Headlines News :
Home » » MEMBACA ARSIP LEWAT GERAK TARI

MEMBACA ARSIP LEWAT GERAK TARI

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 15 November 2015 | 05.22.00

Oleh: John Heryanto*


Pertunjukan 'Touch' Hanny Herlina. Foto: John Heryanto


Barangkali lewat gerak yang dilakunan itulah tubuh mengutarakan keberadaan dirinya beserta dengan segala yang menyertai, meski sekedar kedipan mata. Apa yang telah dilalui di hari-hari yang terlewatkan antara persentuhan  diri dengan yang lain, tubuh sebagai yang melakukan sekaligus menyimpan apa yang dijalani secara bersamaan. Lantas bagimana keduanya dibaca dalam tubuh itu sendiri?

Dari pertunjukan “Melintas: menyudutkan yang tak tersudutkan” (11 Nov) di Hall PKKH UGM yang diselengarakan atas kerjasama PKKH UGM dengan Indonesia Dance Festival, tari  kembali dibaca berdasarkan segala yang melekat dalam dirinya sebagai tubuh. Pertunjukan ini merupakan sebuah upaya penelusuran pada titik-titik perkembangan tari berdasarkan konteksnya dari tiga generasi yaitu pertama, Ary Ersandi yang menampilkan ‘Pintu Manusia’, karya ini sebelumnya sempat ditampilkan pada KoreoLab Dewan Kesenian Jakarta, kedua, Hanny Herlina dengan ‘Touch’ berdasarkan pendekatan rasionalitas tubuh terhadap bunyi yang merujuk secara khusus pada musik nirvana dari Toshi Tsuchitori meet Sardono WK (Kyoto Theater, Jepang 2014),ketiga, Bagong kussudiardja ‘Layang-layang’ (1954) yang direkontruksi oleh Anter Asmoro Teja dari Balai Latihan Bagong Kussudiardja.

Pada ‘Pintu Manusia’ tubuh menyatakan dirinya atas kegelisahan pemiliknya mengenai apa yang dilalui sebagai Koreogafer. Ari menyebutnya semacam pengungkapan kenyataan tari di jogja hari ini, dari apa yang ditemui selama melakoni tari. lewat benang-benang berwarna putih yang memanjang membelah panggug dari ujung ke ujung secara horizontal termasuk garis-garis di belakang yang jatuh vertikal secara acak dan tubuh penari yang dibungkus dengan kain. Seakan mengaskan bagimana tubuh menelusuri dirinya dari apa yang mengitari di sekelilingnya semacam jalan setapak di tengah hutan yang asing.

Tubuh itu bergerak serupa embun yang meluncur dari daun ke daun lantas jatuh menemu tanah. Ia telah kehilangan dirinya ketika terhempas sehingga sulit untuk memungut pecahan-pecahan ketika tubuh benar-benar jatuh. Namun pada beberapa gerak yang dihasilkan oleh tubuh menampakan beban yang dibawa oleh diri penarinya sendiri sehingga penonton meraba-raba jalan untuk menemukan apa yang terdapat dalam tubuh yang dilihatnya di panggung. Hal itu barangkali disebabkan oleh beberapa penari Ari yang bergerak terasa kaku serupa jarak yang memisahkan penari dengan tubuhnya sendiri. Akan tetapi lewat ‘pintu manusia’ itu penonton dapat menemukan apa yang sebenarnya dihadapi penari dalam kenyataan hidupnya di Jogja akhir-akhir ini.

Tubuh memang sulit dilepaskan dari kenyataan di luar dan bagaimana tubuh itu bertidak terhadap apa yang ada di depannya. lewat ‘Touch’ Hanny memperlihatkan bagaimana tubuh bergerak berdasarkan apa dirasakan oleh telinga dan bagaimana organ tubuh lainya bertindak ketika kehadiran bunyi disampingnya. Tubuh itu bergerak menyusuri lorong besi yang mengitarinya dimana telinga adalah mata dan kaki itu sendiri semacam notasi yang berjalan menyusuri garis-garis pada buku not balok. Pada kesunyian panggung barang kali kediaman tubuh bertemu dengan musik sebagai bunyi itu sendiri. Namun bagimana pun menonton menikmati dari apa yang nampak dihadapan dimana gerak tubuh penari sebagai bunyi itu sendiri dan bunyi dari musik yang menjadi pengiringya, pada kedua hal tersebutlah apa yang hadir di panggung menjumpai penonton. Dibeberapa gerakan yang dilakukan oleh hanny ada kalanya berbarengan dengan musik sehingga terlihat musik sebagai pengiring semata dan berjalan berbeda arah yang entah akan kemana. Apakah gerak tubuh sebagai bunyi, gerak tubuh yang merepon bunyi atau bunyi yang merepon gerak tubuh.

Sedangkan pada pertunjukan rekontruksi ‘layang-layang’ Bagong Kussudiardja, Anten mengajak penonton pada masa lalu gerak yang dihasilkan oleh tubuhnya sebagai ruang musium dimana ingatan mengutarakan kehadirannya lewat gerak itu sendiri. Disinilah ingatan penonton tentang Bagong bertemu dengan tubuh penari di panggung yang mengutaran ingatannya dari apa yang ditemukan tentang Bagong itu sendiri. Berangkat dari pembacaannya terhadap teks-teks dan foto tentang pertujukan Bagong, Aten mengolah tubuhnya guna mengungkap apa yang tersebunyi dibalik layang-layang.

Dari pertunjukan ‘layang-layang’ itulah penonton dapat menemukan pencarian gerak tubuh dalam tari yang terus bergulir hingga hari ini. hal ini sekaligus menjadi jawaban bagimana sejarah tari dapat disimpan dan dibaca oleh generasi selanjutnya sehingga dikemudian hari tidak kehilangan arah.

__________
*performance artis & peneliti seni


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger