, kenapa                 Sekolah Tinggi Seni, ataupun Institut Seni akhirnya harus menjadi ISBI. Meskipun misalnya seni sendiri adalah bagian dari budaya, namun pemerintah memberikan satu kebijakan khusus, agar ISI-ISI yang ada di Indonesia menjadi ISBI.

T : Menurut pandangan bapa sendiri, perihal budaya seperti apa yang akan diusung dalam ISBI ?

J : Karena sampai saat ini pemerintah merasa bahwa perguruan-perguruan tinggi seni yang ada di Indonesia, masih hanya berkutat pada dunia keseniannya saja. Artinya pengkajiannya pun masih hanya terfokus pada keseniannya saja, tapi yang membahasa perihal kebudayaan yang ada di samping keseniannya itu belum ada. Nah, ya diharapkan setelah ISBI terbentuk, tidak hanya terkonsentrasi kepada teater,tari,musik saja. Tapi akan ada juga fakultas kajian budaya. kajian yang muncul pun akan mengarahkan dan lebih terkonsentrasi pada nilai-nilai lokal, sebab banyak sekali kearifan-kearifan lokal yang tidak terjamah, bukan tidak mungkin jika tidak ada yang secara khusus mengkaji nilai-nilai tersebut, akan punah dengan sendirinya. Apalagi dengan banyaknya budaya asing yang datang, sudah pasti akan datang dan menggeser keberadaan budaya lokal tersebut.

T : Apa yang akan membedakan fakultas ilmu budaya yang ada di ISBI, dengan fakultas ilmu budaya yang ada di UI, UNPAD maupun UGM ?

J : Tentu akan berbeda, sebab akan lahir dua program studi yang berbeda dengan fakultas ilmu budaya yang sudah ada, di dalam fakultas kajian budaya-bukan fakultas ilmu budaya, yang dimiliki oleh ISBI adalah ; Program Studi Kajian Budaya Lokal dan Program Studi Kajian Budaya Pariwisata. Maka berbagai kekayaan budaya lokal yang ada di sunda akan menjadi bahan kajian, khususnya bagi mereka yang akan menjadi mahasiswa program studi kajian budaya lokal, jadi akan sangat berbeda dengan mereka yang ada di UI maupun di UNPAD. Maka kita pun harus mencari tenaga-tenaga ahli yang mampu mengajarkan kajian budaya lokal maupun kepariwisataan. Sebab bagaimanapun juga jika kita berbicara tentang kebudayaan, tidak akan ada kesenian yang lahir tanpa kebudayaan yang melahirkannya, seperti kebiasaan, adat istiadat, tradisi masyarakat.

T : Bagaimana anda memandang persoalan pariwisata, dengan membandingkan akademi pariwisata yang sudah lama hadir, dengan kurikulum pariwisata yang akan hadir di dalam kampus seni dan budaya ?

J : Tetap saja, kalau di dalam institut seni dan budaya itu lebih pada menampilkan kekayaan-kekayaan seni budaya tradisi, artinya akan berbeda dengan pariwisata pada umumnya. Jika, pada pariwisata yang diajarkan pada perguruan tinggi lain, lebih berorientasi pada alam, hotel, ataupun sistem perjalanan pariwisata, nah jika yang akan di dalam kampus ISBI ini akan lebih berfokus kepada masalah kesenian. Pariwisatany itu akan lebih kepada masalah kesenian, jadi jika ada ada wisatawan-wisatawan yang membutuhkan mengenai kesenian sunda, akan datang kepada ISBI Bandung. meskipun pada akhirnya sama, yaitu mengenai ekonomi dan bisnis.

T : Bagaimana seharusnya dosen, mahasiswa seni, para pemangku kebijakan kurikulum di dalam kampus seni memandang perubahan / konversi kampus seni menjadi kampus seni dan budaya ?

J : seharusnya kita ini menyambut baik niat yang ingin dirancangkan oleh pemerintah, sebab menurut saya dengan perubahan menjadi kampus seni dan budaya ini akan lebih banyak untungnya daripada ruginya. Sebab kita akan lebih luas mempunyai lahan penelitian, bukan hanya di dalam bidang seni, bahkan kita pun akan memiliki kesempatan melihat kesenian yang terlahir dari masyarakatnya. Kesenian yang dikaji dari kebudayaan, cara masyarakat melahirkan keseniaj tersebut. Jika kita dapat menimbang dari berbagai sisi, maka kita pun akan memiliki cara memandang kesenian dengan lebih komprehensif, kesenian tidak saja dilihat dari sudut pandang estetika-nya saja, cara memandang kesenian pun tidak secara tunggal. Namun kesenian pun dipandang dari cara, adat istiadat, dan kebudayaan masyarakt yang melahirkannya. Sebab tidak akan ada kesenian yang lahir tanpa kebudayaan, di mana pola berpikir masyarakat, pola aktivitas masyarakat akan turut membangun cara-cara berkesenian masyarakt. Menjadi tantangan dan juga menjadi peluang yang cukup menantang, bagi para dosen untuk dapat mendalami persoalan kesenian secara lebih mendalam dan lebih menyeluruh.

Related

Kampusiana 5352107684987392501

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item