Headlines News :
Home » , » Dramaturgi dan Udang di Lemari Pakaian*

Dramaturgi dan Udang di Lemari Pakaian*

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 21 Juni 2015 | 08.07.00

oleh: Beny Yohanes**

Dramaturgi: Antara estetik dan hegemonik

Museum Teater  :John Heryanto (WTD-KMT) Foto: Ajang Daunjati

Sebuah tradisi teater selalu dikawal oleh lahirnya dramaturgi yang khas. Jika teater adalah praksis estetika, maka dramaturgi mewujudkan disiplin teoritiknya. Maka dramaturgi tidak lahir dari interes sosial. Di sisi lain, dramaturgi juga bukan kontruksi teoritik yang murni ‘ilmu’. Dramaturgi adalah respon kultural dan intelektual, dengan asumsi tertentu atas fungsi sosial teater yang bisa diperankan. Hal ini yang menyebabkan konsep-konsep dramaturgi secara implisit selalu membayangkan peran ideal teater dalam arus pertumbuhan nilai-nilai dalam masyarakat.

Jika teater dapat mengambil peran dalam pertumbuhan nilai-nilai politik dan filsafat, maka dramaturgi mengarah pada tujuan konstitutif antara manusia, alam, dewa dan pengaturan aspek-aspek harmonisnya. konsep ‘katarsis’ dari Aristoteles menegaskan tujuan itu. Namun, jika alam dan manusia tidak lagi terikat dalam regulasi subordinatif, dan kehadiran manusia menjadi lebih sentral dalam kosmos dunia, maka ekspresivitas dan personalitas hasrat menjadi ukuran baru bagi legalisasi nilai-nilai. Dalam konteks ini, rumusan strum und drang dari Goete-Schileer, menjadi panduan dramaturgis yang menarik.

Jika peran kelas menengah menguat dalam masyarakat, maka dramaturgi bergerak ke arah pemahaman antroposentris. Manusia diperlihatkan sebagai entitas psikologis, dengan visi intelektual dan orientasi moral, yang terintegrasi dalam satu identitas individual. Manusia adalah sosok yang round dan kompleks. Dramaturgi yang mentitahkan untuk mengali dunia-dalam (inner-life) manusia, dijewantahkan dalam dramaturgi Stanislavskian. Tetapi, jika arus pergeseran visi politik makro dan konsistensi ideologi menjadi medan pertaruhan baru untuk menjadikan hero-hero sosial yang terlibat, maka dramaturgi Brectian, yang mempromosikan konsep alienasi dan teater epik, menjadi pondasi baru untuk rasionalitas teater.

Namun, jika kapasitas teater untuk mengubah konvensi persepsi lewat daya-kejut magis dan eksplosi bahasa meta-teater, dinilai lebih penetratif untuk mengguncang mindset yang terkapasitasi. Maka dramaturgi Artaudian, dengan konsep theatre of cruelty, akan jadi pilihan yang inspiratif. Sedangkan, jika teater ditempatkan sebagai instrumen perjuangan kelas, untuk tujuan konsistensi dan provokasi publik atau untuk membangunkan nyali politik masyarkat tertindas, maka dramaturgi Boalism menawarkan rumusan-rumusan yang lebih revolusioner. Atau, jika ada kebutuhan untuk memvitalisasi konsep manusia dalam paradigma antropologi tubuh, untuk menjawab kebutuhan purifikasi dengan mengenyahkan segala ornamentasi artistik yang tidak subtansial, maka pendekatan dramaturgi Grotowskian, menjadi orientasi estetik yang lebih menantang. Konsep-konsep dramaturgi selalu diberdirikan lewat kehendak visioner teater, tetapi yang selalu terkait dengan konteks aktual dari fenomena pertumbuhan masyarakat yang mempengaruhinya.

Dramaturgi, dengan demikian menyajikan unsur-unsur responsi politis filosofis, kritik budaya, penemuan substansi estetik teater, serta perumusan fungsi terafetik teater bagi masyarakat saat itu. Kompleksitas teoritik sebuah konsep dramaturgi merefleksikan juga kompleksitas persaingan nilai-nilai estetik dengan nilai-nilai hegemonik dan struktur inetitusional masyarakat. Dengan kata lain, dramaturgi adalah fiksasi dari model perjuangan sosial dengan memakai instrumen artistik teater sebagai alat ucapnya.

Dramaturgi di Indonesia

Dramaturgi di Indonesia belum menunjukan tradisi pengilmuan yang sistematis. Apakah dramaturgi menjadi bagian dan tugas dari tradisi akademik teater atau hanya merupakan penyairan dari pola latihan dan model produksi teater dalam kerja kelompok? Secara faktual, tidak nampak ada resiprokatalitas yang produktif antara tradisi kelompok. Akibatnya, tradisi akademik teater berada dalam isolasi  yang tidak fungisional. Sementara, aktivitas pengilmuan teater yang dibangun dari tradisi kerja kelompok, tidak memiliki ruang pergaulan ekstensif untuk menguji ruang pergaulan eksistensif untuk menguji nilai-nilai metodis yang dikembangkan.
Sejak ATNI mengadopsi metoda Stansislavski sebagai basis kurikulum pendidikan akademis teater, maka dramaturgi yang berkembang sangat menonjolkan prinsip representasi realitas. Teater lebih berurusan untuk menyuguhkan logika-logika antroposentris. Tradisi akademis ini dipromosikan oleh Asrul Sani, diapresiasi kemudian oleh Suyatna Anirun, Teguh Karya, dan Wahyu Sihombing/ Tatik Maliyati. Fenomena ATNI mengalami diskontinyuitas, sebab berdirinya program studi teater di beberapa perguruan tinggi seni tahun 70-80’an, tidak sungguh-sungguh meneruskan program dan orientasi pendidikan akademik teater, yang berbasis pada penguatan metodis teater.

Sementara itu, sejak Rendra bersama Bengkel Teater-nya menggunakan basis kebudayaan bagi etos kerja teater, maka metode latihan teater dalam kelompok memperoleh solidaritasnya. Selanjutnya pertumbuhan wacana teater bergeser dari artikulasi akademis objektif menjadi kontemplasi personal seniman yang subjektif. Subjektivitasi prinsip-prinsip dramaturgi, berkembang dari sumber ini. Maka, ‘ilmu’ teater menjadi lebih identik dengan kredo kesenimanan, pola dramaturgi yang subjektif ini makin menguat sebagai ‘ilmu teater kelompok’, dan seiring dengan itu pakem-pakem dramaturgi menjadi orientasi pada pencapaian style pemangungan. Pada tingkat ini, kepercayaan empatis terhadap kredo menjadi penting, dari pada verifikasi terhadap metoda teaternya. Akibatnya kontruksi teoritik pemanggungan hanya diarahkan untuk mengartikulasikan prinsip-prinsip substantif dalam praktek latihan, tetapi tidak menyuguhkan argumen-argumen keilmuan teater yang lebih holistik. Dalam kontruksi teoritik ini biasanya hanya dikonservasi oleh satu dua figur karismatik dalam kelompok. Pembentukan konsep-konsep dramaturgi sebagai ‘ilmu teater kelompok’ memang tidak bisa dilepaskan dari pemusatan wacana dalam figur karismatik.

Di luar model pendidikan akademis teater, progresi teater di Indonesia memang sangat bertumpu pada survivalitas kelompok teater. Pola kelahiran kelompok-kelompok teater memang tidak menghasilkan sebuah mainstream teater, karena selalu berlangsung dalam pola dekonsentrasi. Lahirnya kelompok baru lebih nampak sebagai gerakan fraktal, the act of breaking. Setiap kelompok teater baru selalu membawa ’luka dan sentimen perpecahan konsep’ dari kelompok induk sebelumnya. Perpecahan frakal ini menimbulkan situasi immaturitas metode. Generasi peteater kemudian, tidak lagi memiliki minat untuk melakukan pengujian yang tuntas atas pencapaian kreatif dan estetis dari generasi peteater pendahulunya. Kelompok teater baru cenderung menjadi pesaing-psikologis dan bukan pesaing metodis. Akibatnya, sosialisasi pencapaian kreatif dari sejumlah kelompok teater yang kuat, tidak pernah memiliki medan apresiasi yang urgen. setiap kelompok yang baru bertumpu pada realitas yang ‘tanpa silam’.

Namun tradisi kerja kelompok adalah satu-satunya tradisi historis teater, yang merekam pertumbuhan kreasi teater dalam ‘kesinambungan yang tidak sinambung’ itu. Sejarah teater yang tertulis adalah sejarah pertumbuhan kelompok-kelompok teater, yang menyajikan panorama variasi dari pola fragmentasi yang terus menerus. Kecuali ATNI, ASDRAFI, dan IKJ, yang punya legitimasi historis dalam memberi sentuhan akademis pada praksis berteater, maka kontribusi pendidikan tinggi teater sebagai sebuah sistem institusional, belum memperoleh posisi yang sungguh-sungguh diakui.

Sejak Bengkel Teater hingga Teater Garasi, dalam rentang waku sekitar empat dekade lebih, pertumbuhan konsep-konsep dramaturgi makin terspesialisasi untuk hanya menjadi instrumen teoritik dalam tradisi kerja masing-masing kelompok. Ini bisa dimengerti, karena beberapa alasan. Pertama, karena pertumbuhan teater di Indonesia tidak di desain dalam kerangka integratif, seperti konsep Teater Nasional. Kedua, karena dalam setiap kelompok teater terkonvensi suatu paradigma paternalistik,  yaitu paradigma berkreasi yang berpusat pada wacana tunggal seorang sosok karismatik. Ketiga, karena kulminasi kratifitas kemudian hanya terarah pada pencapaian style grup, dengan menenggelamkan proses individuasi ke dalam kelompok itu.

Udang di lemari pakaian

Gejala di atas mengindikasikan  bahwa medan wacana dalam teater modern di Indonesia lebih terkonsentrasi pada lingkaran internal masing-masing kelompok. Di sisi lain, medan eksternal teater tidak berhasil memvitalisasi  satu isu kolektif, yang dapat digunakan sebagi point of depature untuk merumuskan kontruksi-kontruksi teoritik teater, yang bersipat lintas kelompok. Sejak generasi Asrul Sani di tahun 50-an yang mencoba merumuskan visi teater pasca-proklamasi, jenis wacana teater nasional yang mengangkat isu-isu ideologis teater, tak pernah muncul lagi ke permukaan. Sementara itu model-model ekspresi kultural yang lebih dominan, seperti film, televisi, musik, kultur pop dan budaya konsumtif, berkembang menjadi kian populis dan prestisius. Arus budaya instan telah menguasai  pengalaman perseptif dan mengunci selera publik ke dalam medan hiburan yang lebih hipnotik, karena lebih menjanjikan konsumsi dan popularisasi. Ironisnya, ‘ilmu teater yang tak berhasil menuju kematangan konseptual, nampak merosot, stagnan, nostalgik, duplikatif. Pendidikan akademis teater mengalami devitalisasi serta terisolasi, di tengah pengalaman publik yang makin beragam ekstensif.

Teater menghadapi beban kemiskinan teoritik dalam lingkaran internalnya, sehingga model produksi yang dijaga hanya sebatas memanjakan umur kuantitatif grup, sambil memperoduksi label estetik dan style garapan. Invensi terhadap dasar-dasar dramaturgis untuk mencapai metodis teater, tidak memiliki medan verifikasi di lingkungan eksternalnya, sehingga tetap menjadi konsep yang disartikulatif. Sedangkan acara faktual teater juga menghadapi ancaman disfungsi sosial, karena proses peluruhan minat publik oleh kekuatan habituasi media. Minat publik tercangkok model resepsi yang Cuma pragmatis. Sedangkan kreasi kelompok teater juga menimbulkan persuasi publik yang efektif lagi, karena dramaturgi kelompok juga belum mampu dikembangkan dan diuji substansi ideologisnya secara lintas kelompok dan lintas zaman, yang memungkinkan teater bisa memiliki ranah ideologisnya untuk memacu dialektika kreatifitas yang ikut terlipat di lemari pakaian. Kurikulum tidak mengembalikan udang habitat naturalnya, tapi membuat udang kehabisan nafas di saku celana. Bisa ditebak, udang yang sigap berenang itu cuma ngahephep di dunia saku.   
______________________

*) Esai ini disampaikan dalam bentuk makalah oleh Beny Yohanes dalam diskusi mingguan Keluarga Mahasiswa Teater “Memetakan Kembali Teater Indonesia” 24 April 2008. dimuat di Majalah Daunjati edisi 14 /Juni /2008.
**) Dosen Jurusan Teater STSI Bandung
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger