IDUL ADHA, MAHASISWA ATAU DOMBA

Oleh: John Heryanto


foto: John Heryanto

Hari raya penyembelihan (yaumun nahr) atau lebih dikenal dengan hari raya idul adha, kali ini berbarengan degan hari tani nasional (24 September). Bila kurban  bermula dari peristiwa Ibrahim yang hendak menyembelih anak sendiri sebagai persemabahan kepada tuhan (bukti keimanan), maka hari tani bermula dari upaya pembebasan tanah dari kolonial untuk rakyat (reforma Agraria).

Bagi orang yang memiliki penghasilan lebih, naik haji maupun kurban adalah hal yang mudah sehingga tercapailah rukun islam yang ke 5. Tapi bagi orang miskin tentunya harus menunggu kaya dulu begitupun bagi tuan tanah (tengkulak, mafia pertanian) soal lahan garap adalah  hal yang mudah tapi bagi petani kecil sangatlah berbeda apalagi dihadapkan dengan keyataan harga-harga yang jatuh karena banjir impor. Lantas untuk apa sebetulnya Idul Ahda dan kurban hari ini?

Ada 1 ekor sapi, 1 ekor kambing dan 2 ekor domba di potong-potog di belakang mesjid ISBI Bandung dengan gembira, seperti pula tahun-tahun sebelumya setiap lebaran haji, dimana UKM PEMANIS ISBI (panitia kurban) akan membagikan potongan-potongan daging kepada warga sekitar kampus.

Menyoal kurban sebetulnya sudah ada sejak pertama kali manusia mengenal berburu (meramu), hal itu dapat dilihat pada  lukisan di dinding gua (leang) dan alat-alat yang digunakan semisal kapak primbas, kapak penetak, kapak genggam, mata tombak, dll. Dimana hewan buruan tidak hanya sekedar makanan melainkan juga untuk pakaian, perhiasan bahkan persembahan bagi roh nenek moyang (karuhun) berupa menhir maupun dewa semisal menyembelih ayam hitam atau kerbau (labuhan/kwiroe) sebagai permohonan untuk keselamatan hidup.

Begitupun juga dalam peristiwa kurban nabi-nabi yang bermula pertama kalinya dari  Adam dan Hawa dengan cara memakai pakian dari kulit hewan yang diciptakan oleh Tuhan Allah (Taurat-Kitab Kejadian 3:21) sebagai sebuah jalan untuk penebusan dosa atas “kejalangan”  adam dan hawa  di surga (huldi) sebelum penjejahan dunia dimulai.

Sedangkan Musa “Moses” melakukan kurban ”penebusan dosa” sebagai permohonan keselamatan hidup dimasa yang akan datang (tolak bala) setelah terbebasnya bangsa Israel dari perbudakan bangsa mesir (Fir’aun), dengan mengambil darah hewan yang disembelih lantas dioles-oleskan serupa melukis di pintu gua (Taurat, Kitab Keluaran 12:22) dimana mereka tidak boleh keluar gua sampai pagi datang.

Ritual kurban selanjutnya diteruskan oleh Ibrahim (pemilik 1000 ekor domba dan unta) setelah bermimpi tentang Allah yang menginginkan anak ibrahim di sembelih sebagai persemahan padaNya. Tentang kabar Tuhan yang datang lewat mimpi, juga hadir dalam mimpi Yusuf diwaktu kecil maupun Muhammad.  Namun masalah persembahan kurban dalam budaya kita hari ini serupa Tumbal bagi pesugihan (Klenik), dimana sebelumnya pelaku pesugihan berjanji kepada dirinya seperti pula Ibrahim yang berkata ketika ditanya oleh seorang pengembara saat mengembala domba dan unta di bukit “semua ternak ini milik Allah, jangankan ternak jika Allah menginginkan anak pun akan aku persembahkan kepadaNya”. Karena Ibrahim telah menunjukan kesetiaannya “penebusan dosa” kepada tuhan dimana shalatku, ibadahku bahkan matiku hanya untuk Allah, maka Allah pun mengganti Ismail (Buah cinta Ibrahim & Siti Hajar) dengan Domba.

Peristiwa Ibraim (kurban) merupakan sebuah cara bagaimana dirinya membuktikan apa yang ia sebut keyakinan, dimana manusia telah mati (kebalikan dari Nietchze) lantas bangkit menjadi yang lain (ma’rifat) persis  manunggaling kaula gustinya Siti Jenar. Sedangkan digantinya Ismail dengan domba serupa disalibnya Al-masih, di islam yang disalib diganti dengan orang lain dan di kristen yang disalib adalah Yesus, namun keduanya terbebas dari apa yang dinamakan mati karena telah menjadi yang lain “dibangkitkan”.

Lantas mengapa anaknya sendiri yang harus disembelih, dimana ibrahim (orang tua) dan Ismail (anak muda) yang sama-sama percaya kepada Allah, atau hari ini disebut KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) kenapa tidak ayahnya saja yang disembelih oleh anak (misal: Sangkuriang, Oedipus). Tentunya ada hal lain selain keyakinan terutama berkaitan dengan keadaan yang menyebabkan hal ini terjadi sebagaimana yang dikatakan oleh penghutbah Shalat Idul Adha di lapangan parkir ISBI Bandung bahwa sejarah kurban adalah masalah tarbiyah atau pendidikan dan bagimana itu semua berlangsung.

Jika kurban adalah sebuah gambaran penyelenggaraan pendidikan hari ini, dan tujuan-tujuan penyelenggaraannya hanya berdasarkan penghambaan kepada perintah (tuhan) semata. Sebab tanpa mempunyai cara memandang, melihat , membaca, dan mengamati, maka mahasiswa hanyalah seekor domba kurban bagi kepentingan di belakang tujuan pendidikan semata “kekerasan budaya” di bawah perintah tuhan dikti, tuhan wordbank, tuhan kemedikbud dan tuhan unesco –yang entah siapa dari mereka menuhankan siapa –.

Tapi jika pendidikan adalah sebuah jalan bagi setiap orang  untuk menemukan apa yang disebut manusia, maka pendidikan merupakan sesuatu yang tak terbatas bagi pembebasan manusia, sebagaimana ismail yang terbebas dari penyembelihan ayahnya. Sebab jika tidak, domba-domba akan mengacau di mimbar penghotbah.
____________
*Performance Artis & Peneliti Seni


Related

Pendidikan 1630467402926667642

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item