Membaca Jejak Stanislavsky*

Oleh: Semi Ikra Anggara**


Judul: My Life in Art
Penulis: Konstantin Stanislavsky
Penerjemah: Max Arifin
Penerbit: Pustaka Kayutangan, Malang
Cetakan: 1 September 2006
Halaman: 281 + X


Sukar bagi kita membayangkan bagaimana jika dunia teater tanpa kehadiran seorang Stanislavsky, seorang aktor dan sutradara yang begitu kuat menanamkan sebuah metode akting dengan pendekatan psikologi akting atau inner acting, karena segala laku seorang aktor harus didasari motif dalam (emosi), metode ini mengingatkan pentingnya sikap yang wajar dalam berlaku, kemudian kita menyebutnya Realisme Akting.

Jika dalam dunia filsafat A.N Whitehead menganggap seluruh filsafat barat merupakan catatan kaki Plato, maka seluruh eksperimentasi dan isme dalam teater pasca- PD 1 merupakan catatan kaki Stanislavsky. Dimulai dengan anak-anak muda keras kepala dengan nama Ekspresionisme, Surealisme hingga Interkulturalisme. Semuanya seperti lahir jika tidak realisme Stanislavsky mendahului, bahkan kalau kita cermati kelahiran ekspresionisme yang awalnya melakukan negasi, kini seperti ingin merangkul kakak tirinya itu, sehingga keduanya bersifat komplementer. Konstantin Stanislavsky (1863-1938) lahir di Moskow dari keluarga saudagar yang uang hasil usahanya disumbangkan untuk lembaga-lembaga sosial seni. Nenek dari garis ibu seorang Prancis, Maria Varley yang menjadi bintang di Petersburg dan saudara sepupunya Elivazeta Mamontov, pemilik opera swasta tempat dia ikut produksi amatirnya semasa mahasiswa (Akhudiat; Figers, 2003:204).

Meskipun dalam banyak literatur teater disebutkan Saxe Melningen (1826-1914) sebagai sutradara pertama dalam sejarah teater modern, tapi tidak didapatkan suatu metode akting yang khusus dan detail, ia hanya disebutkan melatih aktor-aktornya dalam beberapa bulan sebelum pertunjukan dan pentingnya keutuhan kesadaran. Begitupun dengan composer Richard Wagner (1813-1883), dalam buku Yudiaryani Panggung Teater Dunia: Perkembangan dan Perubahan Konvensi hanya disebutkan bahwa pertunjukannya menentang konvensi teater realis yang ada saat itu, dan lebih memilih cerita tentang legenda rakyat Jerman. Wagner tepatnya lebih dikenal karena membuat drama musikal dan terkenal karena skeneri panggung, alih-alih keaktoran.

Meski Stanislavsky disebut-sebut terpengaruh oleh kedua sutradara di atas, tentunya ia memiliki pencarian sendiri mengenai metode keaktoran, dalam risalahnya An Actor Prepares (1926), meskipun ditulis seperti catatan buku harian, kita bisa menilai, ia seorang yang orisinil.

Stanislavsky memulai otobiografinya dengan puitis dan metaforik: Kami tidak mempunyai banyak pakaian lama peninggalan dari orang tua kami, saudara-saudara atau teman-teman, juga tak ada perhiasan kecil, pita-pita, kancing-kancing baju dan benda-benda kecil lainnya. Bagaimanapun juga, mau tak mau kami harus mengganti benda-benda asli dengan tipu daya dan desain-desain lainnya agar bisa tampak lebih mewah dan megah. Kami juga membutuhkan seorang sutradara dan karena kami tak mempunyainya, maka aku harus menjadi seorang sutradara itu. Kehidupan ini sendiri memaksa kita untuk mau belajar lewat praktik (Hal 1).
Sampai bab tujuh, Stanislavsky mnceritakan dirinya sebagai pemula. Seorang apresiator yang begitu mengagumi aktor-aktor pendahulunya, melakukan peniruan pada gaya akting, pengadegan yang bikin ngantuk, pertunjukan yang gagal, hingga ia berlatih dan mencari metode sendiri. Pada bab tujuh ia menceritakan pengalamannya ketika debut menyutradarai.

Pengalaman bertemu secara fisik maupun pertemuan dengan naskah dramawan besar, seperti Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Ibsen hingga Anton Chekov. Dituturkan secara berkesan, ia membicarakan kekagumannya pada sosok Tolstoy, bahkan berkata betapa bersyukurnya bisa hidup sezaman dengan tokoh itu.

Pementasan naskah Maxim Gorky The Petty Bourgeois membuat Stanislavsky bersikap positif pada Revolusi. Menurutnya Maxim Gorky adalah orang yang memprakarsai garis atau corak sosial-politik pada teaternya. Sedang pementasan The Enemy Of The People, menorehkan kritik positif pada keaktorannya. Dr. Stockman seolah menjadi puncak estetis Stanislavsky sebagai aktor, selain tentunya menguatkan teaternya pada garis politik. Anarkisme Dr. Stockman waktu itu begitu tepat memukul rezim penguasa yang melulu melakukan sensor pertunjukan.

Dari semua dramawan, sepertinya Anton Chekov mendapatkan tempat paling istimewa di hati Stanislavsky, ia sangat beruntung menyaksikan Chekov menulis The Cherry Orchad, dalam proses penulisan pengkarakteran tokoh bahkan ia diajak berdiskusi dulu setelah seorang aktornya berlatih memerankan tokoh itu.

  The Cherry Orchad berhasil dipentaskan berkali-kali di Moskow maupun di Amerika. Terutama di Moskow lakon ini mendapatkan kritik negatif dari para aktor muda yang dilingkupi situasi Revolusi saat itu. Stanislavsky membela habis-habisan Chekov, bahkan menuduh orang-orang muda itu tak paham Chekov, dan kurang memhami kesenian. Baginya Chekov adalah petunjuk sepanjang jalan kesenian, sehingga ia disamakan dengan Molliere, Puskin bahkan William Shakespeare.

Pasca Revolusi Oktober, teater seperti diberi misi baru untuk membukakan pintunya pada masyarakat yang lebih luas, teater tidak hanya ditonton segmen borjuis dan intelektual. Ia harus bisa berkomunikasi dengan kaum yang termarjinalkan. Stanislavsky pada kondisi seperti itu, melakukan penyesuaian diri pada penonton pemula, tanpa harus egois dengan kegaduhan mereka. Stanislavsky bahkan menulis bagaimana seorang petani begitu tertib menonton dan setelahnya memberikan semacam surat tentang pertunjukan yang baru saja ditontonnya, menurutnya surat itu kerap menyiratkan makna filosofis.

Keyakinan pada metode keaktoran yang ia ciptakan ditulis dalam satu bab buku ini, permasalahan tentang penentangan dari sistem kredo baru juga tak luput dicatat. Stanislavsky seperti bersikap teguh pda pendiriannya tentang metode teknik dalam (inner tehnique) dan menolak “gerakan anak bengal” yang kemudian kita sebut Ekspresionesme. Meskipun kemudian ia lebih moderat pada bermacam usaha inovasi. Dan kita tahu salah satu inovasi dari metodenya, bahkan melakukan pemberontakan terhadapnya adalah salah seorang muridnya yang sangat hebat Vsevolod Meyerhold.

Buku ini diterjemahkan dengan baik dari versi bahasa Inggris dengan judul sama, oleh Max Arifin. Seorang penulis drama dan penerjemah buku, karya-karya terjemahannya di antaranya adalah Pemberontak (The Rebel) karya Alber Camus dan Menuju Teater Miskin (Towards a Poor Theatre) karya Jerzy Grotowsky. Tentunya buku semacam ini bermanfaat terutama bagi masyarakat Indonesia, kita patut memberikan apresiasi pada usaha penterjemah ini. Max Arifin meninggal dunia bulan April kemarin di Jember Jawa Timur. Terima kasih Bung Max, karya terjemahanmu akan bermanfaat selalu.

________________________    

*)Majalah Daunjati Edisi 10/ Juli 2007

**)Pemuda yang satu ini katanya tak akan pernah berhenti dalam menulis puisi, maka dari itu dia memilih sunyi sebagai temannya. Sebentar lagi ia akan menempati kamar baru di lantai tiga, nyaman dan cukup puitis.   

Related

Teater 9048282177335903748

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item