TEATER TOPENG SANGKURING : DALAM BAYANG-BAYANG MAKNA

Oleh: Ganda Swarna*

Sangkuring & Sumbi. Foto: Amoratina Paloopi
Sembilan bambu besar disusun berjajar, pemisah antara ruang yang mempertemukan Sangkuring dengan yang ada didalam dirinya dan ruang yang mempertemukan apa yang ada di luar tubuhnya, batas antara ruang depan dan belakang pada panggung prosenium. Topeng wajah berukuran besar dari bambu yang dapat digerakkan dari dalam, bergerak lalu berdiri di antara dua dari sembilan bambu. Jin-jin menari makai topeng dari bambu mengelingi topeng besar, bunyi ritme seperti tarawangsa dari bambu dibunyikan ditangan para jin. Sangkuring masuk setelah para jin keluar. Ia bertemu dengan dewa yang keluar dari dalam bambu-bambu yang tergantung membentuk ruang lingkaran. Berdiaolog dengan bunyi dari bambu (tek-tek).

Dewa tahu apa yang dapat dicintai dan yang tidak pantas dicintai. Seperti cinta Sangkuring kepada Sumbi ibunya. Dewa datang sebagai peringatan dengan kontras cahaya dan bunyi-bunyi bambu. Lalu hilang ketika Sumbi datang.
Diantara batang bambu Sangkuring mencumbu Sumbi dengan bunga mawar merah. Tumang ayahnya, datang  sebagai anjing dengan kostum dan topeng bambu. Sumbi pergi. Cahaya dari lampu yang membekah ruang menjadi titik fokus dimana Sangkuring membunuh Tumang ayahnya. Tumang mati, mayatnya tergeletak di depan batang bambu tempat Sangkuring dan Sumbi bercumbu. dewa membawa pergi mayat Tumang.

Adegan di atas merupakan bagian dari pertunjukan kelompok teater payung hitam yang menjadikan tubuh dan bunyi sebagai bahasa yang membahasakan legenda sangkuriang, disadur oleh Sutradara Rachman Sabur dari naskah Sangkuriang karya Utuy Tatang Sontani menjadiTeater Topeng Sangkuring dan Sumbi. Tiga adegan ini mencoba memperlihatkan permainan tubuh, bunyi dan simbolisme, hasilnya ia menjadi gambar-gambar peristiwa yang memuntahkan banyak makna.
Pertunjukan Teater Topeng Sangkuring dan Sumbi juga merupakan program gelar karya dosen jurusan teater ISBI Bandung dan praktek mata kuliah manajemen produksi oleh mahasiswa teater ISBI Bandung Semester VII. Pertunjukan tersebut berlangsung selama dua hari, dibagi menjadi dua sesi perharinya, senin 16 November 2015 pukul 16.00 dan 20.00 wib dan esoknya pada jam yang sama.

Teater Topeng Sangkuring dan Sumbi, seluruhnya menggunakan bambu sebagai setting, kostum dan eksplorasi bunyi. Media bambu seperti yang diterangkan Rambo (salah satu aktor yang memerankan Tumang) mencoba mengekspolari benda-benda yang ada dan dekat dengan lingkungan kita salah satunya bambu. Seperti pertunjukan merah bolong sebelumnya yang menggunakan media batu. Bambu di sini menjadi dominan dalam membangun visual dari peristiwa-peristiwa diatas panggung.
Tata cahaya (fajar okto) Bunyi (Keleeng dan Basir) sangat menentukan perubahan ruang, dan logika pertemuan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Seperti tokoh dewa (basir) yang memerankan dua tokoh sekaligus, pada satu sisi ia menjadi dewa ketika bertemu langsung dengan Sangkuring (azhar), Sumbi (christi), Tumang (rambo), dan menjadi pemimpin jin ketika bertemu dengan koor jin-jin yang lain.  Pertemuan itu diperkuat dengan perubahan cahaya dan bunyi yang digunakan dalam berinteraksi. seperti Ketika ia bertemu dengan Sangkuring, ia menggunakan tek-tek, dan bunyi lain ketika bertemu dengan jin.

Pada wilayah tubuh dan bunyi dalam pertunjukan teater topeng Sangkuring dan Sumbi,  rupanya tubuh bergerak untuk meyampaikan garis-garis cerita. Tubuh dari tema yang diberikan oleh sutradara belum sepenuhnya muncul sebagai tubuh yang benar-benar mengalami dan merasakan.  Penguasaan tubuh aktor dalam  megolah kembali tema dari sutradara ternyata belum begitu berhasil dilakukan.

Adegan dibuka dengan masuknya dewa, memainkan tek-tek lalu menembang didalam bambu-bambu yang membentuk lingkaran. Topeng bambu besar yang semulanya tergeletak seperti undukan batu, Ia adalah diri yang lain dari Sangkuring, sifat atau keangkuhan Sangkuring yang ingin memiliki apapun. Bahkan dewa dan jin-jin. makna dari sifat sangkuring keakuan sangkuriang. Sembilan bambu yang menjadi batas ruang, berubah ketika jin memanjatnya dan memukul seperti kentongan yang mengabarkan sesuatu kepada yang jauh. Jin-jin yang lain masuk meneror Sangkuring, kostum dari bambu menjadi eksplorasi bunyi yang meneror antara pertemuan Tumang dengan jin dan melawan kehendaknya untuk memiliki apapun.  

Diantara barisan jin dengan obor menyala,  dengan bunyi-bunyi keos, Sangkuring mengetahui kenyataan ia membunuh ayahnya dan mencintai ibunya. Marahnya diwujudkan pada tubuh yang melahap habis mawar merah. Jin dengan obor menyala didalam topeng raksasa, api dari obor membentuk dua mata di topeng, jin-jin masuk kedalam topeng, api obor menjadi banyak. Tumang, dan segalanya masuk kedalam topeng kecuali Sumbi. Disanalah adegan berakhir. Bagi Sangkuring, mencintai adalah memiliki apa yang ingin ia miliki. Sementara yang terlihat adalah kehendak dan keangkuhan didalam dirinya.
  
__________

*pekerja dan peneliti seni pertunjukan

Related

Teater 7797142482988319780

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item