Headlines News :
Home » » ANTARA IBADAH DAN SENI TRADISI

ANTARA IBADAH DAN SENI TRADISI

Written By LPM DAUNJATI on Senin, 24 Agustus 2015 | 09.56.00

Oleh: Ganda Swarna**



Foto: Bongdy blog-Street Art.
Siang itu aku mendapat kesempatan mengobrol lebih tepatnya bertanya tentang hubungan antara spiritualitas dan seni tradisi indonesia dengan bapak Jakob Sumardjo. Obrolan berawal dari kebingunganku dimateri kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia yang hanya berkutat pada penghafalan temporal dari kuliah itu. Obrolan yang sederhana ini tentunya tidak aku sia-siakan menjadi memori yang hanya bersarang dikepala saja. Aku kembali menuliskan dari catatan-catatan kecil dibuku menjadi tulisan yang ingin aku bagi dengan yang lain. Namun ternyata obrolan ini  menjadi sesuatu yang aku dapatkan berbeda dari apa yang aku pelajari dari kuliah dikelas. Obrolan ini menjadi pengetahuan baru di luar apa yang aku dapatkan di kelas. Berikut ini adalah tulisan dari obrolan dengan bapak Jakob Sumardjo dari yang aku pahami.

Setiap suku-suku di indonesia memiliki sistem kepercayaannya dalam memaknai Tuhan Yang Maha Esa, Seperti suku-suku di Papua, Dayak di kalimantan, Jawa, Sunda, Batak, Melayu dan lain sebagainya, spiritualitas mereka adalah bagaimana mereka berhubungan dengan yang esa itu. Pada suku-suku di Papua sendiri, ada sistem kepercayaan yang benar-benar Esa dan itu lelaki, dan selalu munculnnya dari gunung, yang menciptakan manusia, hewan tumbuhan, dan sebagainya. Bagi beberapa suku yang lain, Tuhan Yang Maha Esa bisa berarti dua, tiga, empat dan seterusnya, terutama lelaki dan perempuan. Tetapi jangan dilihat sebagai dua, tiga atau seterusnya.Dua itu satu, tiga itu satu, itulah esa, sehingga dalam pemahamannya menjadi paradoksa.

Ketika agama-agama di India atau Asia datang ke Indonesia baru muncul gagasan-gagasan yang baru tentang ketuhanan.Tuhan tidak lagi dua, tiga atau seterusnya, laki-laki atau perempuan, yang esa itu satu,Tuhan. Tunggal akan tetap menjadi tunggal. Tunggal itu tidak terbatas, dan tidak bisa dipahami oleh manusia yang terbatas.Tuhan menciptakan dunia yang terbatas. Manusia dan dunia itu diciptakan dalam keterbatasan.Mesikpun Ia menciptakan yang terbatas, namun dia tidak mengenai batas itu, ia berada didalam batas itu dan diluar batas. Sehingga nanti akan ada tuhan yang kosong tidak dapat dikenal, bisa dikenal karena ke esaannya.

Konsep ketuhanan suku-suku di Indonesia, Semua yang ada ini yang dikenal manusia yang imanen ini, kemudian nanti yang imanen transenden, itu tidak  pernah tunggal tidak pernah satu. Jadi sesuatu itu tidak pernah sesuatu itu sendiri, sesuatu itu selalu disebabkan karena ada sesuatu yang lain. Seperti terang tidak ada kalau tidak ada gelap, panas tidak mungkin ada kalau tidak  ada dingin. Sekarang yang esa itu yang mana? yang terang atau yang gelap, panas atau yang dingin? Karena yang terbatas itu  bersal dari yang tidak terbatas, yang esa maka dapat dikatakan Ia itu antara kedua-duanya itu, atau diluar dari pada itu. Sehingga ia tidak dikatakan gelap atau terang, sehingga apa adanya, kita tidak akan pernah tau, sehingga itu sering disebut kosong atau tidak  dikenal. Disebut kosong karena tidak bersifat.sedang isi adalah sifat-sifat. Bersifat karena kondisi dualistiknya, isi ialah yang terindra dan terasakan, ialah sifat itu sendiri.

Jadi kalau yang esa itu tidak dapat dikenal, bagaimana cara untuk terhubung denganNya? Dalam keterhubungan dengan yang Esa, Maka yang esa mengekspresikan dirinya dalam bahasa masing-masing manusia.kalau kita runut dari logika itu hanya sebagaian dari, karena belum semuanya diekspresikan, sebab ia mengekspresikan menurut pengetahuan-pengetahuan manusia yang terbatas itu, jadi sebenarnya semua yang spiritual itu ekspresi dari yang maha esa. Hanya Karena manusia misalkan suku di Papua hidupnya berburu, mengggunakan bahasa yang lahir dari lingkungannya, maka yang esa mengekpresikan sesuai alam pemikiran mereka. Kalau seandainya Tuhan bericara dengan masyarakat berburu menggunakan bahasa masyarakat melaut, masyarakat yang hidup dengan berburu tidak akan mengerti. Yang Esa itu dalam mengenalkan dirinya menyesuaikan dengan keadaan bahasa dan hidup setempat. Justru sebenarnya masing-masing itu harus melengkapi. Jadi kenapa disana-sini bisa saling berbeda-beda? justru itu pekerjaan manusia  untuk melihat pemikiran Tuhan dibalik semua ini.

Spiritualitas menyangkut hal-hal yang  lebih besar, lebih luas, lebih tinggi, lebih kaya, diluar pengalaman manusia yang tak di kenal. Sifatnya selalu menjangkau hal-hal  diluar yang kita kenal dan alami, oleh sebab itu disebut transenden. Spiritualitas dalam dunia modern menjangkau hal-hal diluar diri manusia yang lebih luas, lebih tinggi dan lebih kaya, transenden, tapi hanya menyangkut wilayah  pikiran. Ini  bedanya dengan spiritualitas agama tradisi, yang di sebut spiritual itu bukan menyangkut wilayah pikiran saja, tapi juga menyangkut masalah-masalah kongkrit, dan sifatnya praksis, itu yang di sebut daya-daya itu. Jadi didalam agama itu selalu ada penyatuan daya-daya yang sebenarnya transenden, daya-daya yang abstrak, itu  sebenarnya bisa dimasukan dalam daya-daya kongkrit untuk kepentingan manusia. Oleh sebab itu dalam kesenian nantinya orang bisa jadi trans, kris bisa jadi ada isinya (daya-daya transenden), begitu juga dengan wayang dan dalangnya, penari dan musiknya, dan sebagainya. bagaimana dengan yang ada di barat? Di Barat mungkin lukisan monalisa itu spiritual, karena secara pemikiran mengandung sesuatu yang secara imajiner lebih luas dan lebih dalam dari apa yang kita alami. Tapi itu tidak mengandung daya-daya. Meskipun monalisa mengandung spiritual, tapi ia tidak di bakari kemenyan. Kalau pada tradisi indonesialukisan monalisa bisa di bakari kemenyan, karena ada mengandung daya-daya disitu sehingga daya-daya itu dapat dihadirkan melalui pembakaran kemenyan. Dibakari kemenyan, agar ada daya-daya spiritual hadir dalam lukisan monalisa.

Spiritualitas dalam seni tradisi penting bagi masyarakat tradisional. Bagi masyarakat tradisional, seni berguna untuk mendatangkan daya-daya transenden, daya-daya diluar daya-daya yang dimiliki manusia. Demi kepentingan, kebutuhan hidup mereka. Daya-daya yang transenden kalau lewat seni atau upacara dapat dihadirkan didunia lewat hukumnya sendiri, disebut hukum spontanitas. Jadi hal seperti itu jika pada dunia modern tidak masuk akal, karena menghadirkan yang tidak ada menjadi ada. Kalau dunia modern semua tergantung hukum kausalitas. Harus diketahui identitasnya masing-masing jadi hubungan antara mereka bisa dijelaskan dengan hukum sebab akibat. Dulu masyarakat tradisional kalau menjalankan hal-hal yang biasa itu dengan cara yang modern, yaitu dengan hukum sebab akibat. Jadi semisal membuat jamu untuk mengobati orang sakit flu, bahannya seperti ini-seperi ini -misalnya,  tidak perlu menggunakan daya-daya, sebab itu pengobatan secara rasional,  dapat diterangkan, sampai sekarang hal itu pun dapat diterangkan mengapa orang sakit diberi daun ini dapat bisa sembuh, kalau ilmu modern bisa menjelaskan sebab akibatnya. Kalau orang dulu mungkin tidak seperti itu, namun mengapa bisa tau kalau daun seperti itu bisa dapat menyembuhkan, mungkin itu bisa karena pengalaman atau sebagainya, bukan Karena kerja kimianya karena mereka belum kenal masalah itu.

Jadi mengapa nilai spiritual dalam seni tradisi itu masih diperlukan, karena mereka masih membutuhkan pemecahan yang sifatnya transcendent yang spontanitas.Sehingga seni ini masih diperlukan oleh mereka. Meskipun oleh orang modern sudah tidak dilihat seperti itu lagi, sudah tidak dilihat sebagai system kepercayaan lagi, itu hanya di lihat sebagai artefak/benda saja, Pokoknya itu benda mengandung seni.Oleh masyarakat tradisi,itu mengandung rasionalitas untuk menghadirkan daya-daya transedental, oleh orang modern dipakai untuk kepentingan-kepentingan mereka saja. Sikap seperti  ini yang sebenarnya tidak benar, Sebeb tidak menghormati kebudayaan orang lain bahkan kebudayaan nenek moyangnya. Bagi  masyarakat modern, sebaiknya harus memahami tradisi-tradisi tersebut, sehingga bila sudah memahami maka akan menghormati.

Dewasa ini, seni tradisi itu dianggap sudah lewat, sudah tidak di jamannya lagi. Jadi masyarakat Indonesia sekarang ini yang di didik sejak kecil dengan cara modern menganggap nenek moyang mereka itu orang barat. Mereka lebih tau Plato, Aritoteles, dan sebagainya. jadi kita ini  mengaku diri sebagai bagian orang-orang yunani, pemikir-pemikir yunani, kenapa tidak dari pemikir orang timur seperti dari orang cina, orang india, atau orang Indonesia sendiri.  Ini karena sejak awal pendidikan kita sudah melupakan, menenggelamkan, mengabaikan, hal-hal yang sifatnya tradisional, yang dulu dijalankan oleh nenek moyang.Ini mengakibatkan yang tradisi itu tidak perlu diperhatikan itu sudah tidak ada harganya lagi.

Yang ada saat ini, itu seni kontemporer yang global. Kalau kita bergelut pada seni kontemporer yang global itu, maka kita akan bersaing secara global. Kita menciptakan seni-seni seperti itu merasa bangga, itu karena di Indonesia. Di Indonesia seni seperti ini mungkin di anggap hebat.Seperti Rendra ketika mementaskan menunggu godot di Indonesia, itu menghebokan.Tapi jika dibandingkan dengan menunggu godot diseluruh dunia, Eropa, sejauh mana?Jadi kita itu hanya katak dalam tempurung pada akhirnya. Kalau kita ingin menyaingi mereka orang-orang barat, justru kita bertolak dari pemahaman nenek moyang mereka, harus dari nenek moyang kita sendiri. Seperti orang Papua itu, biarkan mereka mempelajari Papua mereka sendiri dan diekspresikan demi kepentingan modern. Mereka akan kaget, sebab tidak  ada di dunia. Jadi seni-seni tradisi ini bisa di ekspresikan untuk kepentingan modern. Kalau bisa menunjukkan kepada dunia berarti kita dapat memberikan alternative buat dunia.

Dengan cara berfikir tradisi kita berkembang terus maju dan meninggi, sekuler. Kalau kita dulu primitive sekarang kita modern kontemporer, namun tetap harus dengan pola fikir yang sama. Dan itu memang bisa diselesaikan semua dan kita memang sudah selesai sejak dulu. Seperti diantara laki dan perempuan misalnya, itu tidak ada persaingan, karena saling membutuhkan. Kalau tidak ada laki-laki tidak ada perempuan. Begitu juga sebaliknya. Dua-duanya tidak boleh  disalahkan, kedua-duanya itu  selalu benar. Dijaman modern sekarang, antara asing dan asli kedua-duanya terdapat kebenaran.Tidak seperti pada sekarang yang aslinya dihancurkan. Saat ini penyakit anak muda itu mematikan tradisi, sebab itu bertentangan dengan modern dan tradisi, dengan memihak kepada kebenaran yang modern.sehingga yang tradisi ini harus dihancurkan. Sekarang jika kita mengambil filosofi nenek moyang kita, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Semua itu benar tergantung dari mana kita memandang saja. Sesuatu itu dimensinya sangat banyak.sehingga ketika melihat dari sudut yang sini kelihatannya seperti ini, dan dari sudut yang lainnya disana seperti ini. sehingga kita tidak dapat menyalahkan seseorang yang melihatnya dari sudut yang berlawanan. Inilah yang di  sebut kearifan lokal tradisi.

*Berdasarkan percakapan dengan Prof Jakob Sumardjo (Budayawan dan Guru Besar ISBI Bandung)
 **pekerja& peneliti Seni Pertunjukan

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger