PENONTON FILM YANG TERSESAT DI RUMAHNYA.

Oleh: John Heryanto*


Seorang peserta diskusi (mahasiswa Jurusan Teater ISBI Bandung) berambut sebelah dengan anting di telinga kanan, bertanya: “sejak kecil saya ditemani film kartun dan sampai hari ini saya masih menonton film tentunya tidak hanya kartun, namun saya merasa menjadi asing, lantas untuk apa film itu ada?”

Pemateri (Benny Yohanes) menjawab: ”anda menderita penyakit gangguan kejiwaan, sebaiknya datanglah ke psikater karena jika dibiarkan akan menjadi berbahaya”.

Dari sanalah kiranya film Indonesia hari ini dipertanyakan, apa sebenarnya fungsi film bagi penonton?

Jum’at (18/09) di Gedung Kesenian Sunan Ambu di gelar acara Apresiasi Film Indonesia (AFI) yang ke-4, sejak diadakan pertama kali oleh Kemendikbud  tahun 2012 dan kali ini bekerja sama dengan pemerintahan kota Makasar. Salah satu rangkaian acara AFI-4 yaitu acara diskusi yang mengusung tema “kegiatan apresiasi film Indonesia  berbasis nilai budaya, kearifan lokal dan pengembangan karakter bangsa” dengan pemateri Beny Yohanes ‘BenJon’, Sudibyo JS, dan Agus Hakim ‘Bang Dul’ sebagai moderator.

Acara ini merupakan penjabaran dari UU Nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman Pasal 36 dan 37, dengan tujuan untuk mengapresiasi film-film Indonesia yang bertemakan nilai budaya dan kearifan lokal, dan pemerintah akan memberikan penghargaan bagi insan film yang membangun karakter bangsa serta menunjukan keluhuran budaya di mata dunia.
Apa sebenarnya yang dimaksud keluhuran budaya? Jika budaya adalah segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus oleh manusia, sejak ia mengenal lingkungan dan kedaan sekitar  seperti  usaha untuk mencari nafkah hidup mulai dari bercocok tanam sampai berdagang termasuk menjadi pegawai pemerintah, menjalankan segala sesuatu secara rutin untuk menjadikannya  merasa tenang (agama), memiliki cara bagaimana sebuah rutinitas dapat dikelola (kuasa), ruitinitas berdasarkan untung rugi (produksi), refleksi dari rutinitas (seni ) dll.

Tentunya negara dan pasar adalah suatu kesatuan yang utuh dimana pada mulanya sebuah kebudayaan lahir untuk pemenuhan kebutuhan (kerja) sebagaimana yang dikatakan oleh Marx dan Weber bahawa budaya lahir dari uang (nilai yang murni dari hubungan manusia) sebagai krisis kapital dan tragedi budaya dimana manusia tanpa henti membuat produk-produk budaya sampai melampaui dirinya (more-life). Maka jelaslah budaya adalah sesuatu yang terus akan bergerak melampaui apa yang dipikirkan sebelumnya, lalu apakah keluhuran budaya itu merupakan rutinitas yang berdasarkan pemilik kuasa semata seperti pula seni yang lahir dari kalangan keraton untuk perjamuan tamu dan kesenangan raja semata? Lantas bagaimana kenyataan  dapat diungkap dalam budaya yang terus tumbuh untuk dinamakan sebagai indonesia?

Film sebagaimana yang diutarakan Benjon memiliki keterkaitan dengan keadaan masyarakat, dimana  ia menjadi idola bagi masyarakat kecil seperti film Satria Bergitar waktu dulu dan sekarang digantikan dengan horor semisal Arwah Goyang Karawang’ Jupe-Deppe, Pacar Hantu perawan, Pocong Mandi Goyang Pinggul, Pelukan Janda Hantu Gerondong, dll. Semakin aneh judulnya maka akan semakin laku di pasar, meski pada akhirnya penonton akan dibuat bodoh, sedangkan film sebagai sebuah pendidikan di zaman Orba diwakili dengan keluarga cemara “ Keluarga Ideal”, Gita Cinta dari SMA “budaya kota” dan Penghiatan G30S/PKI “ Stempel Politik Orba dalam sinema”.
selain itu ada juga film yang berdasarkan idealisme produser maupun sutradara yang di awali dengan Petualang Serina - Produksi Miles, AADC, Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta, sedangkan film yang mengadvokasi masyarakat kecil hari ini yaitu film-film dokumenter dan inilah film alternatif  bagi masyarakat hari ini.

Lantas bagaimana film Indonseia hari ini? Sudibyo masih berkutat dengan permasalahan identitas film nasional dengan menjelaskan bahwa sudah saatnya hari ini film Indonsia mengangkat budaya Indonesia yang beragam karena hanya dengan itulah yang menjadi pembeda dengan film Amerika (retorika), Perancis (menyoal manusia), dll.

Sebagaimana pula yang dilakukan Lenin setelah revolusi Bolshevik, dengan membuat laboratorium untuk penelitian percobaan film sehingga lahirlah Teori Bits (Titik tolak akting) dan di sinilah pentingnya Revolusi Mental dengan begitu kita menjadi sadar akan budaya karena hanya lewat itulah kita dapat memiliki ciri tersendiri, sebagaimana yang dikatakan Benjon dalam makalahnya bahwa untuk meng-Indonesia: film harusnya menyurakan tema lokal, re-evaluasi tradisi, apresiasi dan promosi keberagaman budaya.

Masalah identitas dalam film merupakan masalah sejak zaman dulu ketika Indonesia ada, sempat pula muncul dalam Festival Film Indonesia 1997 dengan tema “Wajah Indonesia” dimana film harus mampu memperlihatkan gambaran dan kehidupan manusia dan kehidupan Indonesia yang ada, namun tentunya kenyataan hidup terus bergerak sehingga sangat sulit untuk dibakukan bahwa inilah Indonesia bahkan Arifin C. Noor pernah mengatakan ketakutannya akan film meng-Indonesia bahwa kelak penonton film (masyarakat Indonesia) yang nyata semata-mata memang hanya menonton dan tidak pernah diwakili oleh film serta karya seni modern Indonesia.

Jika demikian kemana kah penonton film akan pergi mencari dirinya ketika seni hanyalah sebuah dunia yang asing?

Lantas lokalitas semacam apakah yang dinamakan Indonesia, apakah semacam Organisasi Papua Merdeka atau Gerakan Aceh Merdeka dimana dirinya mejadi hilang ketika dikatakan Indonesia, atau semacam film  Lutung Kasarung (1926) atau Terang Bulan (1937) yang diproduksi oleh Belanda untuk pribumi sehingga masyarakat menjadi sadar akan dirinya sebagai hamba yang terkagum-kagum pada si tuan?  Semacam apakah yang indonesia itu ketika 70th sudah kita merdeka tapi masih mancari apa itu indonesia, apakah sumpah pemuda (1928) adalah sebuah kekeliruan ketika mengatakan bahwa berbangsa, bahasa dan tanah air yang satu adalah indonesia?

Apakah ini yang dinamakan karakter bangsa, dimana orang-orang asing merasa senang, terhanyut lantas ingin tinggal dan menanam saham di Indonesia, setelah menonton film. Lalu bagaimana dengan manusia Indonesia?

Manusia Indonesia (penonton) yang dimaksudkan dalam diskusi ini harus sadar akan dirinya sebagai salah satu bagian dari keberagaman budaya tersebut sesuai dengan yang digambarkan dan dicitrakan oleh film, jika tidak maka ia akan dianggap sebagai orang yang memiliki penyakit gangguan kejiwaan.
___
*Performance Artis & Peneliti Seni

  

Related

Film 8761302278052761619

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item