Headlines News :
Home » , » OSPEK, AJANG PENDIDIKAN ATAU PERBUDAKAN

OSPEK, AJANG PENDIDIKAN ATAU PERBUDAKAN

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 02 Agustus 2015 | 04.17.00

Oleh: John Heryanto*

foto  project tobong- javane sestreet art.
Bagaimana sebetulnya Ospek itu dilakuakan, sehingga setiap orang yang pernah menjadi peserta Ospek ketika bertemu dengan teman seangkatan atau beda angkatan akan saling bercerita dan mengenang sambil bercanda seperti sepasang bebek. Namun bila ditanya lagi apakah kamu mau ikutan lagi menjadi peserta tahun depan, tentu akan berpikir lama.

Apa sebenarnya ospek itu? Apakah Ospek itu sudah bukan lagi nama acara untuk penyambutan mahasiswa baru sejak awal mula kemunculan kata Ospek tahun 1970-an  melainkan sudah menjadi bahasa seperti pula kata "Aqua" yang ditunjukan kepada setiap air mineral kemasan dengan merek lain, sehingga pemerintah sekarang melarang adanya perpeloncoan dalam kegiatan Ospek, padahal kata Ospek dulunya untuk mengganti nama acara perpeloncoan. Lantas apakah kini Ospek sama dengan perpeloncoan, tentu saja masing-masing kata telah menjadi bahasanya sendiri maka antara Ospek dengan perpeloncoan adalah dua tindakan yang berbeda.

Ospek di berbagai kampus memiliki nama-nama yang berbeda dalam menyambut mahasiswa baru baik itu ditingkat jurusan, fakultas, dan universitas. Memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengenal kondisi kampus secara menyeluruh tidak hanya akademik, menjaga solidaritas dan kekompakan angkatan, menyatukan mahasiswa agar saling mengenal dan menghormati baik ke satu angkatan maupun keangkatan yang lain, loyalitas dan militansi terhadap organisasi, menciptakan mahasiswa yang kritis bahkan sampai mampu aksi reformasi dan lain-lain.Namun prakteknya tentu saja akan memiliki caranya sendiri sesuai dengan kebiasaan-masing-masing!

Kenapa ketika mendengar Ospek, merasa hawatir, bahkan berpikir negatif? Apakah karena sejak tahun 1999-2014 banyak peserta Ospek yang meninggal? atau karena dalam kegiatan Ospek ada tindakan perpeloncoan sejak tahun 1920-2014 semisal di olok-olok, maba diberikan banyak tugas lantas diperiksa secara mendadak seperti razia atau penggerebegan layaknya polisi kepada penjahat, pakai pakaian yang aneh-aneh semisal kaki paki krincing, topi spon dan lain-lain, diintrogasi tidak jelas di waktu subuh atau waktu lain tanpa alasan, kepala harus botak bukan atas keinginannya tetapi atas perintah panitia agar terlihat sebagai maba, mahasiswa baru tidak boleh berkeliaran di sekitar kampus dalam jarak 500 meter, mahasiswa baru ke kampus tidak boleh pake motor atau mobil harus jalan kaki dalam jarak  1 kilo meter, masuk kelumpur kalau dingin push up atau menyembah api dan lain-lain,  sampai pada tindakan fisik  semacam di tampar pipi atau dipukul perut dengan alasan tanda salam atau penyambutan dan lain-lain. Apakah karena peserta tidak pernah diberi jadwal kegiatan acara apa saja yang akan dilakuakan selama Ospek, sehingga tidak dapat mempertimbangkan kecuali mereka mengikutinya baru akan tahu acaranya ini dan itu setelah mengalami? Apakah karena akan dikucilkan jika tidak mengikuti Ospek oleh orang yang mengikuti, dan lain-lain.

Jika ditelusuri lagi mengapa kegiatan Ospek dapat bertahan begitu lama dari 1920 sampai sekarang, bahkan menjadi kebiasaan setiap tahun dan jika sekali saja tidak ada kegiatan Ospek, maka orang yang sempat mengikuti Ospek sebelumnya akan merasa seperti ada sesuatu yang hilang semacam perasaan berdosa ketika meninggalkan shalat.

Ospek tentunya telah ditopang dengan tiang yang kuat disetiap individu yang sempat diospek dan yang mengospek karena apa yang ia lewati atau sejarah telah menjadi dogma yang patut untuk dipertahankan sehingga setiap orang akan menceritakan pengalaman diospek dan ngospek kepada sesama yang mengalami sambil bercanda, tertawa kadang-kadang saling mengolok-olok seperti kembali lahir menjadi bebek.

Selain itu Ospek telah melahirkan sistem patronase (hubungan atasan dan bawahan) dalam hal ini tentunya yang memiliki kuasa adalah atasan maka atasan memerlukan pembenaran sebagai bentuk dari pada kuasa (hegemoni). maka terjadilah senioritas dan inilah yang diwariskan turun temurun sampai hari ini.

Sudah saatnya kita pertanyakan ulang apa sebenarnya Ospek itu, Jika siapapun masuk ke suatu tempat baru, maka tentunya orang tersebut akan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan sendirinya sehingga ia menjadi bagian dari tempat tersebut. Jika Ospek adalah salah satu cara ( kaderisasi ORMAWA) untuk mempertanyakan segalanya sehingga tidak tersesat di jalan karena ia tahu setiap langkah yang harus diambil. Maka sebaiknya Ospek tidak hanya sekedar menjaga kebiasaan masa lalu (kolonial), sekedar seremonial, asal ada kegiatan dan rutinitas yang tak jelas. Ospek semestinya mampu membaca dan menjawab porsoalan hari ini sesuai dengan kedaan sebenarnya.

_______________
*Performance Artis & Peneliti Seni

Share this post :

+ komentar + 1 komentar

2 Agustus 2015 05.15

Alhamdulillah..good job jhon!

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger