MENCARI APOTEK DAN PUISI DI TUBUH AKTOR

Oleh: Mohamad Chandra Irfan

Jumat malam (01/05/15), Taufik Abdul Rojaq dan R. Melia lewat Agustina Kusuma Dewi mencoba menawarkan Fragmen di Bingkai Perak sebagai medan artikulasinya di Studio Teater STSI/ISBI Bandung. Bagaimana jadinya jika sepasang orang tua mencari dirinya dari bayangan dirinya? Apakah mungkin sebuah bayangan dapat menjadi jembatan bahasa untuk mengartikulasikan dirinya? Sementara pada saat yang bersamaan, intervensi dan kejadian terus menerus melancarkan dirinya ke tubuh yang lain! Hidup dalam garis kemiskininan adalah fenomena yang terus menerus lahir dan tumbuh di masyarakat negara ketiga seperti Indonesia ini. Akhirnya ketika manusia saat ini melihat fenomena tersebut, hanya bisa bereaksi pada hari itu, pada saat peristiwa itu terjadi—tanpa ada tindakan yang lebih riil untuk menuntaskan fenomena tersebut.

Narasi Luka dari Atas Papan Kasur

Mereka berdua sebenarnya tidur satu ranjang, keduanya memakai sarung. Euis (Nuramalina Yuhana) mulai gusar, mulai membolak-balikan tubuhnya. Sebentar ia bangun, lalu tidur lagi. Sementara Asep (Puad Saefuz Zaman) masih tertidur pulas, bahkan malah menarik sarung untuk membungkus seluruh tubuh terutama kakinya, posisi morongkol. Euis masih dengan sikap yang sama, gusar dan gelisah—akhirnya Euis benar-benar bangun, duduk, kemudian membangunkan Asep.  Sepasang suami istri yang hidup di dalam sebuah gubuk, menjadi pemulung barang-barang bekas. Mereka berdua saling berbicara kesusah dan kesenangnya. Ketika pusat kesadaran Euis mulai direduksi oleh kuasa tubuh di luar dirinya, ia pun mulai menyatakan dirinya di hadapan yang liyan, yaitu Asep. Euis ingin didengar dan diakui keberadaan dirinya di hadapan yang liyan. Sehingga segala sumber gerak dan motifnya bisa tercapai dengan baik. Namun apa daya, semuanya hanya menjadi teks semu, teks yang mengambang; ketika yang dihadapi adalah orang yang sama-sama ingin mendapatkan pengakuan atas yang liyan juga. Masing-masing mempunyai perspektif yang sama, sama-sama ingin keluar dari kemelut yang selama ini mendominasi dirinya, kemiskinan. Pada akhirnya untuk membangun sebuah keluarga tidak hanya cukup dengan “cinta” saja, namun finansial jauh lebih menjanjikan untuk memberi dan menerima apa yang dinamakan dengan kebutuhan. Sandang, pangan, papan, menjadi tema dominan dari apa yang digagas Fragmen di Bingkai Perak. Puncak dari peristiwanya adalah ketika Euis mendapati dirinya hamil, akan tetapi Asep tidak dapat menerima begitu saja, sebab menurut Asep; hidup berdua saja segala sesuatu harus dipikirkan dengan keras, bisa makan pagi, tidak bisa makan sore atau malam. Serba terbatas.  Apalagi ini ditambah harus hidup dengan yang lain. Bagaimana nanti mengurusi biaya persalinan, biaya makan, kebutuhan sehari-hari? Suasana masa depan pun semakin meruncing menjadi sesuatu yang menakutkan. Lagi-lagi narasi masalalu menjadi apotek untuk membereskan segala persoalan.

Dialek Setengah Matang

 Ada banyak sekali cara aktor untuk menafsirkan teks yang dihadapinya. Teks yang mula-mula hadir sebagai rentetan kata-kata kemudian harus dialih-tempatkan menjadi sebuah teks yang dilafalkan. Bagaimana caranya seorang aktor menemukan rasa teks, jika seandainya bibir pun sudah tak mampu lagi menemui rasa, katakanlah mati-rasa? Ini sebuah tantangan bagi seorang aktor untuk menyelami berbagai teks yang hadir di depan matanya. Tidak lagi menjadi teks yang hanya menggelontor begitu saja, yang keluar dari rahang dan ujung bibir, namun harus menjadi “kendaraan imajinasi” bagi penontonnya, meminjam istilah Suyatna Anirun.

Seorang aktor mestilah cerdas memilih rasa dari tiap teksnya, karena dari sana akan diketemukan sebuah pemaknaan yang tidak satu pintu, melainkan berbagai pintu. Jika seorang aktor tak mampu mengurai dan menguliti teks yang dihadapinya, maka sudah dapat ditakwil aktor tersebut tidak akan mampu mengartikulasikannya dengan baik dan tepat. Pemilihan dialek dari setiap diksi yang akan disampaikan pun menjadi penanda paling fundamen dalam menentukan laku dan peristiwa.

Naskah dengan teks universal macam bahasa Indonesia bagaimana pun membuka ruang untuk ditafsir ke mana suka, didekatkan ke mana pun, misal pada pendekatan waktu kejadian, tempat kejadian, dan watak setiap tokoh tersebut. Taufik Abdul Rojaq yang akrab dipanggil Dudee dan R. Melia yang akrab dipanggil R, mencoba menggiring pemaknaan aktor pada wilayah Priangan. Dengan dialek khas Priangan. Nuansa Priangan pun tampak menjadi lebih dekat dan tidak berjarak dengan penonton yang mayornya adalah orang ber-suku-kan Sunda. Akan tetapi ada yang disayangkan, ketika dialek Priangan itu dilakukan oleh aktor, malah tidak menjadi sesuatu yang dekat, malah berjarak dengan aktornya sendiri. Terlihat dari inkonsistensi aktor terhadap pelafalannya. Lagi-lagi akhirnya aktor menjadi rabun dekat dalam persoalan bahasa. Bahasa yang dikontruksi tidak menjadi monumen, namun hanya menjadi momen saja.

Nihilitas Vokalisasi Kelas Menengah

Seorang penonton saat menonton sebuah pertunjukan teater, secara tidak langsung ia akan membaca gagasan dan visualisasi yang dihadirkan oleh sutradara. Di sini penonton akan membaca kemungkinan biografi yang bocor dari seorang sutradara. Lakon Fragmen di Bingkai Perak dengan genre tragik-komedi ini dihadirkan dengan tanpa kedalaman. Yang tersisa hanya ketawa murahan dari setiap penonton.

Akhirnya teater tidak hanya menjadi sebuah ladang yang kehilangan peladangnya, melainkan teater tetap harus ada beserta peladangnya. Kedudukan sutradara menjadi sangat penting sebagai subjek pertama yang menafsir terhadap teks yang ada di hadapannya. Sifat pertunjukan pun tidak merupan sebuah pertunjukan yang bersifat presentasi, melainkan representasi. Artinya ada dua realitas yang dikomparasi menjadi satu bentuk realitas. Kenyataan sebagai realitas pertama akan berjalan secara nature mengikuti waktu yang siklik tidak mekanik, sementara karya seni naskah dan pewujudan peristiwa dari naskah menjadi realitas kedua yang lengkap dengan model-model pendistorsian kentara.

Arahan sutradara menjadi peran penting dalam membaca kemungkinan watak setiap tokoh dan itu yang akan menjadi representasional dari setiap antropologi dan psikologi yang ada dalam diri seorang tokoh. Hukum-hukum logika sangat berlaku di sini. Bagaimana mungkin untuk seseorang yang hidupnya serba terhimpit bisa berbicara tanpa beban, tanpa sebuah keharuan? Sementara pembahasaan/vokalisasi setiap aktor menjadi sangat penting dalam lakon Fragmen di Bingkai Perak ini. Karena bagaimana pun penihilan terhadap beban teks/dialog dengan watak/karakter tokoh yang terepresi itu tidak bisa begitu saja dinihilkan—di sana penonton akan menangkap imaji terhadap tokoh itu untuk dijadikanya “teater kedua”, meminjam istilah Afrizal Malna.

Pada akhirnya kita mencari seorang aktor yang bukan gesture melainkan aktor yang benar-benar figur. Kita juga mencari aktor yang tidak kehilangan “puisi” di tubuhnya, sehingga tidak asal melaku melainkan harus mengaku. Kali ini teater mencari kekasihnya, yaitu aktor!




Related

Teater 4345388704073050472

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item