BIEENNALE (?) ACTOR



beat lower-john heryanto. foto:Slem Reog
“Di kita pada umumnya masih jarang ada aktor yang berani berkarya sendiri di mana ia membawakan karya sendiri dan pentas sendiri, sebab aktor juga seorang kreator dan jika terjadi maka teater tidak akan pernah ada istilah krisis aktor atau sulit mencari pemain ”.
Iman Soleh

Bandung, Daunjati (15/01). Mungkin benar ucapan tersebut ketika melihat kenyataannya hari ini. Meskipun di kampus seni khususnya di Jurusan Teater STSI Bandung ada kalanya celetukan ada saja istilah kekurangan aktor, padahal kuliah di Jurusan Teater. Hal ini mungkin menjadi sebuah pertanyaan besar, ada apa sebenarnya sehingga kekurangan pemain? Mungkin ada kesibukan lain di luar kampus atau jangan-jangan betul istilah “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang), di mana mahasiswa hanya memikirkan kuliahnya sendiri tanpa melibatkan dirinya dalam sebuah proses pertunjukan kecuali ujiannya sendiri. Lantas, bagaimana masa depan teater jika mahasiswa teater sendiri lebih menyibukan dirinya dengan kepentingan pribadi. Menghabiskan hari-harinya dengan main playstation, bermalas-malasan di kosan, nongkrong di mall atau lain sebaginya ketimbang menyibukan dirinya dengan proses teater. Semestinya masalah teater menjadi prioritas utama bagi mahahiswa teater, bila perlu menjadi kebutuhan pokok seperti pula makanan sehari-hari. Jangan sampai teater ditinggalkan oleh pegiat teater itu sendiri. Sulit sekali untuk membayangkan akan seperti apa teater ke depannya.
Tak dapat dipungkiri meski teater adalah kerja komunal yang melibatkan semua unsur namun tetap saja yang menjadi pondasi utama atau tiang bagi teater adalah aktor. Sebab aktorlah yang memberikan identitas utama bagi seorang apresiator tentang ‘teater apa’ yang ada di hadapannya. Sebagimana yang dikatakan Arifin C Noor bahwa aktor tidak boleh mati tapi sutradara boleh. Jika memang begitu maka haruslah ada regenarasi aktor yang terus menerus sehinga teater tidak akan pernah ada istilah kurang aktor. Apa bila ditanya: siapakah yang paling bertangung jawab untuk melahirkan aktor? maka jawabanya adalah istitusi seni itu sendiri.
Bieenale aktor ini tentu saja jauh berbeda dengan bieenale yang biasa diadakan dua tahun sekali dan bersekala internasional pada umumnya. Bahkan, bieenale ini lebih mirip dengan sebuah parade monolog. Ini merupakan sebuah praktek dari hasil kuliah di kelas namun seperti apapun bentuknya, saya kira dari sanalah setidaknya akan terlihat sedikit gambaran tentang sejauh mana mahasiswa Jurusan Teater atau para aktor yang terlibat dalam acara tersebut  untuk dapat bersungguh –sungguh menekuni dunianya. Semoga dari acara ini dapat melahirkan aktor-aktor muda yang siap menghabiskan seluruh hidupnya untuk teater. Meski sebetulnya ini dalam rangka ujian pemerananan semester 5 Jurusan Teater STSI Bandung.
Acara Bieenale Actor ini rencananya akan berlangsung dari tanggal 28-29 Januari 2015 di Studio Teater STSI Bandung. Selain pertunjukan monolog yang berlangsung di dalam studio, juga ada pameran maket artistik di Loby Studio Teater dari mahasiswa semester 1 Jurusan Teater.

salam eksperimen & proses
John Heryanto
(Ketua Pelaksana Bieenale Actor)

Related

Teater 2266033650755240754

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item