KAMPUS PUZZLE ISBI BANDUNG

Oleh Iwan Setiawan


“Bongkar pasang kampus ISBI Bandung”, kalimat inilah yang pas untuk mengawali tulisan ini. Beberapa minggu yang lalu pembangunan lapangan di depan kampus ISBI Bandung akhirnya rampung juga, namun anehnya beberapa hari kemudian bangunan tersebut kembali dihancurkan dan rencanya akan dibangun galery. Hal ini tentu positif. Mesti di dukung oleh mahasiswa dan seluruh Civitas Akademik. Namun ada hal yang harus digaris bawahi yaitu “Bongkar Pasang” yang sering terjadi di kampus kecil yang baru saja menjadi Institut.
Seperti sebelum-sebelumnya, bongkar pasang dilakukan di beberapa bangunan kampus, misalnya saja pada ruang-ruang Organisasi yang terletak di area belakang kampus. Pada awalnya ruangan-ruangan bekas UKM dan HMJ yang terletak di area belakang kampus akan di jadikan kantin, namun setelah dihancurkan untuk di bangun kantin, bangunan tersebut tidak selesai-selesai hampir satu tahun lebih. Lantas apa masalahnya? Kekurangan danakah? Atau memang pembangunan itu adalah bentuk Improvisasi yang dilakukan oleh orang –orang yang punya kepentingan didalamnya?
Ketika saya sempat berbincang dengan Kepala Bagian Umum yang bertanggung jawab atas Infrastruktur kampus di ISBI bandung, beliau mengatakan bahwa dana dari pemerintah belum turun dan akhirnya pembangunan kantin tidak bisa diselesaikan. Alasan atau bukan, hal itu sudah terjadi dan terus dibiarkan hingga berlarut-larut. Permasalahannya adalah ketika pembangunan tidak selesai dengan alasan dana yang tidak ada, kenapa pemabangunan ruangan yang kini di tempati oleh UKM Arga Wilis dengan cepat terselesaikan.
 Selanjutnya adalah bongkar pasang yang terjadi di ruang yang kini di tempati oleh UKM Mapala Arga Wilis, pada mulanya ruangan tersebut adalah ruangan BEM, namun BEM diharuskan pindah dengan alasan ruangan tersebut akan dibangun dan dijadikan ruang Bagian Perencanaan. Pada saat BEM sudah meninggalkan ruangan tersebut, ruangan langsung dihancurkan dan tentu saja seperti biasa langsung dibangun kembali, dengan alasan ruangannya akan di perbesar. Tapi dengan tiba-tiba tanpa sepengetahuan mahasiswa akses publik ditutup tembok dengan alasan agar ruangan Bagian Perencanaan tidak terganggu oleh orang-orang yang melintas menggunakan jalan di depan ruangan Bagian Perencanaan. Alasan yang cukup “konyol” memang, tapi itulah alasan dari pihak lembaga.
Pada saat itu pula UKM Pers Daunjati berinisiatif untuk meminta dukungan kepada mahasiswa dan para dosen agar jalan yang sebelumnya digunakan sebagai akses publik untuk dibuka kembali. Hal itu dilakukan karena dengan ditutupnya jalan tersebut dengan otomatis semua pengguna jalan tersebut harus berputar lebih jauh. Selain itu, jalan tersebut merupkan satu-satunya akses menuju toilet yang disediakan untuk tiga Ormawa; KMT (keluarga mahasiswa teater), ISMASI (ikatan sport mahasiswa STSI), dan Daunjati, yang ruangannya di area depan. Alasan lain mengapa Daunjati bersikeras untuk membuka kembali jalan itu, ada tendensi dari lembaga untuk mengisolasi tiga Ormawa yang bersikukuh untuk tidak dipindahkan. Sebab saat lembaga pernah meminta kepada Daunjati, ISMASI dan KMT untuk pindah ke ruang Ormawa di area belakang, tiga Ormawa tersebut tidak menyetujui, dengan alasan ruangan Ormawa di area belakang lebih kecil dan hanya cukup untuk kurang lebih 10 orang dan itupun harus dalam keadaan berdiri karena kalau duduk tidak akan cukup, ini akibat ruangan yang sempit. Sementara BEM dan MM nurut-nurut saja pada keputusan lembaga yang sangat merugikan itu.
 Usaha untuk mengumpulkan tandatangan dari mahasiswa dan para dosen yang menggunakan jalan tersebut pun dilakukan. Akhirnya dukungan itu terkumpul, tembok dihancurkan dan jalan di buka kembali. Akses publik dapat digunakan kembali untuk melintas ke area depan dan belakang kampus. Dan seperti yang sudah-sudah, bangunan yang rencanya akan digunakan untuk ruangan Bagian Perencanaan tidak dilanjutkan dan dibiarkan terbengkalai menjadi sarang nyamuk.
Tidak selesai sampai disana, setelah beberapa bulan terbengkalai, ruangan tersebut akhirnya kembali dilanjutkan seperti memasang kusen dan dinding kaca. Setelah selesai rencana awal bangunan dialih fungsikan menjadi ruangan UKM Mapala Argawilis. Dengan beberapa hari saja ruangan tersebut selesai tanpa ada alasan kekurangan dana ataupun alasan konyol lainnya.
Lalau bagaimana ruangan di belakang kampus yang akan dijadikan kantin “katanya”. Ruangan tersebut juga tidak selesai. Beberapa bulan kemudian, bangunan yang awalya akan dijadikan kantin ini kembali dilanjutkan pembagunannya, namun kali ini langsung pada perubahan rancangan bagunan. Rencana awal pembangunan kantin kini berubah mejadi bangun yang akan dijadikan ruang kelas untuk jurusan baru, yaitu Jurusan Angklung dan Musik Bambu, katanya juga untuk Jurusan Etnostudi.
Hal ini bukanlah masalah kecil, karena sepertinya tidak adanya kesiapan yang serius dan benar-benar matang yang dilakukan oleh lembaga terhadap apa-apa saja yang akan dibangun di kampus ini. Hal itu bisa kita lihat dengan banyaknya bukti-bukti kongkrit di lapangan. Hanya tinggal mencari tahu data halus berupa master plan, transparansi dana, kejelasan kontraktor dan lain sebagainya, mungkin kita dapat menemukan kedok lain dari maksud bongkar pasang bangunan di kampus ini. Tinggal kemauan mahasiswa untuk peka dan mau berfikir tentang masalah ini.
Alih status STSI menjadi ISBI Bandung seperti tidak memiliki kesiapan dan ada kecenderungan “memaksa-maksakan” untuk diapakan sebenarnya kampus ini. semuanya dilakukan dengan mengawang-ngawang tanpa melakukan pembacaan tehadap realitas yang sebenarnya terjadi di kampus ini dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh mahasiswa. Dana pembangunan kampus lenyap dengan percuma yang tentu saja bukan uang yang sedikit untuk melakukan bongkar pasang pemabangunan. Sementara ada hal yang lebih serius dan lebih genting  yang dibutuhkan oleh mahasiswa namun tidak diperhatikan.
Salah satu fakta real yang terjadi, jurusan TV dan Film membutuhkan Studio untuk berkarya, namun sampai sekarang pembangunan Studio Film tak kunjung selesai, dan sekarang entah dipakai untuk apa studio film yang belum selesai itu. Apabila lembaga tidak memiliki dana untuk melanjutkan pembangunan studio film, hal itu tidaklah mungkin, karena saat ini lembaga sedang gencar melakukan bongkar pasang bangunan. Namun sedikit ironis, respon dari mahasiswa jurusan film yang sampai saat ini kurang merespon masalah tesebut, sepeti membiarkan studio film tidak jelas kapan akan diselesaikan. Padahal mereka harus membayar mahal untuk SPP persemeseter namun fasilitas yang didapat sangat kurang memadai bahkan jauh dari memadai, bahkan untuk kelas teori saja juga tidak mencukupi.
Hal lainnya adalah buku-buku perpustakaan yang sudah lama tidak diperbaharui, disadari atau tidak hal itu adalah hal yang paling terpenting untuk dilakukan. Sampai saat ini sudah hampir lima tahun lebih buku-buku tidak pernah diperbaharui. Pihak perpusatakaan sudah beberapakali mengajukan kepada pihak lembaga agar adanya dana untuk memperbaharui buku-buku, namun sampai sekarang pengajuan tersebut tidak pernah mendapat respon dari pihak lembaga. Sementara dikalangan mahasiswa seperti terlihat anteng-anteng saja dengan apa yang terjadi. Buku adalah gudang ilmu begitu kata pepatah. Namun mahasiswa seperti tidak merespon dan hanya menikmati saja teori-teori yang entah saat ini masih relefan atau tidak dengan berkembangnya dan beragamnya cara berfikir suatu masyarakat begitu juga dengan seninya sebab kampus ini merupakan kamus seni. Itupun kalau mahasiswanya rajin baca.
Ini hanya beberapa pemaparan tentang masalah terkecil dari apa yang terjadi dikampus ISBI Bandung. Rasanya sudah cukup untuk kita meyakini bahwa adanya ketidak beresan dikampus ini. Hal ini tentu sangat menghawatirkan. Bagaimana kampus ini bisa melahirkan insan-insan seni. Sementara terjadi banyak ketidakberesan dikalangan pejabat kampus dan lebih gawatnya mahasiswa yang katanya Agent Of Change banyak yang tidak menyadari, atau menutup mata dengan keadaan kampus ini. Sudah saatnya kita berani berbicara dan menyikapi persoalan yang terjadi demi kebaikan kita dan kampus tercinta ini.
 Sebelum saya mengakhiri tulisan ini saya akan mengutip kata-kata yang dibuat oleh lembaga dan  juga saya akan mengutip kata-kata yang dibuat oleh Pers Mahasiswa Daunjati.
 “Hormatilah Almamater dengan berpenamipilah rapih” (ISBI Bandung)

 “Hormatilah Almamater dengan merapihkan isi kepala kita” (LPM Daunjati)

Related

Kampusiana 8388954952324149251

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item