THE LOVER DAN NARASI YANG MENGHIMPIT AKTOR

Oleh: John Heryanto*

Poster The Lover, Foto: John Heryanto
Ada sepasang tangan yang bermain piano di dinding rumah berwarna putih dengan kotak-kotak kayu berwarna hitam serupa layar. Seseorang yang sedang main piano tersebut hanyalah sebuah gambar dari infokus yang ditembakan, bunyi piano itu berjalan perlahan menghampiri penonton bersama nyala lampu yang merayap di panggung. Suara itu mengingatkan penonton pada gerimis yang menimpa tubuhnya di luar gedung sebelum pertunjukan berlangsung, malam minggu dengan hujan yang tipis.

Ketika lampu benar-benar menyala di panggung. Terlihat seorang perempuan berkacamata dengan baju tidur, rambut yang diikat dengan segelas wine di tangan,  duduk di sopa berwarna merah. Selang beberapa detik kemudian, seorang laki-laki berkacamata dengan baju kantoran menjinjing koper dari tangga ruang kamar yang lantas duduk di samping perempuan tersebut. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menghabiskan hidup bersama selama sepuluh tahun.

Pagi itu, Richard (Patuh) bercengkarama bersama Sarah (Sari) di sopa, sambil memeriksa beberapa map kerjanya lalu pergi ke kantor dan pulang petang. Ketika suami duduk di balik meja kerja maka istri di rumah akan menghabiskan waktu dengan kekasihnya dan sebaliknya ketika suami selesai kerja pada siang hari maka sisa waktunya dihabiskan  bersama pelacur sampai petang. Bila malam tiba, sepasang suami istri ini akan bercerita tentang waktu yang dilewati keduanya.

Tentunya masalah seks disini tidak hanya sekedar prilaku semata (seks dengan pelacur, seks dengan kekasih, dan seks dengan pasangan) melainkan telah menjadi bagian dari  produksi dimana strategi kekuasaan melekat pada kehendak untuk mengetahui disetiap tokoh. Sehingga bahasa menjadi alat untuk mengartikulasikan kekuasaan dengan mengambil bentuknya lewat pernyataan-pernyataan sang tokoh. Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga peristiwa; pertama, sebelum pasangan suami istri bertemu dengan kekasihnya masing-masing di panggung, kedua, saat mereka bertemu; Sarah betemu dengan kekasihnya yaitu Max (Richard), dan Richard bertemu dengan pelacurnya (Sarah) dan ketiga, ketika Ricard dan Sarah bertemu sehabis melakukan seks dengan kekasihnya masing-masing. Dari ketiga peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana relasi kekuasaan meresap sampai pada pembentukan individu-idividu dimana nikmat lebih menjadi perwujudan dari kapitalalisme hari ini atau surplus jouissance.

Ihwal susunan visual yang tampak di panggung, benda-benda dalam posisi simetris. Di samping kiri dekat ruang keluar ruangan ada sebuah sopa, meja kaca dan lampu dinding , di kanannya sebuah meja bulat, sederetan botol-botol minuman di atasnya dan kursi bar di belakang dekat tangga kamar. Sebuah pintu besar dengan tirai berwarna emas. Dalam penempatan benda-benda yang dihadirkan sebagai set, properti maupun kostum nampak harmonis, akan tetapi dalam pencahayaan panggung banyak tergelincir sehingga sebagian adegan nampak gelap dan kegelapan ini berdampak pada ketidak terlihatannya mimik aktor. Namun secara keseluruhan artistik yang dihadirkan di atas panggung telah membawa penonton pada keterlibatan ruang yang dihadirkan.

Di sela-sela pergantian adegan, gambar dari infokus akan muncul di dinding, semacam jarum yang menjahit lembar - lembar kain. Meski sebagian terasa sekadar mengisi waktu ketika aktor ganti kostum, Namun pada gambar mata yang dihadirkan berkali-kali dan bibir seolah menegaskan apa yang berlangsung di panggung. Mata serupa pintu bagi sang tokoh memandang dunia, sedangkan bibir menjadi jendela untuk menyatakan keberadaan dirinya lewat bahasa. Mata dan bibir ini menjadi jalan (sign) situasi dan kenyataan hidup sang tokoh serupa kacamata yang dikenakannya.

