KONGRES KESENIAN INDONESIA III: Selamat Datang Abad Kegelapan

Oleh: John Heryanto*
poster kongres seni.


“....dalam olah kegiatan  bidang kesenian khususnya diperlukan kesadaran berbangsa, dalam tehnik dan gaya kita dapat bergabung dengan aliran perkembangan yang terjadi di manca negara.....aneka ragam seni budaya daerah adalah kekayaan kita bersama sebagai suatu bangsa.... tugas yang lebih penting lagi  bagi kita bersama adalah memperkukuh sosok kebudayaan nasional kita yaitu kebudayaan bangsa Indonesia yang modern dan berakar pada warisan budaya para pendahulu kita”(Pidato presiden Soeharto saat menerima peserta  Kongres Kesenian Indonesia I di Istana Negara 6 Desember 1995)

            Meski keputusan KSI I dan KSI II tidak dilaksanakan pemerintah, setidaknya pemerintah punya daftar “makanan” untuk diiklankan di mana-mana seperti pula kata-kata cintailah produk dalam negri. Namun jika ditelesuri kembali apa tujuan Kongres Kesenian Indonesia (KSI) dari sejak pertama diadakan sampai yang ke 3 yang akan berlangung dari tanggal 1-5 Desember 2015 di bandung, jelaslah apa sebetulnya tujuan KSI diadakan.  Ia hanyalah serangkaian  kegiatan  menyimpan makanan di dapur yang siap disajikan kapan saja kepada pengunjung yang menginginkannya, dengan sederet nama-nama yang berlabel made in indonesia, lumayan sekedar cemilan atau teman minum.

 “.Kesadaran akan sejarah kebudayaan dapat dianggap sebagai usaha untuk mewariskan nilai-nilai berharga dari generasi yang hidup di masa lalu untuk diteruskan pada generasi berikutnya. Oleh karena itu, diperlukan ketentuan pengaturan dalam pelestarian pengetahuan serta nilai-nilai dari sejarah kebudayaan Nusantara..” (Pendahuluan RUU Kebudayaan)

Jika segala jenis ‘makanan’ sudah dibekukan,  siap cetak, siap diperbanyak dan ditampung di gudang-gudang sebagai bagian dari Heritage UNESCO. setidaknya lebih laku dari para pedagang Hindia Belanda di Paris dulu di tahun 1889 dalam  Exposition Universele de Paris. Begitulah kalau kegiatan “flat merah” yang penting bapak senang, rupanya uang itulah nilai paling murni dari hubungan manusia hingga lahirnya sebuah kebudayaan.

“Banyak lembaga asing yang memasarkan kebudayaannya di Indonesia. Itu hal yang baik sebagai bagian dari dialog. Namun selama ini kita selalu bersikap pasif. Seharusnya kita jadi aktor yang mampu bicara dalam hal kesenian di depan mata dunia. Apakah basis pendidikan di kita mampu menjawab itu?” (Mohammad Abdul Azis ketua Koalisi Seni Indonesia dan anggota Stering Comite KSI III dalam kabar24.bisnis.com)

Jika merunut pada pernyataan di atas maka fungsi adanya pendidikan seni yang diharapkan oleh Kongres Seni Indonesia yaitu minimal sebagai ‘pabrik genting’ biar tak kehujanan dan dapur terus ngebul.
Kiranya itulah kenapa Kongres Seni diadakan, gak apa-apalah gelap-gelap dikit yang penting gelapnya dalam saku celana.
___________

*Performance Artis & Riseter Seni 

Related

budaya 8068047356343481132

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item