Headlines News :
Home » » ZIARAH: SENI RUPA DAN TEKS BAYANGAN

ZIARAH: SENI RUPA DAN TEKS BAYANGAN

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 15 November 2015 | 08.56.00

Oleh: John Heryanto*

Pameran 'Ziarah'. Foto: John Heryanto

Setelah turun dari bus kota, satu demi satu kaki berjalan di atas bayangannya sendiri, siang itu adalah keringat yang basah di baju. Kaki yang berjalan Memasuki sebuah galeri dan mata yang mengelinding perlahan dari lukisan ke lukisan. Kepala serupa kalimat yang menyusuri kata-katanya sendiri.

Pameran Ziarah (karya koleksi Galeri Nasional Indonesia) yang berlangung di Galeri R.J Katamsi, ISI Yogyakarta (10-17 Nov) ini semacam ingatan dari kaki yang terus berjalan tanpa berkesudahan. Menatap lukisan tentunya tidak hanya mengingat, menelusuri, mencermati, membaca dan memahami apa yang terlihat di depan mata, namun sebuah lukisan tentunya menyatakan kehadiranya secara langusung dari apa yang nampak di kanvas secara utuh beserta apa yang tersimpan di dalamya.

Ada 40 koleksi Galeri Naional Indonesia yang ditampilkan dalam pameran ini yaitu Abas Alibasyah, AD. Piraus, Affandi Koesoema, Agus Kamal, Ahmad Sadili, Aming Prayitno, Bagong Kusudiardja, Edourd Pignon, Fadjar Sidik, Gerard E. Schneider, Han (Jean) Arp, Hans Hartung, Harijadi Sumadijaja, Hendra Gunawan, I Nyoman Gunarsa, Jean Carzau, Kartono Yudhokusumo, Koesnandi, Leon Gischia, M. Agus Burhan, Moctar Apin, Nashar, Nasjah Djamin, Otto Djaja, Popo Iskandar, R. Basoeki Abdullah, S. Soedjojono, Setiawan Sabana, Sonia Delauney, Srihadi Soedarsono, Suatmadji, Sudarisman, Soedarso, Sun Ardi, Sunarto PR, Sotjipto Adi, Suwadji, Wassily Kandinsky, Widayat, dan Y. Eka Suprihadi.

Pameran koleksi Galeri Nasional ini merupakan yang ke empat belas kalinya sejak pertama kali diadakan tahun 2006 di Medan yang lantas berlanjut ke kota-kota lainnya. Kali ini pameran sengaja digelar di lingkungan kampus sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa mengenai pencarian dan proses kesenian dari para pendahulunya sebagaimana yang dikatakan  oleh Andre selaku kepala Galeri Nasional “Pameran ini dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah yang menunjukan adanya relevansi dan wujud kesejajaran konvensi dalam seni rupa modern dan menunjukan adanya kontribusi dan korelasi penting kedua lembaga terutama sebagian tokoh-tokoh ini memiliki ikatan sejarah dengan Yogyakarta”.

Dari pameran ini pengunjung akan menemukan bagaimana tubuhnya perlahan menelusuri pengalaman mata, mata terus melata pada setiap goresan kuas di atas kanvas, diam-diam membicarakan dirinya. Dari kanvas itulah mula-mula ingatan muncul mengenai proses kreatif senimannya mulai dari awal ketertarikan terhadap seni lukis dan bagimana seorang seniman tersebut mengolah apa yang ada disekitanya, sehingga dapat mengungkap apa yang tak terapakan sebelumnya, dari sini pula pengunjung akan mendaptkan arahnya untuk membaca sejarah seni rupa yang begulir di masa lalu berdasarkan kompleksitas yang dibawanya sampai pada apa yang dirasakan hari ini. Hal ini pada akhirnya menjadi semacam cermin bagi si penatap  khususnya mahasiswa seni mengenai jalan yang harus diambil dikemudian hari ketika dirinya memilih sebagai  seniman yang senantiasa menyadari setiap langkah yang diambil, sebagaimana yang dikatakan Soedjoyono “kami tahu kemana seni lukis indonesia akan kami bawa” .

Selain Pemeran juga diselenggarakan seminar nasional “Karya seni Koleksi Negara: Narasi dan Reputasi” yang berlangsug di Galeri Aliyasa, FSR ISI Yogyakarta (10 Nov) dari pukul 09.00-12.00WIB dengan pembicara Tubagus ‘Andre’ Sukmana (Kepala Galeri Nasional Indonesia), Suwarno Wisetromo (Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta) dan Lono Simatupang (Kaprodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Pascasarjana UGM) dengan modertor I Gede Arya Sucitra (Dosen Seni Rupa dan Kepala Galeri R.J.Katamsi ISI Yogyakarta).

Keberalangusang sejarah seni pada akhirnya tak dapat dilepaskan dari pemeliharanya (kebijakan Negara) sebagai bagian dari tumbuh dan kembangnya kebudayaan masyarakatnya sejak era Soekarno sampai Jokowi. Sehingga seni rupa tidak kehilangan sejarahnya sendiri akibat rusaknya lukisan yang berusia puluhan tahun, dengan demikian generasi penerusnya tidak kebingungan menacari asal-usul.
__________
*Performance Artis 
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger