Headlines News :
Home » » Koreografer / Menuju Kematangan Koreografi*

Koreografer / Menuju Kematangan Koreografi*

Written By LPM DAUNJATI on Kamis, 18 Juni 2015 | 04.57.00

oleh: Alfiyanto**
Underdog: John Heryanto. Foto: Leo Davinci School

Seorang koreografer adalah kreator yang memiliki kemampuan multi dimensi dari kemampuan dari diri sendiri dan juga kemampuan di luar diri yang menciptakan suatu karya tari yang matang, tajam dari segi konsep, isi bentuk dan koreografi secara keseluruhan, sehingga membuat ketakjuban luar biasa yang berguna bagi diri sendiri dan orang banyak.

koreografi lahir dari sebuah kreatifitas yang datang dari dorongan untuk mencari da mencipta, yang kemudian menjadi sebuah transaksi antara dunia batin dengan dunia nyata. kreatifitas itu sendiri menyangkut pemikiran kreatif yang imajinatif, merasakan, menghayati, menghayalkan dan menemukan kebenaran.

kreatifitas tersebut dapat menghasilkan sebuah karya tari yang merupakan hasil dari kerja koreografer yang dipacu oleh adanya dorongan yang kuat untuk menciptakan hal-hal baru yang mencerminkan reaksi unik dari pengalaman-pengalaman batinnya. koreografer adalah seorang kreator yang menghasilkan karya cipta berupa koreografi. istilah ini baru dikenal di indonesia tahun 1961. (Salmurgiyanto).

Banyak hal yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang koreografer, yang pasti adalah kecerdasan  tubuh sebagai media ungkap paling dasar sebuah karya tari, yang akan selalu mengalir dalam tubuh koreografer, sehingga gerak yang dilahirkan oleh tubuh dapat memunculkan ilusi-ilusi, ruang imajinasi menjadi fleksibel dan luar biasa keberadaanya. Kecerdasan tubuh tersebut di transper melalui penari pendukung karya atau pun ditarikan sendiri.

Selain kreativitas dan kecerdasan tubuh di atas, ada beberapa poin yang tidak kalah pentingnya untuk seorang koreografer, yaitu:

Kemampuan Tubuh

Memiliki kemampuan tubuh yang baik dalam bergerak merupakan poin penting. Seorang koreografer akan kesulitan dalam mencipta atau menemukan gerak-gerak baru untuk sebuah karya tari jika kurangnya kemampuan teknik dan fisik dalam bergerak, pun miskinnya pengalaman tubuh. Kemampuan tubuh dalam bergerak disini seperti kemampuan dan teknik bergerak, karena kekuatan fisik akan berpengaruh terhadap psikologis koreografer dan penemuan gerak yang diinginkan, sedangkan kemampuan teknik sangat menentukan kualitas sebuah gerakan yang dihasilkan sebagai media ungkap.

Kepekaan Tubuh

Seorang koreografer sangatlah perlu memiliki kepekaan tubuh, karena kepekaan tubuh yang  memiliki sensibilitas tingi, dapat menangkap peristiwa-peristiwa yang terjadi dari dalam maupun dari luar tubuh sendiri, seperti kepekaan terhadap ruang, waktu, lingkungan, benda, manusia serta dapat mendobrak kemapanan. Tubuh yang memiliki sensibilitas tinggi kita sebut empati; memiliki kepedulian terhadap realitas di luar tubuh. Dari kepekaan tubuh akan melahirkan tubuh yang cerdas. Kecerdasan tubuh akan linguistik, musik, imajinasi, kepekaan tubuh akan gerak dan keberadaan ruang. semua ini suatu kecerdasan pribadi koreografer yang akan diungkapkan melalui karya dan kemudian dikomunikasikan kepada orang banyak.

Kematangan

Kematangan seorang koreografer ditentukan dari proses terus menerus, memanfaatkan totalitas tubuh yang mewujud menjadi sebuah bentuk yang dapat merasakan, melihat, membaca, berfikir, baik dari dalam maupun dari luar diri. Tubuh semakin sering berperoses akan menemukan banyak hal, seperti kematangan emosi, daya ungkap gerak, bersikap dalam menentukan dan memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan kreatifitas penciptaan.
Kecerdasan Pikiran

Kreativitas penciptaan tidak dihasilkan oleh adanya peniruan, akan tetapi menyangkut proses pemikiran imajinatif . Tari sebuah medium ungkap nonverbal, sangat bergantung kepada bentuk kesadaran yang berbeda dari cara berpikir biasa. Seorang koreografer sangatlah penting memiliki kecerdasan dalam berpikir untuk menemukan suatu ide, permasalahan, atau pun konsep yang kemudian diangkat menjadi sebuah isu yang akan diusung karya tari tersebut.
Kreatifitas

Dari kemampuan tubuh, kepekaan tubuh, kematangan dan kecerdasan munculah sebuah kreativitas yang inovatif dan berkualitas. Kreativitas sebuah persoalan pribadi. Kreativitas merupakan kemampuan koreografer  dalam melakukan pencarian ke dalam diri sendiri yang penuh dengan tumpukan pengalaman permukaan yang menghasilkan sajian yang dangkal akan tetapi suatu hal baru, menarik sehingga terjadi sebuah proses komunikasi antara seniman melalui karya tarinya dengan penonton.

Daya Hayal

Daya hayal membantu mengejewantahkan pengalaman batin ke dalam bahasa gerak. Gerak dalam bentuk yang paling murni mengalir dari sumber paling dalam dan tertuang secara imajinatif sehingga menghasilkan suatu ilusi.

Penuangan dari perasaan dan hayalan ke dalam gerak adalah aspek esensial proses kreatif koreografer. Kemampuan daya hayal seorang koreografer akan melahirkan kenakalan-kenakalan yang cerdas.

Percaya Diri

Percaya diri adalah modal yang sangat penting. Takut akan kegagalan dalan suatu kreativitas akan menghambat keluarnya ide-ide cemerlang, menghalangi kemampuan untuk menjelajah secara intuitif, terpenjara sebuah kebebasan. Percaya diri dapat menumbuhkan kehawatiran-kehawatiran yang muncul dalam diri, mempermudah bahkan memberi peluang terhadap sikap keterbukaan, pengalaman fisik maupun batin yang kemudian memberi dorongan dari dalam untuk menuntun dan menentukan terjadinya gerak sebagai sebuah ungkapan ekspresi jiwa.

Wawasan

Koreografer bukanlah kreator yang berkarya untuk dirinya sendiri, dan tidak hanya bicara intrinsik estetika. Lebih jauh koreografer harus melihat peristiwa dalam diri, orang lain, masyarakat, lingkungan bahkan alam semesta, kemudian diolah menjadi sebuah isu menggelobal baik , ekonomi, sosial, seni budaya atau pun politik.

Wawasan koreografer juga mempengaruhi cara pandang terhadap lingkungan di luar diri. Wawasan merupakan kemampuan untuk melihat apa yang kita lihat, membaca apa yang kita baca, mengerti, memahami, yang kemudian merasakan dan diungkapkan melalui karya tari.
Wawasan koreografer juga ternyata menyangkut kemampuan menajemen. Khususnya di Indonesia seorang koreografer harus bisa mengatur, mendesain sebuah pertunjukan dimulai dari gagasan, proses di studio, pra produksi hingga pertunjukan.

Seorang koreografer adalah kreator yang memiliki kemampuan multi dimensi dari kemampuan diri sendiri dan juga kemampuan di luar diri yang dapat menciptakan suatu karya tari yang matang, tajam dari segi konsep, isi, bentuk dan koreografi secara keseluruhan sehingga membuat ketakjuban luar biasa yang berguna bagi diri sendiri dan orang banyak. Ketakjuban tersebut mampu membuka berbagai macam hal yang sebelumnya mungkin belum terpikirkan orang banyak. Koreografer adalah orang-orang yang luar biasa atau terpilih, ungkap Doris Hamprey. (Hamprey 1993:hal 17)

Selain poin di atas tentu masih banyak yang dibutuhkan untuk menjadi koreografer, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, setidaknya beberapa poin di atas dapat menjadi masukan dan membuka kesadaran.

______________
*) Majalah Daunjati edisi 1/ Maret/2009 hal 11-13.

**) Alfiyanto adalah Koreogafer pada komunitas Wajiwa Dance Theatre , Pengajar di Jurusan Tari STSI Bandung
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger