Headlines News :
Home » » BIENNALE JOGJA: PERJUMPAAN-PERJUMPAAN (BUDAYA) DALAM KONTEKS ASIA

BIENNALE JOGJA: PERJUMPAAN-PERJUMPAAN (BUDAYA) DALAM KONTEKS ASIA

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 24 November 2015 | 07.09.00

Oleh: Mohamad Chandra Irfan*

Symposium Biennale Jojga. Foto: M. Chandra 
Biennale Jogja merupakan pameran dua tahunan yang telah dilakukan sejak tahun 1988. Tahun ini perhelatan tersebut mengambil tema “Hacking Conflict” dengan peserta 23 seniman Indonesia dan 11 seniman Nigeria yang berlangsung 1 November-10 Desember, juga merupakan perhelatan ke-3 yang mengeksplorasi seni rupa di kawasan equator atau khatulistiwa. Selain dari pada perhelatan pameran yang kolaboratif, Biennale Jogja pun mengadakan Program Biennale Forum – Biennale Jogja XIII. Di mana pada Biennale Forum tahun ini mengangkat tema “Perbincangan Tentang Lokal, Kosmopolitan, dan Relasional” yang digelar tanggal 17-19 November 2015, bertempat di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta (Hari 1, 17 November 2015) dan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta (Hari 2 dan 3, 18-19 Novemver 2015).

Perjumpaan-perjumpaan (budaya) dalam konteks Asia ini, mencoba membuka-lebarkan beberapa persoalan yang kemudian dijawab-jelaskan dalam beberapa karya seni. Vera Mey (New Zaeland) dengan pengalaman kerjanya yang luas dalam beberapa proyek pertukaran budaya—Vera Mey berbicara menyoal fenomena kerja residensi dan proyek kolaborasi di Asia Tenggara. Biennale menjadi ruang untuk produksi artistik, pertukaran dan kolaborasi, sebab ada banyak platform yang ditawarkan di wilyah ini untuk aktivitas-aktivitas tersebut. Vera mencoba mengeksplorasi institusi-institusi berskala kecil dan starategi mereka untuk menciptakan intervensi yang lebih terbuka dan setara. Vera mencoba mengangkat kembali institusi-institusi kecil menjadi semacam ruang artikulasi dalam menghadapi intitusi yang lebih besar. Sebab di dalam pemetaan intitusi kecil saat ini kerapmenjadi suara kecil yang kehilangan gemanya. Kondisi semacam ini amatlah perlu digali kembali, guna menemukan kembali ruang-ruang artikulasi yang lebih besar. Ini disebabkan karena institusi yang menggelobal terus-menerus diekspos, sementara yang lokal ditutup (dibatasi) ruang gerak dan gertaknya. Vera Mey adalah kurator CCA – Centre for Contemporary Art, Singapore – sebuah pusat riset dari Nanhyang Technological University (NTU). Untuk tahun 2015-2016 ia menjadi salah satu bagian akademisi dari Ambitious Alighnments: New Histories of Southeast Asian Art, sebuah insiatif riset dari Getty Foundation, dan juga sebagai komite editorial pendiri Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art.

Kemudian Jannice Kim (Korea), menjelaskan ihwal pertukaran budaya yang sedang berlangsung di Korea Selatan serta bagaimana pemerintah Korea Selatan sangat gencar untuk melakukan penetrasi budaya baik ke luar negeri maupun ke dalam negeri melalui berbagai program seni dan residensi. Pengaruh seni pada akhirnya saling bertautan antara pengkarya (seniman) dengan kurator, di mana keduanya saling memaju-pesatkan untuk kebutuhan seni yang mengalami, seni yang bisa diciptakan dari hal paling purbawi ke seni yang lebih sekarang ini. Hal ini berkaitan dengan tujuan utama pemerintah Korea Selatan dalam membuka ruang gerak dan jejaring pemerintah sehubungan dengan agen seni lain yang sudah mapan. Jannice Kim membuka dua ruang non-provit di  Seoul, Art+Lounge Dibang dan Cottonseed in Mullae Art Village pada 2010. Pada tahun 2012 ia diundang ke Gillman Barrack, ruang hubungan seni kontemporer di Singapura untuk mengelola ruang Cottonsed dan mengenalkan seniman Korea Selatan ke scene Asia Tenggara dan sebaliknya.

Sementara itu Agung Hujatnikajennong (Indonesia) dia menceritakan pengalamannya bagaimana bekerja dalam konteks biennale di Indonesia dan bagaimana relevansi pertukaran budaya dalam penyelenggaran biennale. Misalkan, dalam Biennale Jakarta, Agung berfokus pada pertukaran regional Asia Tenggara dan melanjutkannya dalam konsep mobilitas dalam Biennale Jogja XII. Menurutnya, apakah perpindahan merupakan praktik penting dalam seni Asia Tenggara?

Biennale yang ada di dunia ini berlangsung sekitar pada era 90-an dan itu menjadi semacam trend juga di negara pinggiran. Misalkan di Indonesia, tradisi Biennale itu sudah meng-konotasi-kan sebagai pameran 2 tahunan yang secara ruang lingkup menyangkut nasional saja. Namun sejak tahun 2000-an label biennale sudah merapah ke-Internasional-an. Seperti juga Biennale Jogja yang merapah ke wilayah equator atau khatulistiwa. Ini bisa diindikasikan sebagai efek dari perang dingin, sehingga pameran menjadi semacam kanal untuk diplomasi. Pada praktiknya, seringkali orang-orang menganggap Asia Tenggara sebagai ‘zona paspor’ sehingga hal itu membuat keterkukungannya interkasi di luar Asia Tenggara. Sementara itu Agung menggarisbawahi bahwa Asia Tenggara adalah ‘area tempat bekerja’, sehingga pameran-pameran yang sifatnya Asean menjadi zona yang cair. Agung juga menampilkan beberapa proyek seni kolaboratifnya, di antaranya antara seniman Indonesia dan Arab—yang membaca kembali mobilitas di kedua negara tersebut, ada saling-silang-sengkarut di dalam mobilitasnya, misalnya menyoal penduduknya. Kemudian proyek pembuatan video berdurasi 3 menit, setiap orang mempunyai durasi 3 menit dalam pembuatan video, namun pada satu menit terakhir video itu dilemparkan ke orang lain. Proyek seni pembuatan video tersebut hasil kolabirasi seniman Bandung dengan Sanghai yang terinspirasi dari permainan dadaisme dan surealisme.

Di akhir Agung mengutarakan, bahwa ‘pertukaran budaya’ haruslah disikapi dengan sikap terbuka, sebab pertukaran budaya levelnya lebih kompleks. Setiap saat akan terus berganti. Ia akan menggelinding, dan berjalan terus-menerus, dinamis.



*Reporter Pers Daunjati. Menulis (puisi dan esai), menjadi aktor teater, dan meneliti seni.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger