LOKO SITATO MAHLUK vs MANUSIA INDONESIA

Oleh: John Heryanto

Tadinya aku guyon, Apa-apa selalu dengan jiwa khetok- Soedjojono, aku pikir sejak 2006 selalu ketak ketok modif motor dan itulah jiwa ketok yang sebenarnya karena untuk menampakan dirinya haruslah sesuai dengan keseharian serupa proses menghaluskan dan mengetok seng.

(Henryette Luis)

Pameran LOKO SITATO.  Foto: John Heryanto
Seni rupa Indonesia menurut Soedjojono bukan sekedar melukiskan keindahan seperti “mooi indie“ yang digemari kolonial melainkan untuk mengungkap kenyataan hidup masyarakat pribumi dimana penjajahan berlangsung. jiwa khetok (jiwa yang tampak) baginya merupakan buah seni dari sang seniman,  dimana karya seni ditentukan oleh watak dan kepribadian si seniman itu sendiri. Lantas apakah seni itu hanya ditentukan oleh watak semata? Hal itulah yang menjadi alasan mengapa loko sitato lahir.

Pameran ini merupakan program hibah s.14 yang ke dua bagi anggota perpustakaan sosiologi.14 yang  telah mendedikasikan dirinya kepada masyarakat menyoal seni dan sampah, seni disini hadir tidak hanya memperlihatkan dirinya melainkan sebagai penyadaran dimana limbah bukan lagi sekedar  sampah tetapi menjadi bahan baku bagi yang lain semacam loko sitato, dengan demikian masyarakat dapat pula melakukan hal  yang serupa secara menyenangkan setelah mereka berkunjung ke pameran selain itu ada juga worksop bagaimana mengolah seng (11-12 September) dan pertunjukan musik seng pada penghujung pameran nanti.

Mengumpulkan barang rongsokan terutama seng sudah dilakoni  Henryette Luis sejak 2010 semasa kuliah dulu di STSI yang sekarang berubah menjadi ISBI Bandung, seng yang kini hadir di galeri s.14 (21 Sept - 21 Okt 2015) dengan bentuk  menyerupai binatang berkaki empat merupakan perwujudan dari pengalaman visual akan kepercayaan dan tahyul yang tersimpan pada manusia Indonesia. Bagi Luis tentunya seni bukanlah soal watak maupun kepribadian melainkan berdasarkan proses keseharian seperti pula dirinya mulai dari mengumpulkan seng, menghaluskan dan mengetok-ngetok serta pencarian bentuk dari sketsa maupun drawing sehingga lahirlah loko si tato.

Masalah tahyul dan kepercayaan pada hal-hal gaib semacam tuyul, babi ngepet, dll dalam masyarakat merupakan bagian dari produksi kapital sejak dulu kala. sebagaimana yang dikemukakan Michael Tausing bahwa lahirnya kepercayaan terhadap iblis agar menjadi kaya, sehubungan dengan apa yang terjadi pada kaum tani ketika mereka mengalami  proletarisai saat kehidupan diatur oleh relasi produksi kapital di masa kolonial, termasuk arca yang disembah (spiritual) merupakan hasil dari reproduksi figur kolonial itu sendiri dimana mereka tunduk, terteror termasuk pengharapan akan kebebasan dan ketenangan hidup itu sendiri.

Begitu juga dengan takhul hari ini soal peruntungan dan ramalan telah menjadi bagian dari keseharian mulai dari depan mata seperti facebook , google dll, tahyul rumahan semacam perempuan itu hanya masalah dapur, ramalan joyo boyo, hantu komunis dll termasuk rutinitas untuk ketenangan hidup (spiritual) tidak hanya di rumah ibadah saja juga di bar, panti pijat,  karoke, dll dalam relasi produksi.

Loko si tato bagi Luis merupakan mahluk peniru seperti pula seni yang lahir dari refleksi kenyataan sejarah yang terus tumbuh disekitar dimana sang seniman mengadopsi keseharian manusia Indonesia sebagai bentuknya, juga bagaimana ia mengidentifikasikan dirinya dengan mengambil jarak  dari apa yang ia cermati dan dengan sadar pula mengungkap hal-hal pribadi tentang proses kesenian termasuk dengan guyonan perumpamaan jiwa ketok sehingga jadilah loko sitato mahluk sebagai manusia Indonesia baru di ruang pameran dimana para pengunjung atau sebagai manusia yang ditiru akan senantiasa berubah-ubah berdasarkan kepentingan (mimikri).

Sedangkan masalah peniruan maupun penyetaraan (apropriasi) dalam karya  Henryette Luis kali ini dengan meminjam manusia indonesia dari paparan buku Mochtar Lubis  untuk mengungkap masalah takhyul dalam masyarakat sekarang, termasuk ungakapan “jiwa khetok”.

Dalam ranah seni rupa, tentunya praktek apropriasi telah menjadi ciri dari seni rupa masa kini terutama setelah pameran “On Approprition”  di galeri semarang tahun 2007 yang diikuti oleh Aminudin T.H Siregar, Gede Mahendra Yasa, Galam Zulkifli, Dadan Setiawan, Yogie Ahmad Ginanjar, Dipo Andy, Dadan Setiawan, Randi Rawindra, Wiyoga Mahardanto, Bambang “toko” Witjaksono, Astari Rasyid, Hamad Kalaf  dan Riffki Effendy sebagai kurator dimana parktek apropriasi dirayakan dan dinyatakan  sejalan dengan perkembangan seni rupa itu sendiri.

Kiranya loko si tato tidak hanya sekedar mahluk tiruan dari manusia Indonesia, perwujudan tahyul, juga akumulasi dari produksi kapitalis yang berlangsung, termasuk mempertayakan sejarah seni rupa yang berjalan.
_______
*Performance Artis dan Peneliti Seni


Related

Seni Rupa 5928700417768952737

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item