LINGKARAN KAPUR PUTIH: Brecht Mencari Brecht

(Photo By Immanuel Deporaz)

Lingkaran Kapur Putih Karya Bertold Brecht (saduran Dra. Sugiyati Anirun – terjemahan R.S Hartono,S.H.)
Laskar Panggung, Sutradara Yusef Muldiyana
G.K Rumentang Siang Bandung, 16 Mei 2015



                                                         

Oleh John Heryanto

“Teater seharusnya menjadi jalan perubahan sosial  yang bisa diyakini dan diperdebatkan”
 (Bertold Brecht)
lingkaran kapur putih adalah lingkaran keadilan
lingkaran kapur putih adalah lingkaran keadilan…

Begitulah kiranya sebuah nyanyian saat pertunjukan dimulai, terlihat  sekelompok orang menari dengan menggunakan topeng berwana putih, baju kaos hitam dan samping selutut. panggung terihat seperti sebuah taman dengan tugu ditengah; patung seorang laki-laki sedang berdiri mengangkat timbangan di tangan kiri dengan kepala tertutup serta tali-tali yang menggantung dari langit semacam tanaman rambat yang jatuh dari pohon besar, disamping kiri dan kanan tugu ada anak tangga setinggi trap  sehingga terlihat berumpak, di apron kiri tempat pemusik dan dikanan nampak seorang dalang.

Alkisah di sebuah negara terjadi peperangan akibat perebutan kekuasaan yang bermula dari kudeta bupati, keluarga raja terpaksa mengungsi ke tempat yang lain dan dalam ketergesahan tersebut sang putri terpaksa meninggalkan bayinya karena kesibukan menyiapkan pembekalan dipengungsian, sementara para prajurit berperang,pada akhirnya sang raja pun dipenggal kepalanya. lantas anak yang ditinggalkan tersebut diambil oleh pelayan kerajaan bernama Darti dan riwatnya hingga tumbuh menjadi anak-anak.

Ketika sang putri (ratu keraajaan) menemukan kembali putra mahkotanya dia berencana untuk mengambilnya kembali dengan tujuan guna medaptkan hartanya kembali. Darti ibu angkatnya tak terima ketika anaknya diambil oleh sang putri, mengadulah ke pengadilan dan terjadilah persidangan guna memperebutkan hak asuh anak tersebut.sidangpun dimenangkan oleh Darti dan kekayaan putra mahkota disita menjadi milik kota, untuk dijadikan taman bermain anak-anak.


Pertunjukan lingkaran kapur putih yang digarap oleh Yusef Muldiyana dengan menggunakan metode Brecht berlangsung kurang lebih selama 90 menit,  kiranya dalam naskah inilah dapat dilihat bagaimana Brecht menyatakan pandangannya dalam teater, terutama pada adegan pengadilan dimana sang hakim menggunakan teknik retorika dan mendemonstrasikan sebuah kasus dengan contoh-contoh, untuk mengkritik sikap konvesional terhadap legitimasi hak milik.

Namun sayang kebanyakan para aktor dalam pertunjukan ini terlihat agak kaku seolah-olah hasrat dan perasaannya tidak hadir dalam peristiwa dipanggung, sedangkan bagi Brecht hasrat dan sikap aktor didasarkan pada pikiran atas tanggapan terhadap kejadian, hal itu pula yang mendorong alienasi guna melukiskan gestic style. Diantara para pemain kiranya tokoh Asdaf (Kemal Ferdiansyah) mampu memperlihatkan autentiknya serta mampu menghindari efek musik yang melukiskan suasana melainkan sebagai sebuah dorongan bagi pergolakan peran sebagimana yang dimaksudkan. Pertunjukan tersebut dapat dibaca bagaimana Brecht menyatakan gagasan seninya, dimana setiap kondisi dapat berubah dan patut untuk dipertanyakan ulang. selamat dan sukses untuk Laskar Panggung.

“Nilai hiburan dari teater merupakan salah satu kriteria keberhasilan  menyampaikan pesan dapat diukur, diamana teater membawa penonton pada kebenararan situasi masyarakatnya” (Bertolt Brecht)




Related

Teater 3133951696044689957

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item