Headlines News :
Home » » MENYOAL KAMPUNG KOLASE, SENI UNTUK SEMUA ORANG

MENYOAL KAMPUNG KOLASE, SENI UNTUK SEMUA ORANG

Written By LPM DAUNJATI on Kamis, 11 Juni 2015 | 11.42.00

Oleh: John Heryanto



Bandung - Daunjati, Rabu (11/06) di sela-sela hangatnya pameran ujian akhir D3 desian komunikasi   Visual, Fakultas Seni Rupa ISBI Bandung, ada sebuh diskusi dengan tema “seni dan pemberdayaan” tentunya diskusi ini bukanlah bagian dari ujian akhir meski berlangsung di depan galeri 212. Diskusi ini diselengarakan oleh Prodi Seni Murni bekerjasama dengan Sosiologi 14 / s14,  di Pendopo Mundinglaya, merupakan kelanjutan dari rangkaian kolaborasi wayang Cyber dan Debora kelly yang merespon ruang publik perkampungan sungai cikapundung.

Diskusi ini dimulai pukul 14.00- 16.30 wib, dengan pembicara Prof. Artur S. Nalan (Peneliti dan ketua Pasca Sarjana ISBI Bandung) TH.Aminudin Siregar (Kurator dari Sosiologi 14 /s14) Debora kelly (seniman kolase  Australia) Riki dan Diki (generasi ke 2 Wayang Cyber) dengan  moderator Dida  (Dosen Seni Rupa Pentas ISBI Bandung). Diskusi ini dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari mahasiswa ISBI, dosen ISBI, sampai praktisi dan pemerhati seni rupa di kota bandung. tema “seni dan perbadayaan” yang diusung dalam diskusi ini dapat saja menjadi wawasan dan inspirasi bagi peserta khususnya mahasiswa ISBI Bandung.

Dalam sambutan Dr.Supriyatna selaku PK III ISBI Bandung, menjelaskan, Prodi Seni Rupa Murni berdiri sejak tahun 2007 namun sampai saat ini masih mencari identitas apalagi kini sudah menjadi ISBI Bandung  dan salah satu upaya  untuk menemukan jati diri seni murni ISBI adalah dengan mengolah tradisi, kiranya dari sanalah identitas dan kemurnian  dapat ditemukan dan hal itu tentunya yang  akan menjadi pembeda dengan seni murni di kampus yang lain.

Diskusi ini diawali dengan penghantar dari Artur S Nalan yang saat ini sedang meneliti wayang setanan, megatakan, ”bahwa wayang adalah salah satu seni multi dimensi dan multi fungsi, yang memiliki  banyak peluang untuk terus berubah menjadi bentuk–bentuk baru termasuk dengan lakonnya. wayang merupakan sebuah manifestasi dari hasrat manusia, kita bisa lihat di indonesia ada begitu banyak wayang yang berbeda-beda semisal wayang setanan, dimana setiap jenis wayang selalu ada setan, atau wayang setanan yang sejenis  tetapi memiliki nama dan bentuk yang berbeda-beda.”

Adapun wayang cyber yang digagas oleh Andri moch  pada tahun 2001 pada mulanya pembuatan wayangnya menggunakan bahan berupa kertas potocopy-an. Setelah pakum 5 tahun kini wayang cyber diteruskan oleh generasi ke kedua Riki dan Diki, tentunya bentuk wayang cyber sudah mengalami banyak perubuhan. Menurut Riki (director wayang cyber) mengatakan  “wayang cyber dibuat dengan tehnik kolase dengan bahan-bahan dari majalah-majalah bekas. Sampai saat ini wayang cyber sudah banyak melakukan pameran, workshop dan kolaborasi. karena kesaman media itulah yang menjadikan alasan kenapa kami mau berkolaborasi dengan Debora Kelly, (seniman residensi Sosiologi 14 / s14 dari australia).”

kolase bagi Debora adalah sebuah upaya untuk menahan percepatan dimana dunia bergerak terus menerus. Dengan merekontruksi ulang fenomena tersebut maka akan terungkap pula kebenaran yang tersembunyi di dalamnya.

Projek kolaborasi Wayang Cyber dengan Debora Kelly berlokasi di perkampungan sungai cikapundung di jalan Siliwangi dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk bersama- sama membangun kampung, terlapas apakah ini akan menjadi kampung kolase atau lain sebagainya.

Kolaborasi ini sedang berlangsung sampai satu tahun kedepan, diawali dengan wayang cyber yang memberikan workshop kolase kepada anak-anak, dan dilanjutkan deborah kelly memberi workshop kepada ibu-ibu. Pada tanggal 14 juni ini mereka akan pentas di tepi sungai Cikapundung jalan Siliwangi.

diskusi ini juga mendapat tanggapan baik dari peserta, seperti yang diungkapkan oleh Fran Magnus Suseno salah satu pemerhati seni rupa dan  peserta diskusi, “secara tidak langsung projek ini membuka interpensi untuk repitalisasi sungai di bandung.” begitu juga dengan Rudi ST Darma dari rumah proses mengatakan, “bahwa sudah saatnya seni rupa hari ini mestilah tepat guna.”
namun apakah kampung kolase ini  akan tetap ada ketika proses kolaboasi seni selesai, kiranya mestilah dilihat beberapa tahun kedepan apakah memang seni akan tetap ada disana atau langsung hilang ketika kolaborasi usai?  ucap Nandang Gawe dari Invalid Urban Bandung, salah satu peserta diskusi.

sebagai penutup diskusi, Hera sebagai produser kolaborasi menjelaskan bahwa diskusi ini semacam pemaparan  atas proses pemberdayaan seni yang berlangsung  di perkampungan bantaran sungai cikapundung, untuk bertukar cerita guna keberlangsungan proses tersebut karena akan berlangsung selama satu tahun kedepan. Sedangankan gagasan pertamanya merespon ruang-ruang publik yang terlantar untuk mempertanyakan kenapa ini terlantar, termasuk salah satunya perkampungan di jalan Siliwangi.

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger