MELONGOK INGATAN MAHASISWA

Oleh: John Heryanto*

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Masalah negara, nilai tukar rupiah yang terus merosot, biaya sekolah mahal, korupsi, teroris, harga sayuran yang jatuh, relokasi, penggusuran, perang suku, fatwa haram, lokalisasi pelacuran, bikin partai, porno, dll sudah biasa dan menjadi percakapan sehari-hari mulai dari pangkalan ojeg, warung kopi, terminal dll, lantas dimana mahasiswa?

Media sosial (facebook, twiter, dll) telah menjadi dunia ke dua dimana rutinitas dan hal-hal  pribadi tentang dirinya menjadi milik publik. Di waktu istirahat dan setelah selesai kuliah mulai dari kosan, kantin, taman dan perpustakaan pada umumnya membicarakan masalah makan, jalan-jalan kemana, pertandingan sepak bola, film terbaru, mode baju pakaian baru, kesel sama dosen, pacar selingkuh, wara-wiri banyak acara entah apa, dll sesekali membicaran tugas kuliah kalau sudah diujung batas pengumpulan.

Kiranya dari sanalah gerakan mahasiswa hari ini, mencoba untuk ditelusuri kembali kemana arahnya.

Rekaman dari Hindia-Belanda sampai reformasi

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
(Soe Hok Gie)

Seabad setelah berlalunya Renaissance di Eropa dan lima belas tahun bubarnnya VOC / Vereenigde Oostindische Compagnie (1602-1799) di wilayah Nusantara setelah bangkrut karena banyak pejabat korupsi dan terlilit hutang. Kerajaan Belanda (Koninkrijk Holland) resmi berdiri di wilayah Nusantara tepatnya tahun 1814 di bawah Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1814-1830) lantas era pembangunan pun di mulai untuk memenuhi kebutuhan infrastrukrur kerajaan Belanda.

Setengah dari pasar rempah-rempah Eropa merupakan produk ekspor Belanda dari NHM (Nederlandshe Handel Maatchappij) hasil tanam paksa atau sistem kultivasi (Cultuurstelsel) di wilayah Hindia-Belanda /Indonesia yang dipimpin oleh Gubernur Jendral  Johannes Graf Van den Bosch (1830-1870). Dan setelah tanam paksa selesai, Kerajaan Belanda memberlakukan sistem ekonomi liberal dengan dibukanya investasi asing untuk menanamkan modalnya di wilayah Indonesia. Kiranya dari aset tanam paksa itulah sumber modal Kerajaan Belanda di Nusantara dapat bertahan sehingga mencapai masa keemasannya (1835-1940).

Atas dasar itu pula Kerajaan Belanda akhirnya menjalankan balas budi (Ethische Politiek) dibawah Gubernur Jendral J.B. Van Heutsz, maka berbagi sekolah didirikan guna mencetak sarjana siap pakai untuk menambah infrastruktur dan memperkuat kerajaan Belanda, lantas didirikanlah  STOVIA / School tot Opleiding voor In-landse Artsen di Batavia (1898-1927) yang kemudian berubah nama menjadi  GH (1927-1994) dan sebagai dampak dari pengembangan pendidikan itulah maka lahirlah kalangan terpelajar yang kritis. Para Mahasiswa pribumi atas nama perubahan (Agen of Change) mulai memikirkan nasib rakyat lewat kumpulan diskusi yang diselenggarakan di perpustakaan STOVIA sebagai bagian pembacaan sosial.

Dari diskusi yang sering diadakan di pepustakaan itulah gerakan mahasiswa modern bermula hingga lahirlah Boedi Oetomo yang terdiri dari: Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman (2O Mei 1908) gerakan kepemudaan ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat terutama mengkritik golongan tua yang konservatif.

Sampai pada akhirnya dari pertentangan Boedi Oetomo dengan golongan tua konservatif ini lah yang menjadi pemicu lahirnya berbagai bentuk oraganisasi kedaerahan di Indonesia seperti Paguyuban Pasundan, Sarekat Sumatra, Sarekat Madura, Rukun Minahasa, dll, dan gerakan mahasiswa saat itu yang secara radikal menyuarakan kemerdekaan yaitu Indische Partij,  dan Serikat Islam.

Sedangkan para mahasiswa asal Indonesia yang belajar di negara Belanda dari kalangan ningrat mendirikan Indiche Vereniging (1908) yang dipimpin oleh Raden Mas Noto Soeroto yang mengarah pada gerakan sosial dan berserikat dengan mahasiswa keturunan Indo-Belanda (Bond Van Indische Studerenden) untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan biaya pendidikan, yang nantinya bila selesai kuliah akan langsung bekerja di pemerintahan Hindia-Belanda.

Tahun-tahun selanjutnya perkumpulan ini menjadi gerakan politik terutama setelah bertemu dengan aktivis Indonesia yang dibuang ke Belanda (dr. Tjipto Mangunkusoma, Suwardi Suryaningrat, dan Setia Budi/Dowes Dekker) di tambah lagi dengan bergabungnya Moh. Hatta, Ahmad Soebarjo, AA. Maramis  sampai pada akhirnya organisasi ini berganti nama menjadi Indonesesishe Vereniging (192I) yang dipimpin oleh Moh. Hatta, lantas berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (1924) yang dipimpin oleh  Iwa Kusumasumanti,  sehingga organisasi ini lebih mengarah  pada gerakan pembebasan. selain terlibat di forum-forum di luar negri seperti Congres Democratique Internationale Pour la Paix di Bierville (1926), Brusell (1927) dll, juga membuat majalah “Indonesia Merdeka” (1926) yang di sebarkan di seluruh Indonesia  dari hasil pengamatan di luar negri tentang penjajahan Belanda di Indonesia.

Dari Perhimpunan Indonesia di luar negri inilah kemudian berdampak pula pada gerakan mahasiswa di Indonesia sehingga terbentuklah kelompok belajar seperti di Surabaya lahirlah Indonesesishe Studie Club (1924) yang dipimpin oleh Soetomo  yang kemudian berubah menjadi partai PPKI (Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) dan di Bandung  (kampus THS / Technische Hoogesschool) berdirilah Algemene Studie Club  (1925) yang dipimpin oleh Soekarno, lalu kemudian berubah menjadi PNI (Parserikatan Nasional Indonesia).

Setahun kemudian para mahasiswa di Jakarta berkumpul membentuk PPPI / Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (1926) yang dipimpin oleh Moh. Abdulah Sigit, kemudian di Bandung berdirilah Jong Indonesia / Pemuda Indonesia (1927). kedua organisasi tersebutlah yang menyelanggarakan Kongres Pemuda-2 di Jakarta (26-28 Oktober 1928) untuk merapatkan barisan perlawaan hingga lahirlah sumpah pemuda, setelah dua tahun sebelumnya diadakan Kongres Pemuda-1 (1926).

Masa pendudukan Jepang (1942-1945) semua lembaga pendidikan yang didirikan oleh Belanda ditutup lantas ditata ulang sebagai alat untuk menanamkan gagasan kemakmuran bersama Asia Tenggara di bawah pimpinan Jepang.  Selain itu Jepang juga menghapus segala bentuk yang berbau politik mulai organisasi mahasiswa sampai partai politik termasuk larangan berserikat dan berkumpul maka akan langsung dipenjara atau ditembak. Kemudian Soekarno dan Moh. Hatta mendapatkan undangan ke Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia (1942).

