LEGENDA TUBUH DAN PAMERAN TUGAS AKHIR SENI MURNI

Oleh: John Heryanto*

“Apakah kau akan menginginkan seni ketika sakit…”
(Nietzche)
Foto: John Heryanto - Pameran Tugas Akhir Seni Murni

Bicara masalah tubuh  merupakan sesuatu yang  tak akan pernah selesai meski paling purba dari sejarah manusia itu sendiri, bahkah tubuh terus memperbaharui dirinya. Bukan hanya Adam dan Hawa yang terasing dari tubuhnya setelah makan huldi di surga, Plato menyebut tubuh sebagai kuburan bagi jiwa, Sartre menyebut tubuh adalah jiwa dan aku sendiri, Lacan menyebut tubuh dan citranya dibangun oleh phallus, Foucoult  menyebut tubuh hanyalah mesin dari kepatuhan.

Sejak manusia menggambar tubuh di dinding-dinding gua zaman primitif dulu, sejak saat itu pula tubuh dalam seni rupa terus diungkap guna membongkar hal-hal yang tak ter-apakan dalam tubuh yang terus bermetamorposis.

Dalam pameran tugas akhir seni murni di galeri 212 yang berlangsung dari tanggal 1-4  September 2015 pengunjung seakan menyantap hikayat visul tentang tubuhnya seumpama cermin dari beragam ekspresi, mulai karya ilmiah baik berupa karya seni (lukis atau patung) maupun hasil kajian seni (skripsi) dalam rangka memperoleh gelar kesarjanaan.

yang berdiam dalam kanvas

Pameran tugas akhir seni murni dibuka dengan menguburkan selembar kertas berisikan kata-kata yang di tulis oleh para mahasiswa peserta pameran sebagai pesan terakhir, penguburan itu dilakukan bersama-sama oleh mahasiswa yang merupakan peserta pameran, ketua prodi dan rektor.

sebuah penguburan ingatan dihari yang senja, tentunya tidak sekedar tatapan yang berakhir di ujung mata melainkan telah membawa pengunjung pada pertanyaan dimanakah ingatan tubuhnya akan disimpan.

dalam pameran tersebut ada 4 paparan berupa bagan-bagan dari hasil kajian seni (skripsi) dalam pigura, dimana peristiwa seni itu disimpan seperti pula lukisan itu sendiri diantaranya Representasi Perempuan dalam Karya Seni Lukis Chusin Setiadikarna tahun pembuatan 1994-2010 (Arintan Gustina Mulyana), Unsur budaya lokal pada karya Astari Rasyid ( Ira Safitri), Pengaruh Ikon Budaya Populer Pada Perupaan Karya Heri Dono – Studi kasus 5 karya Lukis (Oky Mauludya S), dan Interpretasi Seni Lukis Kaligrafi Abdullah Djalil Pirous (Sangid Zaini Gani)

dari 4 paparan tersebut seakan menegaskan bahwa galeri tidak haya sebagai tempat dimana peristiwa seni itu berlangsung melainkan juga sebagai tempat produksi wacana seni itu sendiri dari sana pula kiranya pengunjung dapat menemukan apa yang tersimpan dibelakang seniman dan karyanya yang dikaji.

Dalam Pembukaan Pameran tersebut Bu Een Herdiayani (rektor ) mengatakan bahwa 2016 akan dibangun galeri baru di depan dekat gerbang kampus, sehingga mahasiswa dapat kapan saja menuangkan gagasan seninya kerena ditunjang dengan fasilitas.

hari-hari tubuh

Tubuh dalam kebudayaan timur memiliki posisi yang penting, bagaimana diletakan dan dirayakan mulai dari ritual 4 bulanan,7 bulanan semasa dalam kandungan, ritual kelahiran, ritual penanda dewasa semacam upacara potong gigi/ tato dll, upacara mensucikan tubuh serupa adus/ zakat fitrah/mandi kembang /semedi/dll, ritual kematian ,dll termasuk penghormatan pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti rambut itu mahkota,dll. selain itu tubuh juga telah memiliki falsafah dalam menjalani kehidupan pemiliknya berdasarkan tradisinya masing-masing.

Julia Tejaningsih dalam lukisan kolase berjudul Tapak yang berjumlah 6 buah , terinsiprasi dari permaianan anak-anak berupa gambar kaki-kaki yang penuh kata-kata dari koran yang sedang bermain dengan latar warna coklat tanah. Julia Tejaningsih dalam lukisannya yang simbolik, tentunya kaki disini tidak haya sekedar kaki yang dicuci sebelum tidur melainkan sebuah dunia yang dibangun dari pemahaman kesadaran hidup pemiliknya atas keseharian, dimana masa kanak-kanak (jejak rupa) yang telah dilaluinya tidak sekedar ingatan semata melainkan sebagai cara seseorang bertahan (spiritual) dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

Lantas bagaimanakah jika tak ada masa kecil bahkan ia telah lebih dulu mati dalam rahim ibunya karena aborsi, hal itulah yang diungkap Kharisma Rieyang Utari dalam lukisan kolase Gruesome sebanyak 40 buah berukuran 22x22 cm. tubuh-tubuh yang rusak, organ dalam tubuh yang terurai, wajah bayi yang menangis dan semua gambar itu disusun ulang dengan latar warna-warna seperti pagi hari sehingga tak ada lagi kengerian ketika mata pengunjung pameran memandang. Kharisma Riyang Utari dalam bahasa rupanya yang apolonian dimana kerusakan direkontruksi ulang  menjadi keindahan sehingga nampak menyenagkan namun dibalik itu ia mempertanyakan kembali apa artinya hidup.

Hidup ternyata hanyalah sebuah kegilaan, apalagi bagi seorang perempuan ketika tubuhnya bukan lagi miliknya bahkan apa yang disebut dengan perempuan maupun  wanita, hal itulah yang diungkapkan oleh Chatibah Silmi dalam patung torso dengan judul Menggeliat dengan ukuran 50cm x 30cm x 60 cm sebanyak 5 buah dari rantai besi yang dirakit. Chatubah Silmi dengan bahasa rupa yang anarkis tidak hanya sekedar mempersoalkan kenyataan hidup entah itu religius, artistik, maupun filosofis yang didasarkan pada kepentingan produksi, juga merupakan pernyataan bahwa perempuan dan laki-laki sama saja  sebagai roda dari sejarah yang terus menggelinding

_______________
* Performance Artis.

Related

Seni Rupa 1018241188209850428

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item