Headlines News :
Home » » MERAH BOLONG DAN KEBUDAYAAN BISU.

MERAH BOLONG DAN KEBUDAYAAN BISU.

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 05 September 2015 | 16.36.00

Oleh: John Heryanto*

Foto: John Heryanto - Merah Bolong

kemerdekaan adalah batu-batu bisu yang dimonumenkan /dan terkubur dalam sejarah kelam / kemerdekaan adalah kemerdekaan / bukan merdeka, lalu mati sia-sia.
kemerdekaan adalah perlawanan terhadap penindasan / dan ketidakpastian hukum / yang semakin merah, semakin  bolong.  
(Catatan pada tiket Pertunjukan)

Merah Bolong merupakan pertunjukan teater tubuh yang ke 8 dari Teater Payung Hitam setelah Tuhan dan Kami (1987), Ritus Topeng Ritus (1989), Rupa Gerak Bunyi (1991), Meta Teater-Dunia Tanpa Makna (1991), Kaspar (1995), Aku Masih Hidup (1996) dan  kali ini Merah Bolong kembali dipentaskan di Studio Teater ISBI Bandung (16-18 Agustus 2015) dalam rangkaian Post Festival (pertunjukan proses) Pasca IKJ sekaligus merayakan 70 tahun Indonesia merdeka.

Jika dulu pertama kalinya Merah Bolong  di pentaskan tahun 1997 sebagai sebuah respon terhadap rezim Orba dan juga tahun 1999 di Teater Utan Kayu untuk  Megawati, lantas apakah pentas kali ini juga untuk Jokowi?

Joko kurnain menyebut pertunjukan merah bolong sebagai gambaran dari manusia masa atau pekerja (dialektika antara realitas dan identitas Teater Payung Hitam, 2009) namun pertunjukan merah bolong kini tentunya berbeda dengan yang dulu dimana tidak ada lagi batu berwarna merah dan putih, aktor yang bertopeng, slide dengan gambar-gambar pembantaian yang ditembakan ke layar belakang pangung, batu yang disusun menyilang maupun hujan kerikil yang menimpa tubuh aktor.

Dalam katalog pertunjukan Fatul A. Husain menyebut bahwa pertunjukan ini sebagai refleksi atas maraknya praktik dehumanisasi yang terjadi hari ini. lantas bagaimanakah tubuh maupun panggung menampung semua itu?

“Saya tidak mengintruksikan aktor untuk bisu, tapi karena kata-kata tak penting lagi maka mereka bicara dengan gerak dan bunyi yang ditimbulkan, sedangkan batu selain dapat menimbulkan bunyi yang banyak, juga sebagai lambang dari permasalahan yang berat dan itulah masalah yang kita hadapi hari ini, semisal batu yang berayun bukankah dapat dimaknai sebagai sebuah ancaman, lantas mengapa mesti berkata-kata.” (Rahman Sabur tentang proses Merah Bolong di Koran Suara Merdeka 10 Agustus 1997)

Tubuh dalam pertunjukan ini mejadi hal yang penting dimana ia menyatakan dirinya sebagai bentuk teater juga penyambung pesan ketidak berdayaan (submengen in the culture of silence) kaum tertindas  atas situasi penindasan akibat praktek dehumanisasi, meski hakikatnya kaum penindas (penguasa) dan yang tertindas (yang dikuasai) sama-sama menyalahi kodratnya (the man‘s ontological vocation) dimana masyarakat hanya peduli pada kenikmatan jasmani (hedonisme), kekayaan dan gengsi (prestise).

pada kenyataanya tidak hanya kata-kata begitupun dengan tubuh hari ini telah dibangun oleh kuasa modal ketika ganteng, cantik, atlesis, putih, bersih, gendut, montok, langsing, kurus, mulus, molek, sehat, rambut panjang berkilau, botak, rapih, dll  adalah produk termasuk kehendak itu sendiri yang telah menjadikan tubuhnya sebagai mesin.

Jika kata-kata dan tubuh hanya  menjadi  serangkaian cara untuk bertahan hidup semata maka ia adalah  ilusi seperti pula seni yang dipersembahkan bagi orang-orang yang kelelahan karena rutinitas kerja dan dicambuk oleh kehidupan, dimana para penonton duduk memandang kehidupan orang-orang aneh di panggung lantas berkata inilah kebudayaan, sebab telah terbiuas dan merasa terhibur hingga lupa atau teralihkan dari masalah dan kenyataan yang terus bergulir, lantas apakah pertunjukan merah bolong hanya akan menjadi obat penenang semata dan sekedar berujung di panggung?

Terlepas dari itu semua, Merah Bolong adalah sebuah  pertunjukan yang mampu menjabarkan kenyataan berdasarkan masanya (Orba) dimana teater  tidak hanya sekedar pertunjukan melainkan telah menjadi gerakan perubahan diwaktu itu, dan  hari ini 17 tahun sudah reformasi berlalu.  
_____________

*Performance Artis & Peneliti Seni
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger