PERJALANAN MENGULITI ISBI #3 : Budaya dan Tradisi, dua sisi menuju pusat etno-kultur


Prof.Jakob Sumardjo 

Memperbincangkan masalah kesenian dan kebudayaan, sebenarnya STSI memiliki seorang pakar yang ahli di dalam kedua bidang tersebut. Gelar professor sudah lama disandangnya, kampus yang ada di wilayah Kota Bandung, terutama yang memiliki program studi seni maupun budaya pasti memiliki nama beliau sebagai salah satu tenaga pengajar di dalamnya.
Prof.Jakob Sumardjo, yang kini masih saja bugar di usia senja-nya, menyempatkan dirinya untuk berbincang-bincang dengan saya, di sela-sela kesibukannya yang kini menjadi guru besar Pascasarjana STSI Bandung, ditemui di ruang perpustakaan Pascasarjana STSI Bandung, beliau menanggapi perubahan ini dengan telisiknya yang dalam, tilikannya yang kuat dan menohok, serta memberikan pencerahan tersendiri bagi siapapun yang mampu menangkap isi yang disampaikannya, tanpa dendam, ataupun prasangka.
                Diakui oleh Prof.Jakob Sumarjo sendiri, bahwa memang dirinya sendiri tidak diajak bertukar pikiran mengenai perubahan STSI menjadi ISBI, namun begitu beliau tetap melakukan pembacaan terhadap proses perubahan tersebut, sebagai pembacaan personal di luar tim perumus.
 Beliau mengatakan bahwasanya perubahan STSI menjadi ISBI itu sebenarnya kehendak siapa, apakah kehendak kita, ataukah kehendak pemerintah, telisik Prof.Jakob menjawab mengenai landasan dasar perubahan STSI menjadi ISBI. Sebab, diakuinya sampai saat ini banyak sekali kampus seni yang menolak perubahan statuta tersebut, lalu mengapa akhirnya STSI yang mesti menerimanya, begitu pertanyaan mendasar dari beliau yang tentu saja tidak bisa saya jawab. Namun, tentu saja ini bukan gagasan dari orang STSI sebab tentu ini adalah projek pengembangan yang melibatkan orang-orang pemerintahan. Memandang persoalan kurikulum budaya yang akan hadir di dalam kampus seni, Prof.Jakon mengatakan bahwa pada akhirnya kita akan cenderung mencampur-adukkan persoalan kesenian dengan problematika kebudayaan secara lebih luas.
Klasik tapi tetap hadir : problematika seni modern & seni tradisi
                Prof.Jakob Sumardjo mengatakan bahwasanya persoalan kebudayaan akan sangat penting menjadi vital bagi khususnya seni tradisi, sebab seni tradisi sudah menjadi lampau dan beberapa banyak yang sudah hampir punah. Waktu yang dihasilkan oleh seni tradisi menjadi waktu yang tidak mungkin lagi dialami oleh mereka yang hidup di dalam budaya modern saat ini, maka praktek kajian budaya menjadi penting sebab untuk mendalami kembali kesenian yang sudah tidak hidup lagi di saat ini, perlu melihat juga kebudayaan yang melatar belakangi kelahirannya.
Namun, hal ini menjadi berbeda dengan keadaan seni modern, sebab dalam wilayah seni modern sudah tidak terlalu penting lagi mempelajari perihal kebudaan tersebut, sebab kita sudah hadir dan menjadi bagian dari modernitas tersebut. Dicontohkan oleh beliau, jika kita ingin mengetahui mengenai wayang kulit maka kita membutuhkan kebudayaan jawa yang melatar belakanginya, kita membutuhkan terutama nilai-nilai filosofis di balik proses penciptaan wayang kulit. Bagi seni tradisional penting memahami kebudayaannya, karena kebudayaannya sudah mati, yang hidup hanya tinggal seni-nya saja. Untuk memahami mengenai tari bedhaya tentu kita perlu memahami dan mengkaji mengenai kehidupan tari yang hidup pada masa itu, lahir pada abad ke berapa, pada saat kekuasaan kraton di tangan siapa, seperti itu dan seterusnya.
                Ilmu-ilmu kebudayaan itu perlu dipelajari pada wilayah seni tradisi. Jika orang sunda yang ingin menari tari jawa, ya maka orang sunda tersebut harus mempelajari kebudayaan jawa terlebih dahulu. Jika orang papua ingin mempelajari karawitan sunda, ya maka dirinya harus mempelajari kebudayaan sunda terlebih dahulu. Bagi orang modern sendiri, persoalan kajian kebudayaan tidak akan menjadi terlalu penting, karena semua orang di saat dan waktu yang sama sudah seperti itu. Cara berfikirnya sudah sama, dan hidup pada ruang dan waktu yang sama. Prof.Jakob hanya mengingatkan jika ingin membuka cabang studi kebudayaan maka harus menjurus, yaitu persiapan pembelajaran ilmu budaya etnik, sebab tanpa persiapan seperti itu kita akan keteteran.
Masalahnya, adalah siapa saja yang sudah siap memberikan mata kuliah / bahan ajar seperti itu, apakah dosen-dosen di STSI sudah siap memberikan bahan ajar seperti itu. Cukup berat, karena perlu ada suplemen kajian filosofis, kajian etnologi, baru kita mengetahui kenapa pada akhirnya bentuk keseniannya seperti itu, mengapa tari sunda itu berbeda gerak tarinya dengan tari sumatera, mengapa pola teater rakyat di sumatera utara berbeda dengan yang ada di wilayah lombok, itu semua ada alasanya. Memang saya sudah mewanti-wanti jika ingin mempelajari seni tradisi maka kita itu harus mempelajari cabang-cabang etnik di dalamnya terlebih dahulu, jangan hanya mempelajari kesenian-nya saja.
                Menanggapi persoalan pariwisata yang akan berada di dalam kurikulum seni, Prof.Jakob mengatakan bahwasanya memang sudah ada seni sebagai pariwisata itu, dan sejak dahulu pun sudah ada. Hanya beliau mewanti-wanti jangan dicampur adukan antara seni sebagai komoditi pariwisata dengan seni sebagai ekspresi murni, harus dipisahkan. Pariwisata adalah persoalan menyenang-nyenangkan, jadi orang Belanda tidak perlu mempelajari kebudayaan Sunda, yang penting bagaimana seni tradisi sunda dapat menyenangkan mereka. Artinya seni tradisi Sunda harus melayani pembelinya, atau konsumennya.
Beliau mengatakan bahwa tidak masalah, jika akan diadakan program studi yang menampung persoalan pariwisata di dalamnya, sebab itupun merupakan sebuah cabang ilmu, hanya saja memang ada beberapa yang dikorbankan.  Sebut saja tari kecak dari Bali yang kini kita kenal sebetulnya tidak seperti itu pada awalnya, namun karena konstruksi orang german yang memandang bahwa tari kecak akan lebih mendatangkan keuntungan dalam format kolosal, maka aspek sakralitas pun menjadi dikesampingkan. Beliau pun mengharapkan jika pada masa yang akan datang pembentukan STSI menjadi ISBI ini tidak hanya akan menciptakan lembaga pertukangan, yang hanya tau cara menari, berperan, melukis, menabuh, tetapi tidak mengetahui kenapa kita harus melakukannya seperti itu, namun menjadi lembaga ahli teknis sekaligus mengkaji dan memahaminya.

Related

Kampusiana 6718813413599368373

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item