Gerakan mahasiswa dan pemuda  pada akhirnya berada di bawah tanah (ilegal) dan radikal dengan bermarkas di kos-kosan mahasiswa yaitu Asrama Angkatan Indonesia Baru dengan nama kelompok MENTENG 31 (Chaerul Saleh, Soekarni, Aidit Cs), Asrama Indonesia Raya/Cikini yaitu para pemuda yang bekerja di KaiGun (Wikana, Iwa Kusumasumantri, Ahmad Subardjo Cs) dan Asrama Indonesia Merdeka dengan nama kelompok PARAPATAN 10 (Sutan Sahrir, Supeno, Subadiyo Sastrosatomo, Johan Syahruzah Cs) dan sebagian mahasiswa yang lainnya ikut bergabung bersama Tan Malaka. sampai pada akhirnya mahasiswa menculik Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengkasdengklok dengan desakan agar secepatnya menyatakan kemerdekaan Indonesia (Peristiwa Rengkasdengklok), sehingga terjadilah  proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945).

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, gerakan mahasiswa semakin banyak. Hal itu tentunya tidak dapat dipisahkan dari perasaan senasib dan sepenaggungan untuk melawan dan mempertahankan kemerdekan yang baru didapat, terutama setelah diberlakukannya sistem demokrasi liberal (1950-1959) dan sistem multipartai yang diterapkan pada saat itu sangatlah mempengaruhi kelahiran berbagi organisasi mahasiswa ekstra kampus  yang berafiliasi dengan partai politik tertentu dengan membawa ideologinya masing-masing.

Mulanya HMI / Himpunan Mahasiswa Islam (1947) di STI / Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta yang dimotori oleh Lafran Pane  dan berafiliasi dengan Masyumi, dan berbarengan dengan kongres mahasiswa Indonesia di Malang dengan mendirikan PPPI/ Persatuam Perhimpunan Pelajar Indonesia. Hal inilah yang memicu berdirinya berbagai organisasi mahasiswa di Indonesia pada tahun 1995 diantaranya GMNI / Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (nasionalis-marhaen) yang berafiliasi dengan PNI/ Partai Nasional Indonesia,  GEMSOS/ Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (sosialis-islam) yang berafiliasi dengan PSI/ Partai Serikat Islam, CGMI / Central Gerakan Mahasiwa Indonesia (sosialis-komunis) yang berafiliasi dengan PKI / Partai Komunis Indonesia,  PMII / Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (nasionalis-islam) yang berafiliasi dengan PNU / Partai Nahdlatul Ulama, dan  PMKI / Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (nasinalis-kritiani) yang berafililasi dengan Partai Katolik, dll.

Karena banyaknya kepentingan terutama berkaitan dengan situasi politik di pemerintahan pada saat itu, sehingga menyebabkan banyaknya perseteruan diantara organisasi mahasiswa terutama setelah pemilu 1955 yang mengerucutkan menjadi tiga kekuatan besar yaitu PNI, PKI dan Masyumi.

Namun pada tahun 1966  Organisasi mahasiswa bersatu dan membentuk  KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang merupakan gabungan dari PMKRI/ Perhimpuan Mahsiswa Katolik Indonesia, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), SOMAL (Sekretariat Bersama Organisasi-Organisasi Lokal), Mapancas (Mahasiswa Pancasila), IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia).
Terbentuknya KAMI tidak dapat dilepaskan dari peran serta menteri PTIP / Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan yang mempertemukan semua organisasi mahasiswa pada tanggal 26 Oktober 1966 untuk bersatu melawan PKI, yang lantas diikuti dengan munculanya KAPI / Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia, KAPPI / Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia dan KASI/ Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia.

Berdirinya Orde Baru ditandai dengan  kerjasama gerakan mahasiswa dengan pihak militer untuk mengulingkan Orde Lama, lantas para pimpinan organisasi mahasiswa duduk di kursi pemerintahan mulai dari MPR / Majelis Permusyawaratn Rakyat, DPR / Dewan Perwakilan Rakyat kecuali Soe Hok gie.

Pemerintahan Orde baru (1967-1998) berlangsung dimana organisasi mahasiswa dikontrol sangat ketat dan harus sejalan dengan kebijakan pemerintah, sehingga berserikat dan berkumpul dilarang dan dituduh subversif lantas di tangkap ABRI apalagi setelah diberlakukannya NKK - BKKK / Normalisasi Kegiatan Kampus melaui Badan Kordinasi Kegiatan Kampus (1978) serta dibentuknya KNPI / Komite Nasional Pemuda Indonesia (1979) maka segala aktivitas mahasiswa dan pemuda haruslah berdasarkan tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pemerintah Orde Baru  sangatlah menekan sehingga tak ada lagi kebebasan, maka mahasiswa membuat gerakan Golput (1971) sebagai sebuah politik alternatif. Gerakan ini dipimpin oleh Arif Budiman, Julius Usman dan Iman Waluyo Sumantri. Aksi Golput ini terus meluas ke seluruh Indonesia meski berjalan secara pelan-pelan dan bawah tanah.

Empat tahun setelah aksi Golput, mahasiswa di Jakarta yang dipimpin oleh Hariman Siregar kembali turun kejalan menolak modal asing, dengan cara menolak kunjungan Tanaka Kaukue / PM Jepang di Jakarta dan Jan Pnox  dari IGGI / Inter-Govermental Group on Indonesia di jakarta (14-17 Januari 1974). Aksi tersebut dianggap sejenis kecelakaan lalu lintas oleh pemerintah maka disebutlah sebagai Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) dimana seluruh mahasiswa  yang terlibat ditangkap ABRI dan dipenjara.

Gerakan penolakan modal asing yang dilakukan oleh mahasiswa di Jakarta telah memicu aksi di tahun-tahun berikutnya. Tiga tahun kemudian DEMA ITB Bandung (1977) mengadakan aksi penolakan  pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Akibat aksi tersebut ITB ditutup tidak ada aktivitas akademik maupun kegiatan mahasiswa (1977-1778) karena di kepung Kodim dan di tahun yang sama seluruh kampus di indonesia di jaga ketat oleh oleh militer.
ketika negera sudah tidak mampu lagi mengelola rakyatnya, terutama dengan adanya krisis moneter (1996), kelilit hutang dan korupsi yang mengakar, maka mahasiswa seluruh Indonesia bersepakat turun ke jalan sampai akhirnya Soeharto pun turun.

Berakhirnya  rezim Orba, di tandai dengan aktivis reformasi masuk partai.


Mahasiswa abad kontemporer

"Kami mahasiswa Indonesia bersiap untuk menang, bermain bilyar, game dan playstasion.
Jayalah selalu Indonesiaku.!”
(Pidi Baiq/ The panas dalam serikat)

17 tahun sudah reformasi dan 30 tahun lagi seabad Indonesia merdeka, dimana setiap bulan agustus  bendera merah putih akan dipasang di rumah-rumah lantas lomba panjat pinang, balap karung, jalan satai, makan krupuk pun digelar dan sejak 1998  sampai hari ini setiap bulan mei mahasiswa turun ke jalan memperingati reformasi.

Di abad kontemporer ini dimana segalanya didasarkan pada mitos, mulai dari  mitos orang kaya itu tidak hanya nyegik tapi juga KKN, mitos pengusa itu tidak hanya bersekutu dengan setan, kepanjangan tangan tuhan melainkan juga penindas, mitos anak muda itu hura-hura dan susah diatur, dll.

Tidak hanya mitos tapi juga abad ini dibangun berdasarkan kepercayaan provokasi semisal ada kekacauan negara lantas orang bilang itu karena PKI dan semua orang percaya, ada lagi masalah yang muncul lantas orang bilang itu karena zionis dan semua orang juga percaya bahkan zionis itu telah dianggap berkembang di daerah-daerah perkampungan seperti misalkan Garut kota iluminati, Borobudur itu zionis, dll.

Masalah informasi tentunya abad ini bisa dibilang eranya informasi dimana kanyataan di perbaharui berdasarkan media mulai dari masalah individu sampai negara bahkan tuhan berdasarkan arus informasi yang menjamur di depan mata mulai dari facebook, twiter, google, yotube, dll.

Bicara masalah pemberontakan, revolusi, reformasi, Hegel, Plato, Karl Marx, Prodon, Nietzche, Paulo Freire, Aristoteles, Decrates, Tan Malaka, Soe Hok Gie,dll adalah percakapan biasa di warung-warung kopi mulai dari buruh pabrik, mahasiswa dll tak ada lagi yang luar biasa apalagi merubah keadaan.

Apakah gerakan mahasiswa masih akan menjadi gerombolan seperti pemberontakan kaum buruh atau para petani di abad 19 atau era  revolusi di berbagai belahan dunia yang melahirkan jutaan  bahkan milyaran pahlawan tak dikenal dan lenyap begitu saja dan tentunya tak dapat di simpan di kelas-kelas.

Kemanakah mahasiswa harus bergerak ketika kenyataan telah melebihi diskusrsus diberbagai makalah dan buku-buku yang ada, sementara itu gerakan mahasiswa masih terpenagkap dalam politik negara yang besar dan melulu bicara atas nama rakyat meski entah rakyat yang mana sehingga melahirkan demostaran bayaran, aktivis kontrakan, demo pesanan, gerakan karbitan, dll.

Jika di telusuri kembali dari perjalanan gerakan mahasiswa di Indonesia, maka gerakan mahasiswa hari ini terdapat beberapa pilihan:

a.      Mahasiswa  kembali ke kamus

Ketika pendidikan dan mahasiswa telah menjadi trand style, gaya hidup dan prestise berdasarkan modal seperti halnya akreditasi, sekolah standar nasional atau standar internasional, sekolah siap kerja,dll. Begitu pun dengan mahasiswa semisal ayam kampus tentu harganya lebih mahal ketimbang ayam biasa di pinggir jalan, seperti kata-kata gini-gini juga mahasiswa yang menandakan status lebih tinggi ketimbang orang yang melakukan tindakan atau pekerjaan  yang sama tapi bukan mahasiswa atau sarjana.

Mahasiswa kembali ke kampus bukan berarti sekedar kupu-kupu atau kuliah pulang-kuliah pulang, tanpa membaca kenyataan yang terus tumbuh di sekitar , melainkan dengan mengadakan kembali kelompok belajar dan diskusi sebagaimana yang dilakukan oleh Cokroaminoto di rumahnya sebagai sebuah pendidikan alternatif atau sekolah pembebesan di luar kelas dan kiranya dari sanalah akan lahir individuasi gerakan mahasiswa seperti pula lahirnya Soekarno, Semaun dan Karto Suwiryo dari diskusi kos-kosan Cokroaminoto.   
      
b.     Mahasiswa terjun langsung ke masyarakat

Setiap mahasiswa turun ke jalan selalu mengatasnamakan rakyat mulai dari demo camat sampai presiden, namun pernahkah mahasiswa hidup bersama masyarakat selain dari pada KKN / Kuliah Kerja Nyata.

Jika mahasiswa sudah terbiasa hidup dengan masyarakat tanpa merasa asing maka dengan begitu ia dapat membaca kenyatan yang sebenarnya di hadapi oleh masyarakat dan tidak lagi terperangkap dengan politik negara. Tidak ada salahnya jika mahasiswa mulai dari hal yang sederhana seperti mengajari anak-anak  membaca secara gratis  sebagaimana yang dilakukan Tan Malaka kepada anak-anak petani di perkebunan, sampai pada pendampingan atau pemberdayaan masyarakat maka dengan begitu baik mahasiswa maupun masyarakat dapat tumbuh dan berubah bersama mengahadapi kenyataan yang berbeda.


“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah mengaggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana maka sebaiknya pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”
(Tan Malaka)
 
_______________


*Performance Artis & Peneliti Seni

Related

Pendidikan 5196964894732624166

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item