Headlines News :
Home » , » PERJALANAN MENGULITI ISBI #5 : Seni yang kebingungan memetakan kebudayaan di dalam dirinya

PERJALANAN MENGULITI ISBI #5 : Seni yang kebingungan memetakan kebudayaan di dalam dirinya

Written By LPM DAUNJATI on Jumat, 10 Oktober 2014 | 21.41.00


Maria Darmaningsih, S.Sen, M.Ed. 
( Wakil Dekan IV, Fakultas Seni Pertunjukan Institut  Jakarta )

 Saya pun beranjak menemui narasumber lainnya, yang masih berada di wilayah D.K.I Jakarta, saya pun bertemu denganMaria Darmaningsih, S.Sen, M.Ed, Wakil Dekan IV, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta. Wawancara pun dilakukan di ruangan Dekanat Fakultas Seni Pertunjukan IKJ, di sela-sela kesibukan birokrasi serta persiapan pelaksanaan Indonesia Dance Festival. Ditanyakan akan perspektif beliau mengenai proses perubahan STSI menjadi ISBI, Maria Darmaningsih mengatakan sungguh kebingungan dan kurang paham, kebingungan tersebut didasari oleh dasar leksikal penamannya, seakan-akan di dalam ISBI ( Institut Seni dan Budaya Indonesia ) tersebut budaya diperkecil wilayah kajiannya. Dengan kata lain, seakan-akan budaya hanya diartikan sebagai praktek seni. Seperti diketahui oleh beliau, sebagai sarjana Antropologi Tari bahwa kebudayaan itu terdiri dari 7 unsur dasar, seperti ; agama, ilmu pengetahuan & teknologi, bahasa, mata pencaharian, dan juga seni, jika memang Institut Seni dan Budaya Indonesiadidirikan seakan-akan mengecilkan jangkauan dari kebudayaan itu sendiri.
Penamaan dari Institut Seni indonesia itu sudah sangat pas, sudah sangat tepat, tidak kurang dan tidak lebih. Karena kita terfokus pada bidang seni, baik secara penciptaan maupun pengkajian. Jika pada hari ini akan disandingkan antara seni dan kebudayaan, ya itu akan mengacaukan arahan dari seni itu sendiri, di mana seni adalah sudah menjadi dari bagian kebudayaan itu sendiri. Saya takutnya perubahan STSI menjadi ISBI ini hanya proyek dari pemerintah, dimana nanti kabinet-nya berganti maka standar kurikulumnya pun akan ikut berubah juga, hanya menjadi kelinci percobaan yang tidak jelas arahannya akan menjadi apa.
                Beliau mengatakan sebaiknya memperbaiki sistem akademi seni yang sudah ada, dan lebih menjelajahi varian seni yang sampai saat ini masih banyak dan belum terpetakan, jangan mengambil wilayah tak bertuan yang bahkan kita sendiri belum memahaminya. Kita harus memahami bahwa keahlian utama kita itu ya berada di dalam wilayah kesenian, kalaupun kita akan memperlajari kebudayaan, ya hanya sebagai suplemen yang memperkuat dan melengkapinya saja, bukan menjadi tujuan yang utama. Tidak usah dipertegas dengan hanya mempermain-mainkan penamaan saja, jangan malah kejarannya mengubah menjadi Institut Seni dan Budaya Indonesia agar membuat kita menjadi lebih berbudaya. Pendidikan di kampus seni sebetulnya sudah tepat sebab cara melihat kebudayaan berasal dari praktek kesenian itu sendiri, kita melihat kebudayaan dari perspektif seni. Perubahan ini dinilianya akan memperkeruh lalu lintas kurikulum seni, yang seperti ingin mengacaukan arahan yang sudah lebih dahulu terarah, dengan menambah-nambahkan kata budaya di dalamnya.
Menyinggung persoalan pariwisata yang akan dihadirkan di dalam kampus Institut Seni dan Budaya Indonesia, Maria Darmaningsih memandang bahwa harus dipisahkan antara kesenian dan pariwisata, bahwa memang pariwisata itu penting tapi tidak untuk ditanamkan atau ditumbuhkan di dalam lingkungan pendidikan seni. Periwisata menjadi penting sebagai rekan /partner dalam meningkatkan kualitas ekonomi / bisnis yang sifatnya sementara saja, tidak menjadi sebuah bidang kajian khusus. Dalam pariwisata semua kegiatan lebih diarahkan pada hiburan, namun jangan sampai hiburan menjadi hiburan yang ecek-ecek dan ringan, jangan jadi karawitan atau tari-nya menjadi murahan dan ringan. Meskipun menjual namun tetap berkualitas, seperti itu. Kajian di dalam kesenian itu belum habis begitu saja, sebab masih banyak wilayah yang belum terjamah. Salah satu tanggung jawab yang paling besar adalah bagaimana merawat seni tradisi agar dapat tetap hidup dan segar di dalam realitas kekinian, tugas seni saja sudah terlalu banyak lalu jika ingin memasukan unsur budaya akan menjadi semakin rumit, dan bagaimana caranya kita memetakan diri kita di tengah kondisi seperti itu.
Lebih lanjut lagi beliau mengatakan, bahwa dirinya melihat pada kenyataannya memang pemerintah masih memandang sebelah mata akan persoalan akademi kesenian, apa yang saya bayangakan adalah bahwa seharusnya dosen-dosen seni, dan para guru besar di bidang seni, dari berbagai PTS ( Perguruan Tinggi Seni ) yang ada di Indonesia berbondong-bondong dan saling bergandengan tangan mengatakan ke pemerintah bahwa kondisi ini tidak benar.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger