PESTA PEMBUNUHAN KESADARAN MAHASISWA



(esai pendek atas apresiasi  “kolaboraksi” pelantikan ormawa)
Oleh: John Heryanto

Sebuah pesta digelar di sunan ambu (16/03/14) untuk merayakan pelantikan pengurus  baru ormawa terutama kegembiraan atas terpilihnya ketua BEM & Majelis mahasiswa STSI Bandung/ISBI Bandung. 

Seperti para machevellis dimana hal pertama yang dilakuakan oleh sang penguasa adalah melakukan pembodohan terhadap rakyatnya sehingga tidak ada kesempatan untuk bertanya apalagi berpikir, begitu juga dengan acara pelantikan ormawa ini yang diselenggarakan oleh Majelis Mahasisswa priode sebelumnya dengan mengadakan hiburan yang mereka namakan “kolaboraksi” berupa pertunjukan dari masing-masing perwakilan UKM & HMJ yang pentas bergantian, lalu sang penguasa (Presiden BEM) diarak keliling kampus naik sisingaan persis seperti anak kecil yang baru disunat, dan semua orang bergembira lantas berjoget dengan musik dangdut. tak ada manifesto apalagi diskusi publik untuk membicaran satu tahun kedepan, sepertinya semua orang telah jatuh pada hayalan dan berkutat dengan perasaan-perasaan tanpa melihat realitas yang sebenarnya, padahal belum satupun gagasan yang diusung oleh penguasa (BEM) dimana gagasan sebagai sebuah produksi wacana yang memiliki perananan cukup penting bagi perubahan realitas kebudayaan (khususnya mahasiswa) meski gagasan dalam pandangan marx seperti bayangan dengan tubuhnya sedangkan tubuh memerlukan hidup atau realitas (relasi eksternal) sedangkan tindakan adalah perwujudan dari faktor internal maka bagi marx gagasan, tindakan dan realitas adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebab pergulatan wacana dan praktik itulah yang menjadikan manusia itu ada.

Secara tiba-tiba dan tanpa disadari situasi kampus telah berubah menjadi pesta-pesta, seperti berlakunya jam malam dimana tiba-tiba wifi hanya sampai pukul 9 malam, meski internet tidak sepenuhnya menjadikan orang produktip tapi dengan wifi dimatikan sudah merupakan upaya pembatasan terhadap kreatifitas mahasiswa di kampus, cctv di pasang dimana-mana tapi maling masih saja ada, adanya prodi baru yaitu etnostudi yang entah siapa dosennya apalagi kajur karena baru dibuka dan tidak ada mahasiswanya, jumlah penerima beasiswa dibatasi, pembangunan fisik kampus yang terus menerus  termasuk berdirinya fakultas dan lain-lain, sementra hiruk-pikuk dalam kondisi material itulah (politik kampus) yang diperjuangan dalam pertentangan kelas bagi mahasiswa pergerakan di kampusnya.

Lantas pesta (kolaboraksi/kolaborasi dan aksi) untuk apa apabila hanya sebatas hiburan seperti kaum-kaum borjuis tempo dulu yang menghabiskan hari-harinya dengan pesta yang tidak jelas selain untuk memenuhi hasrat rendahan, apakah dasar kekuasaan (BEM) akan dibangun dengan itu sebagaimana yang dikatakan oleh Machiavellli bahwa “membunuh sahabat seperjuangan, menghianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memililiki rasa kasihan, dan tidak memiliki agama: kesemua hal ini tidak dapat digolongkan sebagai tindakan yang bermoral, namun dapat memberikan kekuatan..”

Sedangkan marx selalu mengandaikan bahwa relitas seperti sebuah tembok bangunan yang memerlukan pondasi, lantas pondasi apa yang akan mahasiswa bangun?
selamat bekerja.





Related

Kampusiana 7582918223031300931

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item