Headlines News :
Home » » PUISI (AFRIZAL) DAN TUBUH (SAYA)

PUISI (AFRIZAL) DAN TUBUH (SAYA)

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 15 Agustus 2015 | 09.35.00

Oleh: Agung Hujatnikajennong

Sketsa :Hanafi
Saya berbicara di sini semata-mata karena saya menyukai puisi-puisi Afrizal Malna. Tapi jangan tanya wacana atau teori apa yang membuat saya menyukainya karena saya bukan seorang kritikus apalagi penelaah sastra. Sampai detik ini saya tidak/belum tertarik membaca telaah ataupun teori yang bisa membantu saya memahami puisi-puisi Afrizal.

Saya hanya percaya, seperti yang puisi-puisi Afrizal ajarkan, bahwa ada keterlibatan pengalaman / tubuh saya yang menyebabkan saya merasa memiliki keterhubungan dengan karyakaryanya. Seperti rasa cinta antar-remaja/ABG yang tak selalu bisa terjelaskan, kenikmatan saya membaca puisi-puisi Afrizal biarlah tetap menjadi pengalaman yang korporeal, yang terkadang lebih menyenangkan ketimbang elaborasi intelektual. Tahun 1996, saya membeli buku puisi Afrizal Malna, Arsitektur Hujan di depan Masjid Salman ITB.

Mula-mula saya tertarik hanya karena sampulnya menampilkan foto instalasi Agus Suwage. Tapi sesekali saya juga iseng membaca puisi-puisi di dalamnya, terutama setelah capek menyelesaikan tugas-tugas kampus. Pada beberapa puisi, terutama ‘Orang-orang Jam 7 Pagi’, ‘Cucian Kotor Suatu Pagi’, ‘Kesibukan Membakar Sampah’, ‘Pulo Gadung dari Peta 15 Menit’, ‘Liburan Keluarga dan Pipa-pipa Air’, saya seperti menemukan diri dan pengalaman saya. Saya pernah tinggal selama tiga tahun di daerah Cigondewah (1996-1999).

Rumah kontrakan saya persis di depan terminal angkot Bumi Asri – Ciroyom. Setiap hari, untuk berangkat ke kampus, saya harus melewati kompleks pabrikpabrik besar yang lalu lintasnya seringkali macet hanya karena rutinitas pergantian shift – masuk dan bubarnya para pekerja pabrik. Jalanan di Cigondewah sempit, rusak dan selalu digenangi air setinggi betis jika musim hujan.

Air yang menggenangi ban motor saya ketika melewatinya selalu bau luar biasa, tak hilang hanya dengan semprota air kran – konon hasil percampuran limbah kimia pabrik-pabrik dan sampah domestik yang dibuang sembarangan ke sungai-sungai sepanjang jalanan Cigondewah Kaler itu. Saya bergaul dengan para buruh migran yang saya kenal di warteg langganan di sekitar kontrakan mereka. Saya makan “asinan mangga dalam kantong plastik dingin” dan melihat sungai yang tidak membawa batu-batu, tapi “…softex, bungkusan mie dan sisa-sisa makan penuh peahen kulit telur”.

Rutinitas tubuh inilah rupanya, setelah saya ingat-ingat, yang mula-mula menciptakan koneksikoneksi tak terduga antara saya dengan puisi-puisi Afrizal Malna. Saya ingin membayangkan tubuh manusia seperti batang magnet yang menarik serbuk-serbuk besi dalam gundukan pasir sungai. Tubuh saya ternyata membentuk medan magnet ketika membaca puisi-puisi Afrizal. Diksi ‘urban’ dan bait-bait puisi yang acak, ngaco dan ribut—terkadang usil mengomentari keributannya sendiri—adalah serbuk besi Afrizal yang tertarik ke dalam tubuh saya, bersama pengalaman dan ingatan-ingatan tentang Cigondewah yang telah terlebih dahulu membentuk tubuh saya sebagai magnet itu. Jika medan magnet itu bisa diibaratkan sebagai impuls-impuls estetik/puitik, serbuk-serbuk besi dalam puisi-puisi Afrizal mungkin tidak akan tertarik ke dalam tubuh saya, jika saya tidak tinggal di Cigondewah, atau jika saya memutuskan tetap tinggal di Tasikmalaya, dan melihat balong, sawah dan sungai setiap harinya. Persentuhan saya dengan puisi Afrizal juga terjadi ketika saya membuat sebuah karya video berjudul “Cigondewah dari Tutup Panci 15 Menit” (1999).

Ini adalah karya tugas mata kuliah “Eksperimen Kreatif” di bawah bimbingan Tisna Sanjaya, sekaligus satu-satu karya video sepanjang hidup saya. Sayang saya tak bisa menayangkannya di sini. Video ini merekam sebuah panci yang tutupnya bergerak-gerak karena uap air yang mendidih selama 15 menit. Gambaran itu kemudian saya tumpuk dengan footage sungai-sungai kotor dan buruh-buruh pabrik yang lalu lalang di Cigondewah. Siapa yang menyangka penemuan mesin tenaga uap akhirnya berujung pada berdirinya bangunan-bangunan pabrik besar yang menelan rawa-rawa, sungai dan sawah? Di Cigondewah pabrik-pabrik tidak hanya menelan alam pedesaan yang asri, tapi juga berak dan meninggalkan kotoran di setiap sudutnya. Dalam pemahaman saya, kekhasan puisi-puisi Afrizal tidak hanya terletak pada cara-caranya menyajikan indeks tanda-tanda urban.

Dalam puisi-puisi Afrizal, baik bahasa maupun puisi terus-menerus digunakan dan dipersoalkan secara radikal. Afrizal ‘mempersonifikasi’ bahasa dan puisi sedemikian rupa: Bahasa dan puisi adalah mesin yang secara sistematis mengungkung subjek, yang di hadapannya seorang penyair justru harus berani berkata ‘tidak’. Bagi saya, Afrizal adalah penyair yang juga menjadikan bahasa dan puisi sebagai sasaran tembak, untuk dipermainkan, dibetot-betot hingga batas-batas yang tak mungkin. Bahasa verbal dilihat sebagai material yang serba terbatas, dianggap tak pernah bisa sepenuhnya menjadi mediator realitas—realitas konkret, realitas ketubuhan—yang tak berdaya di hadapan konstruksi sosial, politik, ekonomi, budaya. Puisi-puisi Afrizal juga mengadu domba bahasa dan puisi. Ketika khazanah bahasa (terutama bahasa Indonesia) adalah medium yang memungkinkan kita melihat semua ketidakberdayaan bahasa, sebagai “…lembaga komunikasi yang bobrok dan busyet”. Puisi-puisi Afrizal seringkali menyajikan dunia referen yang berkelebat-kelebat, yang hingar-bingar, terkadang surreal, fantastik bahkan absurd, yang membongkar semua kekakuan aturan-aturan main bahasa. Harihari ini diksi, logika dan pola bahasa verbal di sekitar kita dikendalikan oleh hukum pasar dominan: oleh nama-nama supermarket, gerai pulsa HP, factory outlet, iklan sabun, baligo pilpres maupun pilkada, yang tesebar di jalanan, halaman-halaman majalah, pada layar komputer, maupun telepon genggam kita.

Buku puisi Afrizal yang baru terbit, Berlin Proposal, memang tak lagi dipenuhi oleh diksi, kosakata ataupun indeks-indeks tanda yang akrab dengan saya. (mungkin karena saya tak pernah tinggal berlama-lama di Jerman).

Tapi saya bisa merasakan bagaimana puisi-puisi itu lahir dari suatu pengalaman korporeal yang unik dalam kehidupan Afrizal. Tak ada lagi ‘mitos-mitos kecemasan’ berhadapan dengan kegaduhan bahasa (Indonesia) yang menjadi habitat sang penyair. Inilah puisi-puisi yang lahir dari persentuhannya dengan lingkungan sosial baru. Lingkunga yang saya bayangkan menawarkan sejarah perang, arsip, museum-museum dan pameran, tata kota yang serba teratur oleh taman, hutan dan sungai-sungai bersih, udara empat musim, sebagai habitat baru bagi tubuhnya—selain layar komputer, internet dan acara-acara televisi. Afrizal menyebut residensinya di Berlin sebagai suatu pengalaman ‘retreat’ dari bahasa. Benarkah pengalaman hidup dan bekerja di habitat baru itu membuatnya mundur, lalu bertekuk-lutut di hadapan bahasa dan puisi? Kenyataannya, Afrizal tidak serta-merta menulis puisinya dalam Bahasa Jerman.

Memang ada pokok-soal (subject-matter) maupun diksi-diksi baru yang berjarak dengan saya sebagai pembaca. Yang mencolok, dan tetap khas dari Afrizal adalah caranya membongkar batasan bahasa verbal / tekstual dengan visual. Puisi-puisi Afrizal sudah sejak lama bersifat visual, dalam pengertian ia selalu menawarkan imaji-imaji deskriptif yang langsung hadir secara visual ketika saya membacanya. Akan tetapi sejumlah puisi dalam buku ini lebih jauh menggunakan bentuk-bentuk visual yang lebih kasat mata untuk ‘mengolokolok’ ketidakberdayaan bahasa verbal (lihat misalnya: ‘teritori digital’, ‘tektonik digital’ atau ‘resonansi garis’, yang lebih menyerupai aikon, atau gambar, ketimbang tulisan). Singkat cerita, buku ini memperlihatkan bagaimana, bahasa dan puisi masih menjadi pokok-soal, medium sekaligus material yang Afrizal personifikasi, tidak hanya sebagai ‘sparring partner’ atau ‘musuh’ tapi juga ‘kekasih’.

 Bandung, 15 Agustus 2015
________________
*Kurator & Dosen Seni Rupa ITB
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger