Headlines News :
Home » » ARSITEKTUR TUBUH DARI PANGGUNG RUKREWA

ARSITEKTUR TUBUH DARI PANGGUNG RUKREWA

Written By LPM DAUNJATI on Senin, 23 November 2015 | 07.43.00

Oleh: John Heryanto*
Jasmin Okudo "Otaku". Foto: John Heryanto

Sejak Alfiyanto dengan Wajiwa Dance Theater membangun Rumah Kreatif Wajiwa (Rukrewa) di Ciganitri-Bandung, sejak itulah Public Stage rutin digelar tiga bulan sekali dari tahun 2014. di Public Stage (22 Nov) itu pula para siswa Rukrewa yang terdiri dari anak-anak dan remaja dari daerah tersebut akan tampil mempersentasikan hasil pembelajarannya. Selain itu juga mengundang seniman dari luar, sehingga antara belajar dan pertumbuhan tari hari ini hadir beriringan. Pada masyarakat sekitar rumah seniman itulah akhirnya tari akan berpulang.

Para penonton yang hadir mulai anak-anak sampai ibu-ibu kebanyakan sudah mengenal ruangan di Rukrewa, lalu bagimanakah ruang yang hadir di panggung?

Ruang tubuh “Otaku”

Sebuah tangan bergerak seperti daun pintu yang dihempaskan angin, tangan yang terseok mengibaskan bagian tubuh lainya mulai dari kepala, dada, pantat sampai kaki. Jasmin masih berdiri di teras rumah dengan caping di kepala.  Tubuh itu hinggap di jendela seperti kupu-kupu dengan pose-pose yang bertumpu pada tangan dan kepala. Kemudian menyusuri panggung, tangan dan kaki tak henti meliuk serupa layar perahu. Lalu capingnya dilepas kemudian diganti dengan topeng juga kerudung merah. lantas bergerak lagi menelusuri jejak-jejak alamat dalam dirinya. Begitulah pertunjukan tari “Otaku” dari Jasmin Okudo (Jepang) yang berlangsung selama 30 menit.

Pada beberapa  gerakan yang hadir di panggung terlihat gamang semacam lapangan yang ujungnya terletak diakhir pandangan mata, tubuh yang kehilangan kedalaman ruang dalam dirinya sehingga yang nampak dihadapan penonton hanyalah tehnik tubuh semata. Ada pun musik yang hadir di sini tidak menemukan ruangnya di panggung, ia hanyalah sekedar latar bagi gerakan tubuh saja sehingga musik cukup selesai di telinga penari.

Secara keseluruhan, Jasmin telah berhasil menyatukan antara ruang panggung, ruang dalam tubuh dan ruang dari bagian-bagian tubuhnya dimana sudut-sudut pangung adalah ujung tubuhnya sendiri. Pada akhinya “Otaku” serupa bangunan yang memiliki bayak ruang, ruang dengan batas sendi-sendi dalam tubuh sebagai dinding.

 “Otaku” lahir dari melihat pertunjukan tari Indonesia di usianya yang ke 35. Jasmin mulai menonton tari Indonesia (khusunya bali) sejak usianya 9 tahun, hingga memutuskan untuk mempelajari tari-tarian bali. “gagasan Otaku ini lahir dari apa yang saya lihat tentang tari-tarian Indonsia mulai dari Bali, Jawa termasuk Sunda. Lantas otak saya memyimpan ingatan tersebut dan tubuh mewujudkan ingatan-iangatan dari kepala dengan mengolah ruang di panggung ini” ucap keografer yang sempat kuliah di Jurusan Tari ISI Denpasar sampai semester enam.   

Lalu lintas tubuh “Ahung”

            Mula-mula hanyalah nyala api dari sosog di atas nyiru, Rahul (Darmasiswa ISBI Bandung dari India) mulutnya mengucapkan mantra-mantra India sambil bersila memejamkan mata, semacam semedi di tengah-tengan keadaan yang berbeda dari apa yang dialami tubuhnya di tanah kelahirannya. Kiranya Mantara itulah yang menemukan tubuh Rahul dan penonton di pangung meski dengan basa yang berbeda.

            Seorang gadis (Nde) dan anak laki-laki (Abi) hadir di jendela, menyalakan damar, mata yang kosong serupa anak-anak yang kehilangan masa bermainnya. Wajah yang sayup-sayup itu menghadap ke depan. Sebuah bingkai dengan foto dua anak yang sedang menyusuri tubuh lewat matanya. Gadis itu bergerak, lantas anak laki-laki menyimpan topeng di atas nyiru lalu kembali ke jendela.  Gadis dengan topeng warna putih, rok putih dan baju hitam itu bergerak di sekitar nyiru, tubuh itu berayun serupa bandul jam sementara kaki dan tangannya serupa jarum yang menyusuri nomer-nomer. Sesekali anak laki- laki bergerak ke depan jendela lalu masuk lagi ke dalam.

            Kemudian kedua tubuh itu bergerak serupa dua orang yang saling membelakang lalu menikam. Tubuh sejenis dadu dalam tong dengan pitol di tangan kiri seorang gadis, lantas jatuh terkapar. Di teras  rumah Rahul tampak bersila di depan pintu sambil meniup paralon, lantas tubuh yang terkapar itu bangun menghampirinya. Lalu air jatuh satu-satu dari atap rumah, di lantai yang becek kedua tubuh seumpama katak yang berenang dalam air lantas melompat menemu darat.

            Pertunjukan “Ahung” berlangsung 30 menit, pada beberapa adegan terlihat berat dimana tubuh tak lagi mampu menampung muatan narasi yang dipinggulnya, sehingga tubuh kebingunan mencari arahnya. Bila dilihat dari usia penari yang menampilkannya, hal ini menjadi wajar jika terjadi demikian. Sebab pertunjukan ini sebagimana yang dikatakan koreografer Wajiwa bahwa“Ahung merupakan ganbaran dari penyatuan antara perjuangan dan kesucian dimana api, air, tanah dan udara menjadi satu.” 

Terlepas dari itu semua “Ahung” telah berhasil memperlihatkan tubuh sebagai jalan bagi lalu lintas gerak yang meluncur serupa meja makan dengan tumpukan piring yang bergerak sendiri di atasnya.
_____

*Performance Artis & Riseter seni.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger