Headlines News :
Home » » Ya, Omega, dan Zet Berujung pada [...]: Penulisan Asemik dan Puisi Kongkret dalam Jenuhnya Kebudayaan Aksara

Ya, Omega, dan Zet Berujung pada [...]: Penulisan Asemik dan Puisi Kongkret dalam Jenuhnya Kebudayaan Aksara

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 15 Agustus 2015 | 09.14.00

Oleh: Ari J. Adipurwawidjana

ي
Ya.
Foto:Taufik Darwis - Tafsir Puisi Afrizal Malna oleh Lawe S


Akhirnya.

Akhirnya kita telah sampai pada titik ketika semua huruf yang kita cungkil pada loh tembikar, kita gurat pada daun, kita pahat pada batu, kita nodakan pada papirus dan kertas, kita benam dalam lima milenium berlapis-lapis sedimen dan mineral, kita tumpuk di dalam kardus yang kita peram dalam gudang arsip, kita tata dalam map, kita urai dan padatkan menjadi 0101010 dalam cakram dan perangkat elektronik yang lantas bertebaran dalam gelombang-gelombang elektromagnetik di atmosfer dan kabel-kabel logam dan serat optik. Dalam belantara ini kita tersesat dalam simulakra citra dan aksara pada layar dan lembar—yang kita genggam dan yang menaungi kita seperti langit yang berpura-pura melindungi kita dari meteor yang mungkin kesasar menuju kita. Sayangnya, mungkin kita tidak hanya terhindar dari benda-benda langit yang berpeluang jatuh ke bumi melainkan juga dari kesempatan menikmati dan menderita kenyataan mentah: tubuh yang hangat, daun yang rentan, tanah yang gembur; karena aksara, angka, dan sinyal ­tut-tut-tut  memenuhi kelopak mata bagakan gajah sehingga mata kita berkunang-kunang dan kita mengira kita melihat semut di seberang lautan.

Untungnya.

Untungnya ada manusia seperti Afrizal Malna yang berkesempatan untuk keluar sejenak dari timbunan tanda—“menulis untuk keluar dari aku | dan [...] berjalan | menuju sebuah pagar tinggi. tebal. | \tebal\ | menjadi seekor binatang dalam kata berlalu”—sehingga dapat merenung dalam keterasingan menyimak “bau glühwein, tersamar. ranting cahaya | antara mantel dan bangunan malam, di | fasanenstraße, sarung tangan, rajutan | dingin. dua penyair afrika selatan – hitam – putih – berdebat dala bahasa inggris. kakkak-kakkakkakkak”—yacketty-schmackety, blah-blah-blah, was-wes-wos: menyimak bau dan bunyi—kenyataan mentah sehingga ia dapat memanjat lapisan-lapisan setiap zaman yang terkubur dari masa pleistosen saat bumi melahirkan manusia hingga antroposen ketika manusia membunuh bumi—timbunan yang membangun peradaban manusia, berusaha mencari napas dalam timbunan helaian prasasti, gulungan papirus, helaian kertas, dan layar LCD, menaiki tangga mesin tik menuju lembar kertas yang sebentar lagi dilepaskan. Sajak-sajak ini bukanlah makhluk pertama yang berupaya membebaskan diri dari bahasa yang menciptanya. Tender Buttons yang keluar dari hentakan jari-jari Gertrude Stein,  pada mesin tik, atau puisi yang ujarkan Allen Ginsberg, yang membentangkan deret frase nomina pada kertas, seperti yang dilakukan Afrizal dalam “mauerpark” dan “kalder,” dalam upaya melepaskan तत् dari genggaman tatanan simbolik patriarki yang dibangun kata, aksara, bahasa, yang, kata Lacan, “sudah ada hingga saat setiap subjek pada titik dalam perkembangan mentalnya memasukinya” sedemikian sehingga si sujek menjadi budak bahasa, ...yang sudah menetapkan tempat bagi si subjek sejak kelahirannya kendati hanya dari namanya.” Atau, bisa juga kita simak garapan para penulis asemik, seperti Tim Gaze dan Jim Leftwich, yang menggurat, menoreh, menyapu noda pada kertas dengan upaya sengaja menghindar dari makna. Seperti mereka, Afrizal membiarkan tinta ada sebagaimana adanya: garis, noda, blot (sebagaimana Lawrence Sterne di abad kedelapan belas menyajikan narasi Tristram Shandy tentang keberadaanya sebelum lahir dengan menyajikan satu halaman penuh dengan tinta hitam). Garis membentuk huruf. Namun, garis juga membagi-bagi benua dalam lintang dan bujur, dan garis-garis inframerah, dan bluetooth dan gelombang transversal dan longitudinal. Garis-garis juga ikut berperan mereproduksi diri dengan puluhan “kurikulum vite yang terselip di bawah tisu basah,” yang disimpan dalam format .pdf yang dikirim via email ke semua klien dan mitra, garis yang pada KTP, SIM, KTM, Kartu NPWP, Kartu Askes dan BJPS, dan paspor serta visa yang difotokopi, dinunggah, diunduh, dan disahihkan oleh coretan tandatangan pejabat dan cap lembaga. Lalu, diri kita dievaluasi. Berapa nilai diri kita setelah sedemikian rupa digandakan dan didigitalisasi dan dikonversi menjadi bilangan kuantitatif? Berapa harga tandatangan Gubernur Bank Indonesia pada lebar kertas yang dihias oleh pola floral yang sedemikian rumit?

Tampaknya.

Note4AfrizalMalna.jpg
Tampaknya memang kita memberi nilai mutlak pada kata-kata yang membangun diri dan dunia kita. Jika saya sendiri, misalnya berusaha merenungi apa saja dalam kehidupan saya yangs aya anggap bernilai, yang muncul dalam benak saya adalah huruf-huruf: D-E-M-O-K-R-A-S-I, K-E-A-D-I-L-A-N, P-E-R-S-A-H-A-B-A-T-A-N, C-I-N-T-A ([tanda sambung] K-A-S-I-H). Jadi, mungkin, jika saya hendak menerima ajakan Afrizal Malna untuk istirahat sejenak dari nebula kata dan aksara yang menghidupi saya, saya akan memberi tanggapan begini:

Jika demikian, mungkin—mungkin, kita dapat hidup dalam kenyataan, alih-alih terbuai dalam mitos bahwa a      b            c          d          e          f           g          h          i           j           k          l           m         n          o          p          q            r           s           t           u          v          w         x          y          dan      z
merupakan imitasi dan sumulasi yang laik bagi pengalaman hidup di dunia nyata.

Akhirnya.

Akhirnya lagi.
Z. Ω. Ya.

[...]



______________________
*Dosen Sastra Inggris Universitas Padjadjaran.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger