Headlines News :
Home » » CATATAN PERENUNGAN BERLIN PROPOSAL

CATATAN PERENUNGAN BERLIN PROPOSAL

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 15 Agustus 2015 | 09.47.00

Oleh Kurniasih[i]




Buku Afrizal yang dikirim lewat paket Tiki saya terima ketika tangan ini terasa begitu kering karena terkena debu-debu saat tengah mengepak barang-barang. Tumpukkan buku, kertas-kertas bekas, perabot wadah makanan, printer, yang kesemuanya mengandung debu karena tidak pernah sempat dibersihkan. Saya tengah beres-beres seluruh barang untuk dipindah ke kos baru. Bungkusan plastik yang berlapis saya lepaskan dari tubuh buku yang sudah saya nantikan itu. Saya tidak pernah membayangkan akan memegang buku itu secara khusus seperti ini, untuk dibicarakan di acara bedah bukunya.

Saya bukan pembaca yang gila pada puisi, oleh karena itu juga tidak terlampau akrab dengan karya-karya Afrizal meski namanya sudah akrab di telinga. Agak grogi sebenarnya ketika saya menerima bujukan untuk membicarakan bukunya ini. Sebagai apa saya bicara? Biasanya saya menjemput puisi seorang penyair tidak secara sengaja kedalam diri. Ia seperti ayat yang dihembuskan ke telinga lalu saya berusaha untuk memaknainya berulang kali hingga rasanya terasa di keseluruhan tubuh. Saya menyikapi puisi sebagai perahu untuk ‘piknik’ pikiran dari aktivitas atau bahasa sehari-hari.

Ketika halaman demi halaman buku yang judulnya berbentuk bahasa Inggris ini saya buka, saya tidak memaksakan diri untuk menjadi seseorang yang sanggup memahaminya bagaikan seorang kritikus. Saya membacanya sebagai seorang yang selalu belajar untuk menulis cerita. Selain itu juga selama beberapa tahun mengenyam pendidikan Kajian Budaya. Posisi sebagai cerpenis yang mempelajari Kajian Budaya ternyata membuat saya justru menyikapi puisi Afrizal jauh lebih santai daripada ketika saya dimanjakan oleh pendidikan kritik sastra. Berhadapan dengan puisi-puisi Afrizal ini, dengan sedikit menahan gugup, saya jadikan sebagai ‘kawan’ akrab saya menuju dunia saya yang baru dan cukup sunyi. Saya pindah kos ke tempat yang lebih jauh dari lokasi sebelumnya. Praktis saya pun akan bertemu dengan orang-orang baru, jalanan baru, warung makan baru, suasana baru. Saya hanya mengandalkan keakraban pada barang-barang lama saya.

Buku Afrizal benar-benar dapat saya jadikan kawan ketika saya sudah pindah kos. Suhu kamar yang lebih panas karena atap seng, segera membuat saya asing. Jendela yang macet dibuka, segera membuat saya terasing. Rak perabotan dapur yang ditaruh di depan kamar saya, segera membuat saya terasing. Suara orang-orang di luar kamar saya yang berbahasa Jawa, sungguh membuat saya terasing! Ketika saya mulai tidur di kamar tersebut, pun saya merasa terasing.

Bekal Kajian Budaya yang saya coba akrabi hampir empat tahun ini membuat saya mencoba untuk memecah keterasingan tersebut. Bagaimana maksudnya? Saya mencoba masuk kedalam kultur baru orang-orang yang asing tersebut. Saya juga mencoba masuk kedalam puisi-puisi Afrizal dengan membayangkan konteksnya. Karena saya tidak pernah berada di lingkungan di negara Jerman, keterasingan dalam lingkungan bahasa Jawa saya jadikan sebagai percontohan. Jika perbincangan 100 persen dalam bahasa Jawa, tentu saya juga akan mengalami keterasingan karena tidak paham. Buku puisi Afrizal tidak saya gunakan sebagai tempat pelariantapi saya pakai sebagai pendorong masuk kedalam keterasingan tersebut: masuk untuk dinikmati. Saya membaca buku Afrizal secara runut (entah mengapa) tapi bukunya meminta seperti itu. Sehingga saya masuk kedalam bagian pengantar terlebih dahulu. Berikut bagian yang sangat bunyi dalam memecah keterasingan itu,

Umumnya saya membiarkan tetap berlangsungnya tekstur bahasa dalam puisi-puisi saya (yang sering dilihat sebagai prosaik), tidak terlalu memberikan panggung terhadap kata. Saya tidak terbiasa bekerja membuat monumentalisasi terhadap kata dalam puisi. Tetapi pengalaman di sini, dimana bahasa Indonesia tidak ada di sini, hubungan emosi terhadap bahasa Indonesia kehilangan tubuh-sosial atau ruang habitatnya. Bahasa tiba-tiba menjadi sangat material dengan fungsi representasinya yang terbatas. Tubuh saya kian berada di luar bahasa.

Puisi yang pada umumnya saya baca, atau secara tak sengaja saya temukan, membuat saya merasa perlu untuk ‘menyendiri’ untuk dapat menikmatinya. Puisi yang ‘puitis’ yang balutan drama, balutan magisnya membungkus kosa kata yang dipilih penyairnya menjadi tak bisa dinikmati sambil beres-beres misalnya. Saya belum masuk kedalam satu puisi pun dari buku Afrizal tersebut tapi saya mulai belajar menikmatinya. Saya berusaha sabar untuk menyelesaikan pembacaan bagian pengantar yang diberi judul, Catatan Moabit tersebut. Ketika membacanya, bahasa-bahasa Jawa di luar kamar saya berhamburan. Hanya beberapa istilah yang saya bisa pahami. Tentu saja situasi Afrizal saat membicarakan pengalaman tubuh dan bahasa di atas tidak sama persis dengan situasi saya. Afrizal mau membicarakan pengalamannya ketika berada di negeri orang, yang bahasanya jauh lebih asing daripada dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Tetapi suasana ‘hening’  karena bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sulit didengarkan di negeri orang, dapat saya raba-raba rasanya dalam suasana tersebut. Ketika pertama kali tinggal di kota berbahasa Jawa ini, saya pernah dengan agak konyol salah tafsir memahami sebuah istilah. Dua orang ibu saya dengar begitu heboh mengobrol, istilah  de-e begitu sering terlontar. Saya kira De-e  itu adalah nama seseorang. Lalu berburuk sangkalah saya bahwa kedua ibu tersebut sedang menggosip seseorang bernama De-e! Beberapa hari kemudian saya dibikin malu karena  de-e  artinya adalah dia. Pengalaman ini membuat saya merasa ngeri membayangkan keterasingan Afrizal di belantara ruang-ruang yang berbahasa Jerman! Bahasa mungkin jadi terdengar seperti bebunyian semata, tak jauh beda dengan bunyi deru motor, bunyi batuk, bunyi sepatu hak tinggi berdetak di lantai: maknanya tidak tertangkap.

Tetapi walaupun demikian saya berharap puisi Afrizal di halaman berikut-berikutnya tidak akan melemparkan saya jauh dari keseharian saya. Puisi- puisi pada bagian Berlin Proposal berjumlah 30. Ada puisi yang saya baca di kamar, ada juga yang dinikmati ke warung makan Padang, ada juga yang dinikmati di ruang tunggu puskesmas bahkan saya bawa juga ke warung bubur Mang Oyo, dan mendekat Factory outlet. Puisi Afrizal tetap saja tidak meminta untuk dikritisi sedemikian rupa hingga melemparkan puisinya pada belantara wacana filosofis tertentu. Tidak, puisinya itu tidak meminta (setidaknya di tangan saya) untuk dimaknai secara berlapis-lapis. Kemungkinan besar saya berhasil menghadirkan sisi sebagai pembelajar cerpen di sini.

Puisi yang menurut saya membawa bahasa pada diri saya secara unik misalnya,

password

Peluru dan password. Usaha menghentikan tembakan gavrilo princip, antara film dan potret. Lurus. Masuk.
Penggaris peluru.
Meteran untuk mata jaman:
“ini telegram dan remote tv”.
peta di bawah penghapus.
Eropa tengah. Black hand
....
Kata demi kata tidak saya temukan sebagai metafora yang membungkus realitas tertentu. Saya seperti bertemu dengan daftar kata yang dijejerkan dengan imajinasi tertentu. Mungkin ini maksud Afrizal di catatan Moabitnya bahwa ia tidak terbiasa memonumentalisasi terhadap kata dalam puisi, tidak terlalu memberikan panggung terhadap kata. Membaca kata demi kata yang dijejerkan itu di dalam hati, ritmenya terbentuk sendiri. Seperti bicara pendek-pendek. Puisinya tidak dramatis, metaforik, apalagi indah, tapi juga tidak rumit keterlaluan. Mungkin gaya Afrizal dalam menjejerkan kata-kata, yang ditutup tanda titik tetapi kata berikutnya tidak diawali huruf kapital membuat saya membacanya seperti hanya diberi koma itu menjadi seperti hentakan-hentakan halus dari kata. “sihir” puisi yang merupakan jejeran kata demi kata tiba-tiba membuat realitas saya juga ikut terjejer tetapi dengan kosa kata berbeda. Ketika struk dari minimarket saya baca, hentakannya jadi ikut seperti puisi Password tersebut:

            Shampoo Pantene 1. Sikat Gigi Formula 1. Tissu Tessa 1.

Kantong keresek 1.Terima kasih.

            Ini saja? Ada tambahan lain, Kak? Total Rp. 38.500. terima kasih.

Kata dalam puisi Afrizal tidak membuat bahasa sehari-hari saya pun terasing. Hal tersebut tidak lain karena kata- kata dalam puisinya didominasi oleh kehidupan kota. Ada apartemen, mesin poto kopi, rice cooker, neon, telefon, pensil dan penggaris, dan lain-lain. Saya jadi teringat sedikit pada harapan Sutan Takdir Alisjahbana mengenai gaya baru puisi “Indonesia” yang dibahas oleh DR. Keith Foulcher[i]: karena puisi lahir dari “perasaan individual yang mulia dan sehalus-halusnya”, haruslah dicari pengucapannya dalam “idiom sehari-hari yang realistis. Penghubungan pada Takdir di sini saya bayangkan sebagai bentuk kepenasaranan saya, kira-kira apa yang akan Takdir pikirkan ketika dalam puisi muncul kata-kata seperti palu, pacul, linggis, pagar tertutup, apartemen, atau gigi.

Dengan jejeran kata-kata yang sangat realistis dalam menggambarkan kesunyian di negeri orang tersebut menjadi kesunyian yang cukup sibuk karena dijejali dengan benda-benda sehari-hari. Tetapi walaupun demikian, akhirnya saya menemukan keasingan yang mengerikan ketika menemukan foto seorang perempuan pelajar di Aceh tengah dicambuk oleh algojo. Perempuan pelajar tersebut mengenakan kostum putih serba panjang lengkap dengan jilbabnya tengah merunduk dicambuk. Bagaimana rasanya sebuah representasi dalam bentuk foto terpampang dalam surat kabar berbahasa asing? Apa yang akan mereka pikirkan tentang masyarakat Indonesia yang hanya dikerdilkan melalui Aceh tersebut? Saya tidak dapat membayangkan berapa lapis jarak antara Afrizal yang menemukan foto tersebut dalam bahasa Jerman dan dalam ruang asing pula? Di sini saya mulai berhadapan dengan isu-isu Islamofobia di negara Eropa. Mungkinkah hal tersebut juga yang membuat Afrizal menulis dalam puisi Berlin Proposal: siapa pengarang timur dan barat, aku batalkan.

Inilah sedikit pembacaan saya terhadap puisi-puisi Afrizal. Puisi yang tidak berusaha keras untuk merebut perhatian pembacanya, seperti puisi yang ‘puitis’ pada umumnya. Puisi yang juga membuat pembaca seperti saya merasa mempunyai ‘kawan’ dalam mengenyam kesunyian.



[1] Penulis kumpulan cerpen Kembang Kertas.
[1] DR. Keith Foulcher, Pujangga Baru: Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, Girimukti Pusaka, Jakarta, hal. 15.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger