Headlines News :
Home » , » Pemilu Ketua Jurusan/Prodi Teater STSI/ISBI Bandung 2015-2019

Pemilu Ketua Jurusan/Prodi Teater STSI/ISBI Bandung 2015-2019

Written By LPM DAUNJATI on Rabu, 15 April 2015 | 15.21.00

            Bandung (15/04), Pemilihan Umum Ketua Prodi Teater STSI/ISBI Bandung periode 2015-2019 dimulai sejak pukul 13.00 WIB. Berlangsung di Pendopo Mundinglaya STSI/ISBI Bandung.  Terlihat, tidak semua dosen Prodi Teater hadir dalam pemilu ini. Menurut kabar, dari total 29 orang dosen teater, hanya 20 orang dosen yang ada di tempat. Sisanya, 9 orang dosen tidak hadir. Selain dosen, staf Prodi Teater juga hadir menyaksikan pemilu tersebut. Namun, sangat disayangkan, pemilu yang dilakukan secara terbuka itu tidak disaksikan oleh mahasiswa/mahasiswi teater karena banyak mahasiswa teater yang tidak mengetahui pelaksanaan pemilu tersebut.
Ada tiga orang dosen Jurusan Teater yang mencalonkan diri menjadi Kaprodi Teater. Tatang Abdulah calon Kaprodi Teater nomor urut 1; Ipit Saefidier Dimyati nomor urut 2; dan Fathul Ansori Husein nomor urut 3.  Mereka bertiga sudah menyiapkan konsepnya sebagai calon kaprodi dan akan mempresentasikan konsep tersebut.
Tatang Abdulah, sebagai calon kaprodi nomor urut satu mempresentasikan konsepnya lebih dulu. Dengan pakaian kemeja rapi, celana panjang & sepatu, Pak Tatang maju ke tempat presentasi yang sudah disediakan. Powerpoint berjudul “Konsep Langkah Kerja ke Depan Prodi Teater Seiring Redefinisi ISBI” adalah konsep yang diajukannya. Secara sistemtis, beliau memaparkan konsepnya. Dimulai dari latar belakang sejarah berdirinya Jurusan Teater ketika ASTI, saat perjalanan STSI hingga memasuki masa ISBI nanti. Perubahan orientasi visi & misi kampus yang dimulai dari ‘Daerah’ tahun 1971; ‘Nasional’ tahun 1995; hingga kini—di tahun 2015—orientasi visi & misi sudah memasuki kancah  ‘Dunia’. Selain itu, Pak Tatang juga membuat rencana Rekondisi Prodi Teater & Rencana Strategis Prodi Teater.
Rekondisi Prodi Teater yang ditawarkan beliau adalah Communal Behaviour, Budaya Kerja & Profesionalisme. Sedangkan, Rencana Strategisnya adalah Pengadaan Fasilitas Berbasis Teknologi, Pengayaan Kurikulum Berbasis Manajemen & Pengayaan Kurikulum Berbasis Profesi.
Ipit Saefidier Dimyati, sebagai calon nomor urut dua telah siap dengan materinya. Kopiah hitam, baju batik hijau & celana bahan yang nyentrik memeriahkan presentasinya. Dengan antusias, Bapak Rusman Nurdin berteriak-teriak “Viva Teater!! Viva Teater!!” saat Pak Ipit berjalan menuju meja presentasi. Sebelum membacakan “Rencana Program Prodi Teater”-nya, beliau lebih dulu menyampaikan  pengantarnya yang cukup dramatis. Pengantarnya diberi judul “The future’s uncertain, The end is always near”. Usia beliau sekarang adalah 53 tahun. Beliau telah berada di kampus ini sejak usia 20 tahun. Lalu, katanya “Lebih dari separo usia hidup saya dihabiskan di kampus tercinta ini... begitu banyak hal yang telah saya terima... tetapi begitu sedikit hal yang telah saya berikan untuknya.” Maka, mencalonkan diri sebagai Ketua Prodi adalah hal yang dapat dilakukannya. Beliau juga menerangkan, bahwa niatnya menjadi kaprodi adalah niat pribadi dan bukan karena ada pihak yang ‘mengendalikan’. “Betapa hinanya diri ini jika saya dianggap sebagai bagian dari suatu konspirasi untuk melanggengkan status quo. Tapi menurut pengamatan saya, tidak ada ’klik’ atau konspirasi jahat di Prodi Teater.”
Perencanaan program Bapak Ipit dibagi menjadi tiga bagian, yaitu program jangka panjang, program jangka pendek & program rutin. Program jangka panjang adalah target program yang hasil finalnya ada di akhir jabatannya. Program jangka panjang beliau adalah Pendirian Pusat Dokumentasi Teater Indonesia & Perluasan Minat Mahasiswa Teater. Dalam perluasan minat ini, minat penulisan lakon menjadi minat penulisan kreatif (bisa menjangkau cerpen, novel, script film, dsb.); mata kuliah teater daerah menjadi minat teater daerah; dan pengadaan mata kuliah teater boneka untuk dikembangkan menjadi minat teater boneka. Menurut Pak Ipit, dengan begitu Prodi Teater bisa diusulkan menjadi Fakultas Teater. Lalu, program jangka pendek, yang di dalamnya terdapat program-program seperti penyelenggaran World Theatre Day, produksi teater oleh Jurusan, penerbitan jurnal teater, penerbitan buku teater (minimal 1 buku pertahun), menghadirkan dosen tamu, praktikum luar kampus, dan kegiatan-kegiatan kerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Teater (KMT). Kemudian, program rutinnya adalah perkuliahan, pelaksanaan Tugas Akhir dan diskusi-diskusi.
Fathul Ansori Husein adalah kontestan terakhir dalam pemilihan ini. Beliau mendapatkan nomor urut tiga. Tidak panjang lebar bicara dan tanpa menggunakan powerpoint, beliau langsung memberikan 8 konsep yang menurutnya paling fundamental. Delapan poin tersebut adalah :
1.      Melangkahkan Program Studi Teater mendukung secara aktif dan kritis dalam centre of excellence (pusat keunggulan) kajian dan kreativitas seni-budaya berskala nasional maupun internasional.
2.      Prodi Teater harus bisa menggunakan kekuatan dasarnya bagi proyek pengembangan masa depan dunia teater, pendidikan teater nasional dan memberi kontribusi signifikan kepada kebudayaan teater dunia.
3.      Dalam eksistensinya, kini Prodi Teater telah menemukan ruang dan waktu paripurna untuk mengumumkan diri sebagai ‘pusat keunggulan’ dunia teater dalam pengertian yang luas dan mendalam.
4.      Memperluas prestasi (nasional maupun internasional) baik dalam bidang kajian maupun karya seni dengan jatidiri sebagai ‘pusat dunia’ (axis-mundi) dalam jagat teater untuk menciptakan posisi tawar lokalitas.
5.      Pemekaran dan pengembangan program-program studi berbasis teater dengan fondasi keberakaran dan kebersejarahan jati diri tersebut.
6.      Menciptakan sinergi dan relasi resiprokal yang sublim dan efektif antara aspek readability (keterbacaan/wacana/kajian) dan aspek performability (pertunjukan/kreativitas karya seni).
7.      Perlunya SDM yang kredibel dan akuntabel dalam bidang-bidang yang mutlak diperlukan dan hingga menuntut spesifikasi yang kompleks, berkaitan & terarah.
8.      Last but not least, dengan konsolidasi, rekonsiliasi & silaturahmi. Demokratisasi adalah jembatan pertamanya dengan tujuan musyawarah mufakat dan tidak memaksakan kepentingan pribadi
Beliau juga menambahkan, kenapa kebijakan-kebijakan ‘suka’ ditentang oleh mahasiswanya sendiri, karena persoalan demokratisasi. Kemudian, kalimatnya diakhiri dengan salam dan “Viva Teater!!!”
Ketiga kandidat sudah memaparkan konsep-konsepnya terhadap Program Studi Teater apabila mereka terpilih menjadi Kaprodi Teater. Lalu, panitia melihat jumlah hak suara yang dimiliki oleh dosen-dosen. Karena, pembawa acara mengatakan “aturannya limapuluh plus satu”. Secara kuorum, dosen tidak bertambah jumlahnya, namun sudah memenuhi kuorum yang dibutuhkan. Kemudian, satu persatu dari para dosen yang berjumlah 20 orang itu maju mengambil surat suara, memilih di bilik suara dan memasukan hasil pilihannya itu ke kotak suara.
Sudah menjadi risiko bagi program studi teater apabila para dosennya selalu membuat spektakel-spektakel dalam berbagai kesempatan. Ada yang mengucapkan jampi-jampi ketika memilih; ada yang ‘senang’ berteriak “Viva Teater!!!”; ada yang ‘senang’ menjawab “Bravo!!!”; hingga yang nyeletuk ketika kandidat presentasi di hadapan umum.
Setelah pemilihan selesai, waktu yang paling ditunggu-tunggu adalah perhitungan surat suara. Ketiga calon terlihat agak gelisah namun tetap dengan senda-gurau antara calon satu dengan calon lain sambil digoda oleh orang-orang sekitar. Pembawa acara kembali mengambil alih jalannya acara dan mengkondusifkan para peserta pemilu. Sebelum penghitungan dimulai, pembawa acara meminta dua orang saksi. Bapak Yayat HK dan Ibu Retno Dwimarwati maju ke depan untuk menjadi saksi dalam penghitungan ini. Setelah itu, dimulailah penghitungan suara.
Satu persatu suara diambil dan dinyatakan sah oleh kedua saksi. Suara pertama yang dihitung adalah suara yang memilih nomor urut 3, Fathul A Husein. Lalu nomor urut 1 dan nomor 2. Setiap ada suara yang dinyatakan sah, para dosen pemilih berteriak memberi semangat. Siapapun calon yang namanya disebut, semua ikut berteriak riuh pesta demokrasi. Hingga penghitungan hasil akhir suara sebagai berikut:
1.      Tatang Abdulah                         4 suara
2.      Ipit Saefidier Dimyati                5 suara
3.      Fathul Ansori Husein               11 suara
Suara tidak sah                           0 suara
Tidak hadir                                 9 suara
TOTAL SUARA                          29 suara
            11 suara yang didapatkan oleh Fathul A. Husein membawa beliau ke kursi Kaprodi Teater STSI/ISBI Bandung periode 2015-2019. Para calon dan dosen bersalaman tanda sportivitas hasil pesta demokrasi Prodi Teater. Lalu, spektakel terakhir dilakukan oleh bapak Yayat HK dengan menyiramkan air mineral kepada Kaprodi Teater terpilih sebagai bentuk ucapan selamatnya. [Muhamad Habib Kusnadi]


Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Saya alumni Teater ASTI/STSI/ISBI Bandung mengucapkan selamat dan sukses bagi Bapak Fathul A.Husein atas terpilihnya sebagai Kaprodi Teater STSI/ISBI Bandung. Periode 2015 - 2019. Semoga diberi kelancaran dalam tugas-tugasnya serta amanah. Amiiiin. Salam. Viva Teater....!!!

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger