MENUMBUHKAN AKAR INDIVIDU DALAM PRAKSIS TEATER*

Oleh: Benny Yohanes


Solo Performance: Intruksi Jambal Roti. Teks: Benjon, Performer:John Heryanto
Teater modern Indonesia adalah teater sutradara. Kecenderungan ini merupakan konsekuensi mengusung asumsi: kebaharuan (novelty) menjadi nilai utama . Lokomotip kebaharuan disuarakan dari pusat produksi wacana. Pusat ini direpresentasi oleh figur sutradara, yang berusaha melahirkan praksis teater bukan sekedar pekerjaan teknis, tapi menjadi sebuah perjuangan konseptual dan visioner.


Tradisi teater seperti itu berimplikasi pada pemusatan wacana, yang kekuatan artikulasinya sangat dipengaruhi oleh peran sentral sutradara, yang melejit dalam sejumlah kelompok teater, muncul sebagai super-individu. Manusia sutradara adalah troop-leader, dimana pesona persoalannya yang kuat telah membikin pengkondisian tipe kerja kreatif teater termistifikasi menjadi sejenis hubungan patriakal yang khas: pemimpin tungal menjadi ruler dihadapan pasukan sejatinya.

Hubungan patriakal seperti di atas telah menyebabkan terjadinya peminusan-individu dalam mekanisme kerja kelompok. Tradisi kerja kelompok yang dikondisikan oleh hubungan patriakal telah memaparkan pola hubungan dominan-subordinan. Manusia sutradara menuntaskan dominasi epistemik, artistik, dan bahkan dominasi manajerial pula. Pasukan sejatinya yang terdiri dari barisan aktor, para penata artistik dan produksi, melayani mekanisme kerja kelompok, dengan cara menuturkan porsi otoritas individualnya. Pasukan setia itu, secara melayani mekanisme kerja kelompok, dengan cara menurunkan porsi otoritas individualnya. Pasukan setia itu, secara individu, telah mengalami peminusan tertentu, karena ikon kelompok telah berhasil merepresentasi identitas dan otonomi individualnya lewat distorsi kesetiaan, atau semacam pemujaan terhadap troop-leader-nya.

Para aktor teater, yang sesungguhnya merupakan aktualiator paling signifikan dari sebuah produksi kreatif, hanya muncul sebagai eksponen kelompok, dan hanya memperoleh identitas suplementer dibawah bayang-bayang manusia-sutradara. Dalam konteks ini, nampak ada similaritas yag tak tersadari, antara gejala pemusatan wacana teater dalam diri super-individu, dengan praktek kekuasaan yang dijalankan pada masa rezim Orde Baru, dimana prinsip penguasa-tunggal dimapankan berdasarkan prinsip prinsip hirarkisme dan paternalisme.

Tradisi kelompok dalam teater modern Indonesia, ternyata telah mengadopsi pola hubungan dominan-subordinan, sebagaimana dimanifestasikan oleh sistem monolitisasi kekuasaan Orde Baru. Hal ini nampak ironis, justru karena panggung teater modern seringkali mengklaim perannya sebagai corong kritisme  terhadap praktek penunggalan kekuasaan. Kritik politik teater modern Indonesia terhadap gejala monolisasi otoritas dalam praktek kekuasaan makro Orde Baru, ternyata telah diduplikasi dalam praktek tradisi kelompok teaternya. 

Harus diakuai, tradisi kelompok bukan tadisi kerja kolektif teater yang sepenuhnya eksesif. Tradisi itu sendiri telah menyumbangkan satu tradisi survivalitas teater yang mampu bertahan hingga kini. Sejumlah kelompok Teater yang terkemuka bahkan telah menunjukan invensi efistemik, artistik dan strategi manajerial teater yang bernas, cerdas, dan monumental.

Dalam wadah tradisi kelompok itu pula, sejumlah aktor teater dapat menunjukkan totalitas, loyalitas dan militansi yang tinggi. Bengkel Teater Rendra melahirkan Adi Kurdi dan Ken Zuraida. STB melahirkan Wawan Sofwan. Teater Populer melahirkan Slamet Raharjo, Cristine Hakim dan Alex Komang. Teater Kecil melahirkan Amak Baldjun (alm), Charli Sahetapy dan Jajang. Teater Mandiri melahirkan Reny Jayusman. Teater Koma melahirkan Ratna Riantiarno, Saeful Anwar dan Budi Ros. Teater Gandrik melahirkan Butet Kertarajasa. Teater SAE melahirkan Zainal Abidin Domba dan Margesti. Teater Kubur melahirkan Yardim Ada. Teater Payung Hitam melahirkan Tony Broer.

Namun fakta juga menunjukan bahwa totalitas, loyalias dan militansi para aktor teater tidak dibangun dari proses individuasi para aktor itu sendiri. Totalitas, loyalitas dan militansi itu sering nampak sebagai moralitas bayangan, yaitu moralitas ketergantungan yang hanya menguat sepanjang fungsi doktriner dari sang sutradara masih kuat berperan. Saat pusat orientasi dari sutradara melemah, maka peran individual aktor untuk menegakan kerja kreatifnya akan ikut melorot dan menurun. 
Dalam tradisi kelompok itu aktor lebih banyak menjalankan peran instrumental. Itu sebabnya, dalam tradisi teater modern sejauh ini, aktor tidak sungguh-sungguh muncul sebagai subjek-historis.

Hal di atas makin memperjelas fakta, bahwa salah satu faktor eksesif dari tradisi kelompok adalah mengakibatkan banyak individu yang terminuskan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa tradisi teater modern belum dibangun dari tradisi individu. Dengan demikian, proses berteater yang bergerak dibawah bayang-bayang otoritas manusia-sutradara, tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan dan penguatan tradisi individuasai dalam praktis teaternya. Itu sebabnya, narasi sejarah pemangungan hanya menjadi narasi bagi pencuatan label kelompok. Aktor-aktor instrumental yang terminuskan lewat mistifikasi label itu, kemudian hanya menjadi subjek ephemeral di atas panggung, tapi batal menjadi subjek-historis  bagi tradisi teater itu sendiri.

Karena itu, teater modern Indonesia memerlukan kondisi ‘reborn’. Dunia teater modern harus melahirkan kembali etos baru. Etos baru itu adalah etos yang mampu menyuburkan akar individuasi. Pada fase awal penguatan akar individuasi ini, peran individual para aktor teater harus menjadi basis kreativitas teater. Aktor harus berperan sebagai subjek epistemik yang baru, menggali dan menemukan sumber-sumber tematik, estetik dan idiomatik teater, dalam situasi kreatif yang lebih independen. Kondisi ‘reborn’ adalah kondisi untuk merombak paradigma tradisi kelompok yang paternalistik, serta pembebasan aktor dari kondisi instrumentalisasi dalam proses melahirkan kreasi teater.

Praktis teater yang dilahirkan kembali lewat individuasi, tidak bertujuan mendiskreditkan tradisi kelompok. Individuasi Teater adalah visi untuk menempatkan tradisi kerja kelompok ke dalam pradigma yang baru. Yang harus diubah adalah paradigma paternalisasi-nya, yaitu paradigma yang berimplikasi pada pemusatan wacana teater pada sosok tunggal sutradara, dan peminusan individu aktor menjadi sekadar subjek-instrumental teater.

Individuasi teater adalah sikap mereorientasi paradigma paternalisasi, dengan cara membuka dan menumbuhkan paradigma individuasi. Dalam paradigma individuasi, tradisi kerja kolektif dalam teater harus dipahami sebagai fasilitasi bersama untuk terbangunnya proses emansipasi epistemik bukan sarana distorsi, dimana pelaku teater menyerahkan identitas individualnya kepada pribadi hegemonik yang lebih superior. Proses emansipasi epistemik yang berfungsi memperkuat praksis individuasi menunut tanggung jawab baru kepada para aktor, dari fungsi instrumentalnya sebagai artikulator teks, menjadi akualisator teks.