Kaca mata yang hanya digunakan oleh Sarah maupun Richard ketika mereka bersama dan akan dilepas apabila  Sarah bertemu kekasihnya (Max), begitupun sebaliknya ketika Ricard menjadi Max saat menemuni pelacurnya. Para kekasih meraka lahir dari pikiran masing-masing tokoh atas ketidak mampuannya dalam menghadapi kenyataan dimana seks yang dilakukan suami istri sering tak memuaskan seperti pula kerja kantoran. Akan tetapi setelah menemukan kekasih dan menjalaninya pada akhirnya juga membosankan lantas kembali lagi pada pasangan dan mengenal lagi seks seperti semula. Kiranya begitulah manusia ia akan senantiasa tumbuh dan hidup dalam siklus hasrat kehilangan. Kenyataan ini menunjukan bahwa manusia tak lebih dari pada ruang yang kosong, menemukan, merasa puas lalu kecewa dan kemudian mencari lagi jouissance.

Bagi kebelangsungan sebuah teater di panggung tentunya pemeranan sang aktor serupa buku bagaimana peristiwa dapat dibaca oleh penonton. Akan tetapi panggung nyatanya memperlihatkan laku aktor yang bertumpu pada serangkaian aksi, laku yang hanya mengalir semata tanpa arah, serupa daun jatuh yang dihempaskan angin. Ia terombang-ambing antara tubuhnya dan narasi pertunjukan. 

Nampaknya narasi yang diusung dalam pertunjukan telah menghimpit sang aktor. Laku tokoh di pangung pada akhirnya hanya sebatas permukaan semata, serupa sampul dalam buku sehingga penonton tak dapat membaca lembaran-lembaran peristiwa dalam tubuh dan jiwa si tokoh. Ia hanyalah serangkan ilustrasi sampul, serupa boneka, seperti pula yang ditulis dalam poster pertunjukan “aku terjebak!!..” dan nyatanya aktor memang terjebak dalam situasi yang tidak dikenali sehingga si tokoh menjadi mahluk asing dalam tubuh aktor. Barangkali teater adalah sebuah omong kosong seperti pula yang dikatakan oleh Sari dalam booklet pertunjukan “tak ada satu pun sosok ‘Sarah’ dalam lingkungan keseharian...” bila memang demikian teater  nyatanya tidak pernah mewakili siapapun, sesuatu yang asing yang akhirnya teater adalah tempat dimana manusia dikuburkan. Jika memang demikian masih perlukah teater itu ada? Atau barang kali teater sudah saatnya untuk dilenyapkan.

The Lover karya Harold Pinter (1930-2008) yang ditulisnya pada tahun 1962 paska perang dunia ke dua. Seperti pada naskah drama Pinter lainnya yang banyak menyoal keberadaan manusia sebagaimana yang dituturkan oleh Martin Esslin mengenai drama-drama absurd lainnya pada dasarnya mengungkapkan situasi kejiwaan paling akhir dari manusia (khusunya di barat waktu itu) dimana mereka mengalami kemajuan yang  berarti dalam kebudayaan.

Terlepas dari itu semua, secara keseluruhan peristiwa yang disusun di panggung sangat lembut dan halus seperti pula tatapan mata penonton yang bertemu di panggung begitu akrab. Hal ini tentunya tak dapat dilepaskan dari kepiawaian sutradara Rahman Sabur dalam merajut pertunjukan.

Pertunjukan “The Lover” (7/10) di Sunan Ambu ini merupakan pertunjukan terakhir dari rangkaian ujian Tugas Akhir gelombang 2 dengan minat pemeran. Hari sebelumnya ada pertunjukan “Senja dengan dua kematian” minat pemeranan, minat penyutradaraan: “Kapai-kapai” dan “Pakaian dan Kepalsuan” yang disatukan dengan minat artistik serta sidang penulisan lakon dan penelitian teater.

Namun yang disayangkan dari penyelengaraan ujian tersebut khusunya untuk minat penelitian maupun penulisan lakon, semestinya sidang diadakan secara terbuka. Dengan adanya sidang terbuka tersebut setidaknya dapat mengurangi kelangkaan naskah drama dan kritikus teater akhir-akhir ini.
________________
*performance artis dan peneliti seni


Related

Teater 5564530537314763660

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item