Aktor,Tubuh dan Pemberontakan*

Oleh: Ipit S. Dimyati**


Solo Performance: Body Poetry / John Heryanto. Foto: Ahda Imran
Siapakah aku? Aku adalah petani, tukang batu, seniman, konglomerat, dan entah apa lagi…namun sekaligus aku bukan itu semua. Aku merupakan kesadaran yang terarah kepada sesuatu yang ada di luar. Aku tidak bisa memahami diriku sebagai kesadaran yang terarah kepada sesuatu yang ada di luar. Aku tidak bisa memahami diriku sebagai kesadaran murni atau kesadaran yang tertutup. Aku hanya bisa memahami diriku sebagai petani, sebagai tukang batu, sebagai konglomerat, dan entah apa lagi…

Namun aku menyadari bahwa aku bukan itu semua. Artinya, predikat-predikat yang melekat dalam diriku hanyalah status-status yang bisa aku tanggalkan. Mungkin hari ini aku menjadi petani, namun besok mungkin aku berubah, jadi apa pun yang aku inginkan bila tak ada sesuatu pun yang menghalangi aku untuk menjadi apa saja, baik halanagan yang bersipat sosial maupun personal. Petani bukanlah hal yang terberi, sudah dari “sana”-nya. Inilah salah satu ambiguitas manusia: ia sadar akan dirinya saat ia menyandang status sosial tertentu, tapi ia pun bisa menanggalkan status tersebut untuk berganti dengan status lainnya. Manusia tidak bisa hadir di dalam ruang tanpa status apa pun. Saat ia menanggalkan   satu status, ia msti menyandang status lainnya agar dirinya bisa ‘ada’ sebagai subjek yang berhadapan dengan subjek-subjek lainnya.

Ketika aku menyandang sebuah status, aku menghayatinya sebagai “aku-tubuh” yang hadir dalam dunia. Tubuh bukanlah mesin yang digerakan oleh jiwa. Tubuh merupakan subjek yang melibatkanku di dunia. Aku bisa mempersepsi dunia dan berdiri dalam suatu perspektif karena aku merupakan “tubuh-subjek”. Manakala aku-tubuh menyandang sebuah status, maka aku berdiri dalam suatu perspektif yang terbatas.  Demikianlah manusia, ia tidak bisa lepas dari keterbatasan – keterbatasan perspektif. Keterbatasan perspektif  tentu saja mempengaruhi keterbatasan persepsi.

Bila ia dihubungkan dengan dengan aku-tubuh yang sedang menyandang sebuah status, keterbatasan persepsi dapat menyebabkan  aku memandang diriku beserta tubuhku sebagai hal yang terberi, tak bisa berubah.  Seorang tukang batu, setiap hari memukulkan martilnya ke atas batu yang keras dan besar, menyebabkan tangannya berotot dan terlihat urat-uratnya, serta konstruksi tubuhnya terbungkuk. Karena ia sudah sejak lama melakuakan itu, ia sudah tidak lagi menyadari lagi bahwa bentuk dan konstruksi tubuhnya terwujud disebabkan oleh pekerjaannya yang dilakukan secara berulang-ulang. Ia menerima kondisi tubuhnya seolah-olah sudah terberi  atau takdir yang memang harus demikian. Saat ia mempersepsi tubuhnya dengan sebuah perspektif yang terbatas seperti itu, maka secara sadar atau tidak ia menerima status tukang batu itu pun sebagai status yang tetap, tertutup, dan tak lagi memiliki pilihan.

Menyadari kondisi tubuh, lalu bebas mengubahnya menjadi apa pun yang kita inginkan, berarti menjadikan subjek berdiri di hadapan pilihan-pilihan. Dan manusia tidak bisa untuk tidak memilih. Timbulnya kesadaran sebagai aku, seperti sudah kita lihat, karena dia terarah kepada sesuatu yang ada di luarnya. Namun, agar manusia bisa memperkaya perspektif, dan tidak memandang hidup sebagai nasib yang sudah terberi dan pasrah terhadap keadaan, ia mesti menyadari bahwa tubuh subjeknya bisa menyadari apapun, sesuai dengan yang diinginkan.

Aktor merupakan sebuah status . Namun, dalam hubungan dengan tubuh, aktor menjadi seorang ‘pemberontak’ yang ingin selalu berada dalam kondisi liminal, yakni sebuah kondisi ambang antara antara ‘ada’ dan ‘tiada’. Artinya, karena aktor menggunakan tubuh sebagai media ungkap, ia akhirnya tidak ‘menjadi apa-apa’. Untuk mencapai kondisi itu ia, tentu saja seorang aktor harus selalu menyadari tubuhnya.

Bila ia dihubungkan dengan aku-tubuh yang sedang menyandang sebuah status, keterbatasan persepsi dapat menyebabkan aku memandang diriku beserta tubuhku sebagai hal yang terberi, tak bisa berubah. Seorang tukang batu, setiap hari memukulkan martilnya ke atas batu yang keras dan besar, menyebabkan tangannya berotot dan terlihat urat-uratnya, serta konstruksi tubuhnya menjadi terbungkuk. Karena ia sudah sejak lama melakuakan itu, ia sudah tidak lagi menyadari bahwa bentuk dan kontruksi tubuhnya terwujud disebabkan oleh pekerjaannya yang dilakukan secara berulang-ulang. Ia menerima kondisi tubuhya seolah-olah sudah terberi atau takdir yang memang harus demikian.  Saat ia mempersepsi tubuhnya dengan sebuah perspektif yang terbatas seperti itu, maka secara sadar atau tidak ia menerima status tukang batu itu pun sebagai status yang tetap, tertutup, dan tak lagi memiliki pilihan.

Menyadari kondisi tubuh, lalu mengubahya menjadi apa pun yang kita inginkan, berarti menjadikan subjek di berdiri hadapan pilihan-pilihan. Dan manusia tidak bisa untuk tidak memilih. Timbulnya kesadaran sebagai aku, seperti sudah kita lihat karena dia terarah kepada sesuatu yang ada diluarnya. Namun agar manusia bisa memperkaya perspektif, dan tidak memandang hidup sebagai nasib yang sudah terberi dan pasrah terhadap keadaan, ia mesti menyadari bahwa tubuh subjeknya bisa menyadari apa pun, sesuai yang diinginkan.

Aktor merupakan sebuah status. Namun dalam hubungan dengan tubuh, aktor menjadi seorang ‘pemberontak’ yang ingin selalu berada dalam kondisi liminal, yakni sebuah komdisi ambang antara ‘ada’ dan ‘tiada’. Artinya aktor menggunakan tubuh sebagai sebagai media ungkap. ia akhirnya tidak ‘mejadi apa-apa’. Untuk mencapai kondisi itu, tentu saja seorang aktor harus selalu menyadari keadaan tubuhnya.

Saat Suyatna (alm)membawakan tokoh Raja Lear yang garang, gila dan meledak-ledak dalam berbicara (suatu karakter  yang bertentangan dengan keseharian beliau yang pendiam, lungguh), akting yang bagus dan banyak dipuji orang itu tetap tak bisa menghilangkan aktualitas tubuh Suyatna: mata, warna suara, cara melangkah, postur, hidung dan sebagainya. Ini merupakan ambiguitas manusia yang lainnya. Kondisi liminal selalu ada dimana-mana. Suyatna akan tetap Suyatna meski ia berusaha mengubah tubuhnya menjadi apa pun. Di atas panggung selalu saja terjadi peralihan antara diriku dengan diri yang kumainkan. Ini bukanlah cacat. Ini hanya keterbatasan yang dimiliki manusia sebagai bagian dari alam. Hanya saja, sebagai aktor ia lebih menyadari bahwa aku semestinya bisa menjadi apa-apa, tidak tergantung pada kondisi sosial yang dibangun oleh orang-orang yang berusaha menjaga status quo agar tidak berubah.

Akhirnya, aktor adalah pemberontak pada keterbatasan-keterbatasan yang diberikan baik oleh alam maupun kehidupan sosial, atau pun hasil pemberontakannya. Setidaknya ia bertopang dagu berada dalam kondisi yang menekan, tapi berusaha menjaga agen bagi perubahan-perubahan.
______________                
*)Majalah Daunjati edisi VII/2012 hal 
**) Ipit S.Dimyati, dosen Jurusan Teater STSI Bandung.



Related

Teater 7827584226803453937

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item