Headlines News :
Home » » INDONESIA DALAM NARASI TUYUL

INDONESIA DALAM NARASI TUYUL

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 01 Desember 2015 | 00.58.00

Oleh: Mohamad Chandra Irfan*

Sabtu malam (21/11) – Komunitas Celah Celah Langit (CCL) seusai diguyur hujan, pohonan masih menyisakan air hujan, lantai agak licin, penonton sudah duduk di bangku yang sudah disediakan, sebagian lagi ada yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, kemudian di panggung genderang tabuhan percusi terus mengiringi ketiadaan air hujan, mereka, para punggawa Komunitas CCL menyanyi dengan asyik dan energik, lagu Petani dan Angin dalam Cemara dinyanyikan begitu apik dan merdu oleh Fuad Ujo dan seorang perempuan yang entah siapa namanya, karena tidak sempat berkenalan dengannya. Acara dipandu oleh seorang aktor dan penyair Peri Sandi Huizche, penonton tidak dibawa dalam suasana yang normatif yang dikondisikan laiknya menonton di gedung-gedung pertunjukan, tapi penonton dialirkan begitu saja, tidak ada batas antara penonton dan yang ditonton.

Ternyata seluruh repertoar tersebut bukanlah pertunjukan inti pada malam itu. Pertunjukan intinya adalah pertunjukan ‘Tuyul, Anaku’ karya WS. Rendra. Tuyul, Anaku menceritakan seorang anak lelaki bernama Amin yang harus menjadi tuyul karena ingin membahagiakan keluarganya yang kerap mendapatkan kesulitan ekonomi. Iman Soleh selaku sutradara pertunjukan tersebut, menghadirkan adegan awal dengan masuknya para aktor dengan ragam kostum, mereka kemudian bernyanyi ‘selamat pagi’, kemudian tokoh Emak, mulai memperkenalkan anak-anaknya, ada yang bernama Rohayati yang berarti roh kehidupan, kemudian Amin yang berarti namanya selalu disertakan ketika manusia berdoa. Mereka tumbuh menjadi keluarga yang menantikan datangnya keberuntungan. Mereka berharap bahwa hanya dengan hidup kaya segalanya akan sangat mengagumkan.


Menciptakan Cermin dari Tubuh Anak-anak

Anak-anak menjadi ‘rumah’ yang bebas ketika semua keterkekangan ada di dalam diri orang-orang dewasa. Gerak dan gertak anak-anak menjadi sangat nature ketika ia berdialog, menari, dan menyanyi. Anak-anak adalah perigi yang tidak pernah kehilangan air, ia terus menerus bermunculan dari berbagai mata air, mengalir ke seluruh muara. Barangkali, keadaan anak-anak menjadi ruang pertanyaan bagi orang dewasa, di mana keserba-tidak-mungkinan selalu hadir dan lahir dari tubuh anak-anak. Anak-anak menjadi cermin yang memantulkan bayang-bayang di tubuh orang dewasa. 

Secara tematik pertunjukan Tuyul, Anaku—yang dimainkan oleh anak-anak SMKN 10 Bandung, berupaya menyodorkan kemelut manusia-manusia terpinggirkan, berangan-angan meraup kekayaan. Harta menjadi pusat dominasi dari segala gerak dan gerik manusia. Tuyul adalah alat lain untuk memberi dan menerima segala kemungkinan yang tidak mungkin sehingga menjadi mungkin. Mendapat keuntungan tanpa berusaha dan kerja keras menjadi cermin orang-orang yang memegang kekuasaan, para pejabat, misalnya. Kalkulasi dana kampanye yang dikeluarkan oleh anggota legislatif telah banyak keluar, sehingga ketika kekuasaan itu didapatkan, maka untuk mengembalikan kembali dana yang telah keluar selama kampanye tersebut dalam waktu yang singkat, tidak ada jalan lain selain daripada korupsi.


Tuyul adalah citra lain dari manusia saat ini, di mana manusia membutuhkan hal-hal yang sifatnya instan, tanpa perlu tahu dan ingin tahu cucuran keringat. Tuyul  pun menjadi representasi manusia saat ini, di mana sifat mengahambakan sesuatu tidak dinilai dari jalan panjang yang berkerikil dan penuh tantangan, melainkan jalan pintas sebagai bagian dari pemuasan hasrat untuk memiliki segal hal dengan tidak memperhitungkan efek yang terjadi setelahnya. Tuyul adalah juga manusia saat ini, manusia yang menginginkan keinginan-keinginan namun keinginan tersebut selalu dipatahkan dengan nilai-nilai kemapanan, sehingga yang terjadi bukan penyejahteraan namun pengikisan sedikit demi sedikit.

Usia Aktor dan Beban Teks Tuyul

Bukan cerita yang baru jika seorang Rendra melahirkan karya yang selalu konfrontasi dengan pihak di luar dirinya. Rendra menjadi corong suara untuk menyatakan  kebenaran dan ketidakadilan. Rendra menjadi tubuh lain dari kaum-kaum yang terpinggirkan. Akan tetapi, siapa sangka jika Rendra pun menuliskan karya dramanya yang secara khusus diperuntukkan untuk anak-anak.




Iman Soleh sebagai sutradara pertunjukan Tuyul, Anaku menawarkan bentuk pertunjukan yang dekat dengan masyarakat setempat. Iman Soleh mencoba membawa sentilan-sentilan ringan namun menggelitik. Para aktor bermain penuh dengan keluwesan, secara teknik sudah cukup untuk tingkatan remaja. Para aktor tidak membawa beban yang berlebihan ketika bermain di atas panggung. Aktor cukup konsisten mewartakan teks Tuyul, Anaku tersebut.

Beban teks Tuyul sebetulnya lebih mudah ditangkap oleh orang-orang dewasa ketimbang oleh anak-anak seusianya. Kompleksitas teks dengan tema yang gigantik—adalah warna lain dari tubuh aktor (remaja), tiba-tiba harus meloncat menjadi orang dewasa dalam satu peristiwa. Namun bagaimana pun hal itu bukan barang sulit bagi aktor yang mempunyai kerja proses sungguh-sungguh. Di sini komunikasi anatara penggarap dan yang digarap, cukup tertata dengan apik, dan yang terpenting menyisakan segudang gelitik.

Akhirnya teater tidak akan pernah menemukan. Karena teater terus mencari dan berjalan!


*Reporter Pers Daunjati . Menulis (puisi dan esai), menjadi aktor teater, dan meneliti seni.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger