Kebijakan Ekonomi Pendidikan Seni*

Oleh: Taufik Darwis**

Pendidikan dan kebudayaan secara fundamental sangat berhubungan. malah hampir-hampir identik. Proses pendidikan baik formal dan impormal memainkan peran utama dalam membentuk nilai-nilai budaya, membuka pengalaman budaya dan merangsang aktivitas budaya dari semenjak pra-sekolah. Konsep dasar yang digunakan oleh para ekonom dalam menganalisis pendidikan adalah modal manusia. Dan penafsiran produksi dalam perekonomian mendasarkan pada kategori tiga sumber daya/input: lahan, tenaga kerja dan modal (modal fisik dalam bentuk bangunan, mesin, peralatan, dsb).

Ekonom Theodore Schultz dan Gary Becker di University of Chicago mengembangkan teori human capital, berdasarkan pada proposisi bahwa kapasitas dan keterampilan manusia terdiri suatu bentuk modal, seperti modal fisik, yang produktif  dalam menghasilkan output ekonomi. Konsep “modal manusia” memiliki implikasi untuk menganalisis permintaan untuk pendidikan, baik tingkat individu dan sosial:

Individu: dapat diamati dalam peningkatan produktivitasnya sebagai hasil dari memperoleh ide-ide baru dan keterampilan yang berguna di tempat kerja. Menyebabkan dirinya dihargai yang lebih tinggi dari pada yang dicapai oleh pekerja yang sama tetapi tidak berpendidikan.

Sosial: Manfaat serupa dinikmati oleh masyarakat secara keseluruhan sebagai akibat dari investasi publik dalam pendidikan. manfaat dari pendidikan jauh lebih luas dari pada hanya diukur dengan prestasi tenaga  kerja yang lebih produktif, karena dapat bermanfaat bagi: kohesi sosial, berkurangnya kejahatan dan kekerasan, proses politik berfungsi lebih baik, menurunkan biaya kesejahteraan, pasar yang lebih efesien; memperbaiki komunikasi, kualitas media yang lebih tinggi, dan basis kuat untuk perpindahan anatar generasi.

Perinsip umumnya adalah investasi publik dalam pendidikan (atau seharusnya) dipadu oleh penilaian biaya-manfaat yang luas, di mana tingkat pengembangan atas investasi ditafsirkan untuk menutupi secara langsung kedua dampak ekonomi dan manfaat sosial yang lebih luas. Pada gilirannya, campuran sumber-sumber keuangan publik dan swasta, setidaknya pada tingkat pasca-sekolah, harus mencerminkan keseimbangan masyarakat dan keuntungan pribadi yang diperoleh. Namun dalam kenyataannya, keseimbangan antara pendanaan publik dan swasta pendidikan ditentukan dari politik dari pada pertimbangan ekonomi.

Di sisi lain, para ekonom telah cukup maju dalam beberapa tahun terakhir dalam mengukur permintaan barang-barang publik, dengan menggunakan metode survai untuk mengukur kesediaan masyarakat  membayar manfaat yang terasa. Jadi, cukup layak untuk merancang sebuah contingent-valuation (studi ketergantungan-pe-nilai-an) untuk menaksir seberapa banyak angka populasi pada publik, baik yang tidak terwujud, atau yang dapat diukur dalam ekonomi sebagai pedoman dasar kebijakan. Di bawah ini adalah beberapa jalan agar kebijakan pemerintah terhadap pendidikan seni untuk anak-anak usia sekolah dapat dikerjakan:
  1.   Penggabungan seni kreatif dalam kurikum negara ditetapkan pada semua tingkat (TK-SM). Penyediaan sumber daya untuk sekolah (bahan-bahan seni visual, alat musik, dll, dan fasilitas infrastruktur untuk pengajaran). pelatihan guru dalam seni, untuk menjamin pasokan yang memadai dari guru yang cukup baik dengan karir menarik. Membiayai seniman-seniman dalam program-program sekolah untuk membawa seniman profesional lintas bentuk-bentuk seni ke dalam sekolah-sekolah untuk berbagai periode waktu.
  2. Kemitraan dengan organisasi budaya publik dan swasta untuk memfasilitasi kunjungan sekolah, misalnya ke galeri, museum, pertunjukan teater, studio seniman, dll. Program liburan untuk anak-anak seperti kamp musik atau kunjungan budaya. out-of-school progrmmes, yang menggunakan seni untuk mendidik anak-anak.



Pendidikan dan Pelatihan Seniman  

Keputusan individu, untuk bisa memulai karir artistik dalam hal ekonomi, akan berperan sebagai salah satu investasi dalam modal manusia. Calon seniman perlu mempertimbangkan biaya modal individu bahwa ia akan dikenakan biaya ketika menjalani pelatihan (uang kuliah, bahan produksi, dll), dan untuk selanjutnya hasil ekonomis akan diukur dengan waktu-aliran imbalan keuangan sampai ke masa depan. Perhitungan analisis biaya-manfaat dapat diterapakan untuk melihat, apakah pengembalian keuangan/penghasilan akan mengembalikan modal awal.

Aplikasi semacam ini berhadapan dengan kesulitan praksis dalam situsi apa pun, tetapi tidak sulit untuk melihat bahwa ada masalah khusus pada pendekatan ini bila diterapkan untuk seniman.
Dua kesulitan utama:

  1. Seniman mengharapkan penghasilan cendrung untuk menjadi relatif kecil dan tak terduga.
  2. Motif non-uang dalam hal apa pun akan jauh lebih penting dari pada mengharapkan imbalan keuangan dalam mendorong seniman untuk karir artistik.
  3. Model modal manusia memang memiliki beberapa relevansi dalam menganalisis konsekuensi ekonomi dari pendidikan seni. Contohnya: Apakah efek pelatihan awal seorang seniman benar-benar menjamin penghasilan artistik di masa depan? efek dari pendidikan seni dan pelatihan pada pendapatan seniman, adalah penting untuk membedakan antara: ‘creative’ income and ‘arts-related’income:


  
a.       Creative income: berasal dari inti praktek artistik dalam menciptakan karya seni original atau pertunjukan original.

b.      Art-related income: diperoleh dari pekerjaan profesional seorang seniman tetapi tidak berasal dari karya kreatif inti; contoh yang paling umum seperti seni yang berhubungan dengan pekerjaan mengajar: pelukis membuka kelas di sekolah seni, musisi mengambil muris pribadi kelas privat, dsb.

Di lihat dua perbedaan itu pendidikan seni memiliki efek yang kuat dari pada pendapatan seni yang terkait pada penghasilan kreatif dalam pelatihan berhubugan secara positif dan kualitas output kreatif. Kreatifitas seniman diakui sebagai sumber daya utama bagi ekonomi baru. Jika memang benar bahwa seniman adalah sumber utama bagi ide-ide kratif, maka dukungan pelatihan seniman profesional bisa memiliki hasil ekonomi, melalui kontribusi kreativitas mereka bagi perekonomian.

Evolusi ekonomi kreatif selama beberapa tahun terakhir, bersama-sama dengan perubahan struktural dalam pasar tenaga kerja, telah memberi dampak ganda pada pola karir artistik. tidak ada lagi jalur karir seniman linier, dari mulai pelatihan hingga praktek. Kualifikasi tidak selalu mengarah ke karir sebagi seniman profesional, pelatihan juga dapat dilihat sebagai pengembangan keterampilan yang mampu secara luas mengarah keberbagai aplikasi di perekonomian.

Pendidikan Sebagai penentu konsumsi seni

Selain latar belakang keluarga dan tradisi yang diwarisi dari konsumsi budaya menjadi penting dalam mengembangkan rasa orang-orang untuk seni, ada juga faktor penyebab yang cukup besar yang lain, yaitu pendidikan. juga diketahui bahwa pendidikan sangat berkolerasi dengan pendapatan, sehingga studi permintaan dalam seni harus bergulat dengan masalah serius multikolinearitas dalam mencoba untuk mengurai efek relatif pada permintaan pendidikan dan pendapatan secara independen dari satu sama lain.

Bahwa pendidikan dalam seni memiliki pengaruh yang signifikan terhadp pembentukan rasa dan akan mempengaruhi pola konsumsi artistik dengan cara yang mendasar. Fakta budaya ini memiliki implikasi bagi cara-cara yang mendukung seni disampaikan, memperkuat strategi pendidikan seni, 

Berbagai cara di mana pendidikan dan seni tradisi dari persilangan area signifikasi yang menarik bagi kebijakan budaya, memiliki implikasi ekonomi yang penting. Manfaat sosial dari pendidikan seni yang bertambah dari siswa sebagai individu dan untuk masyarakat secara keseluruhan. Baik karena pendidikan tersebut disampaikan untuk anak-anak sekolah dapat membangkitkan energi kreatif mereka. Pun untuk siswa senior yang mencari pelatihan profesional dapat membuka kemungkinan karir artistik.

Evaluasi manfaat dan biaya dari program pendidikan seni menggunakan investasi metode penilaian analisis ekonomi dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi perumusan kebijakan. Pada intinya, pendidikan seni di setiap tingkatan memberikan manfaat budaya substansial yang berharga dalam istilah mereka sendiri, tanpa mengacu pada setiap pembenaran/justifikasi ekonomi.
___________
*) disarikan dari The Economics of Cultural Policy, David Throsby,  Majalah Daunjati edisi 11 /Juni/ 2014.


**) Alumnus Jurusan Teater STSI Bandung, Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma.

Related

Pendidikan 1610894186978222112

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item