Dalam paradigma individuasi, tradisi kerja kolektif yang baru harus membuka ruang epistemik teater sebagai ruang inklusif, membuang ketergantungan paternalistik  kepada super-individu, mendorong perspektif personal dalam upaya menemukan variasi tematik, estetik dan idiomatik teater. Dengan demikian, setiap individu yang memanfaatkan kerja kolektif sebagai fasilitasi bersama itu dapat terus tumbuh sebagai individu yang utuh sosoknya, sebagai subjek yang tidak terminuskan.

Dalam semangat individuasi teater, visi dan manifes yang bersifat personal harus dipijarkan. setiap individu dalam proses personalisasi tematik, estetik,  dan idiomatik ini, harus menyadari bahwa setiap tahap penemuan kreatif adalah tahap untuk membangun sejarah yang lebih partikuler, yaitu sejarah dari seorang subjek. Subjek itu adalah subjek epistemik dan subjek eksistensial sekaligus. Dengan demikian, narasi sejarah pemanggungan teater ke depan adalah narasi multi-individu. Disiplin yang harus oleh kreator-kreator individual, yaitu para aktor yang membidani kondisi reborn-nya masing-masing, adalah mempersiapkan dirinya sebagai subjek historis, bukan sekedar menjadi subjek temporer di atas panggung.

Visi ‘melahirkan kembali teater’  yang dipraksiskan dengan cara menumbuhkan akar individuasi dalam teater, sama sekali tidak bermaksud menyingkirkan peran manusia-sutradara. Tradisi individuasi adalah bentuk reposisi terhadap otoritas hegemonik sutradara dalam mengkondisikan wacana tunggal dalam bangunan epistemik teater. Reposisi seperti itu akan memacu kemunculan dasar-dasar praktikal dan konseptual teater yang lebih bersipat intensif, otonom, spesifik juga sekaligus meluaskan batas-batas, mentoleransi kemungkinan dan pembebasan pilihan-pilihan ekspresif menuju penyuburan maturasi individual.

Sejarah teater ke depan niscaya akan mencatatkan kehadiran lebih banyak nama, mengabadikan lebih banyak manifesto personal. Realitas pemanggungan akan lebih banyak mengedepankan penemuan epistemik, estetik dan idiomatik teater yang akan diberdirikan dengan potensi-potensi medan narasi yang memajemukan nilai keindividualan itu, mengundang harapan hadirnya subjek-subjek historis yang baru, yakni subjek yang tidak terlepaskan oleh labelisasi kelompok, atau terinstrumentasi oleh doktrin kreativitas yang paternalistik.

Teater yang dilahirkan kembali ini harus mengedepankan sebuah dasar orientasi baru bagi pertumbuhan tradisi individuasi dalam teater modern Indonesia. Untuk mendukung tujuan itu, ada sejumlah agenda aksi yang harus dilaksanakan dalam praksis teaternya. Agenda aksi ini berupa medan interaksi lintas label kelompok, dimana basis keaktoran harus lebih berperan sebagai forum aktualisasi berbagai estetika individual. Bentuk praksis teater yang ditawarkan untuk mengaplikasikan orentasi baru adalah:

Kolaborasi individual Lintas Kultural.

sarana kolaborasi dapat menjadi wadah antar individu untuk melakukan dialog tematik, estetik dan idiomatik teater, dalam situasi yang lebih independen, intensif dan emansipatif. Dalam konteks paradigma individuasi, kolaborasi lintas kultural dapat berlangsung lebih terbuka tanpa beban proteksi dan kolektivitasi. Pengalaman inividuasi yang matang akan dapat memahami latar budaya bukan sebagai perhiasan defensif. Identititas budaya, dalam resepsi individual, adalah nada tunggal, sehembus nafas. Untuk membuatnya jedi sebuah lagu, menjadi simfoni yang lebih utuh, kita membutuhkan dialog dengan menghadirkan nada lain, nafas lain. sebuah kolaborasi adalah orkestrasi aneka nafas itu.

Revitalisasi Estetika Lokal.

Revitalisasi adalah penemuan vitalitas baru, dari sebuah formasi pengalaman yang sudah terkonvensionaliasi. Dalam semangan individuasi teater, penemuan vitalitas baru dari estetika lokal, harus dipahami bahwa penemauan terhadap kekuatan kelokalan berarti penemuan totalitas itu sendiri. kelokan tidak identik dengan haluan tradisi, atau dengan mistik kelampauan. kelokalan adalah penghayatan yang aktif terhadap semua elemen estetik yang mengutuhkan kehadiran kekinian kita. kelokan adalah bentuk yang lebih privat dari sublimasi atas pengalaman kekinian masing-masing individu.

Revitalisasi kelokalan artinya menegaskan entitas dan progresivitas pengalaman setiap individu, untuk meraih totalisasi yang aktual. Yang lokal adalah yang kini, dan para aktor harus senantiasa memasakinikan kesadarannya. Dan totalisasi itu hanya akan mendapatkan bentuk formatifnya jika berjalan seiring dengan pertumbuhan individuasi.  

Reinterpretasi terhadap teks-teks Hegemonik Teater

Pemikiran hegemoni berada dalam wilayah pembenaran yang cendrung tertutup terhadap teks, dan berpretensi menjadi jawaban menyeluruh atau eksplanasi yang konklusif. Hal demikian terbentuk dari praktek pemusatan wacana atau massifikasi pikiran. Pemikiran hegemonik bertahan bukan karena itu merupakan jawaban rasional terhadap fakta teks, tapi karena mendapat persetujuan kolektif yang tidak sepenuhnya kritis.

Reinterpretasi terhadap pemikiran hegemonik berarti upaya untuk mengatasi kebekuan dan ketertutupan asas-asas kolektif pemanggungan, yang memapankan hanya satu jalan bagi aktualisasi teater, yakni teater yag hanya berkiblat pada verbalisme teks/naskah. Gejala verbalisme teks/naskah, cukup dominan dalam praksis teater modern Indonesia. Hal ini ditunjukan lewat pengucapan formal dari sejumlah naskah asing yang dipanggungkan, dengan mengedepankan estetika yang duplikatif. Semangat reinterpretasi adalah pencarian dan penemuan artikulasi individual, sehingga bisa keluar dari sirkulasi kolektivitas, sebuah sirkulasi tafsir akademik yang monolik atas teks/naskah, atau yang dilembagakan oleh model dan format kreasi teater yang telah mapan.

Reinterpretasi adalah perjuangan privatisasi wacana, untuk menemukan jalan pengucapan dan ekspresivitas individual. Reinterpretasi atas teks-teks hegemonik memang menuntut kematangan referensial. dan kematangan akan muncul lebih cepat, jika kepercayaan atas individuasi teks juga diperkuat. 

Dengan bertumpu pada prinsip-prinsip pandangan di atas, visi individuasi teater diharapkan menstimulasi lahirnya tradisi kreativitas individual. Pertumbuhan teater modern Indonesia, menjadi lebih mungkin untuk lebih banyak lagi mengabadikan kehadiran subjek-subjek historis yang baru, di luar label kelompok.

Individuasi teater mensyaratkan kolaborasi individual lintas kelompok, memasakinikan kesadaran atas kelokalan setiap individu, melakuakan privasi wacana atas teks dan pemikiran hegemonik teater. Individuasi teater akan mendorong lahirnya teknik, tematik, manajerial dan invensi estetik yang lebih privat, juga akhirnya mendorong individuasi penonton teater. Individuasi teater akan menjadi wajah teater kini, namun yang tidak berhenti untuk memapankan kekinian itu sendiri. sebab individuasi bukanlah konvensi, tapi sublimasi dan reposisi atas pilihan-pilihan privat.

Beny Yohanes, Penulis lakon, Sutradara, Aktor dan Kritikus. Pengajar di Jurusan Teater STSI Bandung 
______________________________
*Buletin Daunjati Edisi#I Maret 2009 hal 6-10.

Related

Teater 4436772699929048899

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item