MENYABLON SEJARAH DI RUANG SEKTE

Oleh: Mohamad Chandra Irfan*

Workshop Sablon yang digelar pada acara Visual Attack 2015
(Foto: Ratu Kecoa Terbang)
Daunjati, Bandung – Senin Siang (07/11) – Mereka mengemas dirinya masing-masing; mengapit rokok, memegang gelas kopi, atau bahkan sekadar senda-gurau untuk menyusun suasana hangat yang lebih tertata. Siapa sangka di ruangan yang terletak di pojok, terjepit antara tangga menuju kelas Fakultas Seni Rupa ISBI Bandung dan UPT Kostum, di sana berdiam komunitas Sekte Sablon.

Di sanalah, di ruang yang tidak cukup besar, tidak juga cukup kecil tersebut, dengan langit-langit yang sudah pada bolong, jadi jika ada hujan pasti akan kena genangan air, diadakan Workshop Sablon. Workshop Sablon adalah salah satu kegiatan dari Visual Attack yang diadakan oleh 3 HMJ di Fakultas Seni Rupa, ISBI Bandung. Workshop Sablon menjadi jembatan untuk membuka-lebarkan ke-abai-an orang-orang dalam memandang sablon.

Pertama sekali adalah berawal dari kegelisahan melihat perkembangan di dunia Seni Rupa secara umum, bukan cuman di akademis doang. Karena sekarang geliat-geliat seni grafis yang menggunakan teknik sablon, udah jarang digunakan. Kemudian yang paling penting adalah mengetahui sejarah sablon itu sendiri, tidak hanya main sablon-sablon aja”, ungkap Pery, sebagai pemateri Workshop Sablon di acara Visual Attack kepada Daunjati.

Sejarah Sablon dan Kanalnya

Pada sesi pertama di Workshop Sablon ini, Pery sebagai pemateri mengawali pembicaraannya dengan memaparkan sablon dari sudut pandang sejarah. Berbicara ihwal sejarah, maka akan berbicara pula perkembangan dan pengembangan dari sejarah itu sendiri. Sejarah hanya akan menjadi wacana momen, tidak menjadi wacana monumen, seandaninya hanya ditelusuri sebagai sekelumit rentang waktu akan terjadinya ‘sesuatu’, pun hanya akan menjadi teks tutur yang kemudian akan menumpuk di sudut-sudut perpustakaan.

Menyoal sejarah sablon itu sendiri banyak versi yang mengungkapkannya, lain daripada itu adalah bagaimana penggiat sablon bersikap di hadapan sejarah yang masih tumpang-tindih dan perlu diulang-alik itu. Memaparkan sejarah bisa menjadi sangat penting apabila implementasi dari sejarah itu mempunyai posisi tawar di hadapan epistemiknya. Sejarah sablon adalah sejarah kekaisaran yang kemudian dipesat-kembangkan oleh orang-orang Eropa dan Amerika, sehingga menemukan satu cara (teknik) tersendiri dalam mendayagunakan sablon. Di era yang serba virtual dan saling berdesak-desakan nilai-produksi, sablon yang memakai teknik campur saring atau layar sutra, mampukah berbicara dengan intonasi yang tepat dan tidak salah sasaran? Ini untuk menguji sejauh mana sejarah sablon mampu menciptakan hegemoni-tandingan dalam menghadapi gencatan kapitalisme.

Membicarakan sejarah sablon adalah hal yang penting, tapi ada yang lebih genting daripada itu, adalah bagaimana sablon dari sejarahnya yang nyaris tidak berdampak apa-apa bagi pengusaha-pengusaha kecil, harus menjadi ‘istana kecil’ berbenteng gunung dan berdaya-ledak teng baja. Karena bagaimanapun pengusaha-pengusaha kecil adalah pilar perlawanan yang nyaris tidak tersentuh untuk melawan kuasa kapitalis dan kuasa kepemilikan. Akhir-akhir ini pengusaha kecil banyak angkat karung dan gulung tikar akibat ketidakberdayaannya melawan industri pasar yang semakin membabi-buta mengeluarkan produk-produknya.

Sablon adalah bagian dari seni, dan seni adalah bagian dari ilmu, maka ilmu tidak bisa hanya diduduk-nyamankan sebagai objek yang kesasar di hutan tak berujung. Justru sejarah sablon harus pula menyentuh ruang-ruang sosial, guna menemukan titik-pijak yang lebih kokoh. Kita semua berharap, semoga sablon tidak hanya menjadi identitas yang bias di tengah arus pasar yang tak kenal ampun.

Seturut dengan itu, Isa salah seorang peserta Workshop Sablon memandang bahwa Workshop Sablon ini seyogyanya tidak hanya berbicara dari hal praktikalnya, tapi juga ke arah yang lebih konseptual beserta bagaimana imbasnya terhadap tatanan sosial maupun budaya, “cukup memuaskan, namun kurang detail aja. Intervest-nya terlihat kaku dan terlihat kurang mendalam mengupas tentang sablon, karena cuma sejarah. Saya sih berharap, ‘kan kita ini di sekolah seni—jadi efek dari sablon itu, terutama ke arah sosial dan budayanya, itu seperti apa dan juga contoh-contoh pengaplikasiannya di masyarakat itu seperti apa? Saya juga sih berharap sablon ini menjadi karya seni yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Dipresentasikan pula pameran-pameran terkait sablon. Tidak hanya dinikmati di kaos-kaos, di kertas, maupun di tembok”, ucap pria kelahiran Yogyakarta, lulusan Adeverticing dan Periklanan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang sekarang berdomisili di Lembang sebagai wiraswasta di bidang konveksi.

Sekte Sablon: Tidak Menunggu Dosen Lulusan Grafis Membagi Ilmunya

Pada sesi kedua, Pery mencoba merapah ke hal yang lebih teknis. Mulai dari apa saja yang perlu disiapkan ketika menyablon, bagaiamana menghasilkan sablon yang mempunyai kualitas tidak rendahan, dan bagaiamana eksekusi menyablon yang ‘sesuai’ (katakanlah memenuhi standar). Para peserta yang terdiri dari 5 orang—3 orang dari luar kampus ISBI Bandung dan 2 orang dari kampus ISBI Bandung—mereka mendapatkan fasilitas t-shirt polos hitam dan putih untuk dijadikan bahan workshop. Selanjutnya Pery memersilahkan para peserta untuk memilih gambar yang tersedia di ruangan untuk dijadikan bahan sablon atau mau menggambar sendiri.  Peserta dibuat longgar, mereka bebas bergerak ke mana suka untuk melihat-lihat hasil sablon dari Sekte Sablon. Antusias mereka akan keingin-bisaan menyablon cukup tinggi. Terlihat dari keseriusan mereka dalam menyodorkan gambar yang dibuat sendiri dan gambar yang mereka pilih dari yang tersedia.

Pery Anwar, pemateri Workshop Sablon Visual Attack 2015
(Foto: Ratu Kecoa Kelabang)
Ini tidaklah heran, sebab Sekte Sablon merupakan komunitas yang digawangi oleh mahasiswa Seni Rupa ISBI Bandung, di antaranya; Pery Anwar, Rony Abdul Salam yang akrab dipanggil John, Rizky Cino, dan Adi, mereka adalah orang yang berkonsentrasi dengan kelompoknya di wilayah seni grafis, lebih khususnya di wilayah sablon. Sekte Sablon memfokuskan dirinya sebagai komunitas yang aktif berkesenian di wilayah grafis, terutama sablon. Selain daripada itu—ternyata keahlian menyablon adalah jalan lain mereka untuk usaha, guna menghasilkan provit.

Berangkat dari spirit bersama dan juga visi yang beriringan dengan kehendak mereka terhadap dunia Seni Rupa—Sekte Sablon mencoba bersuara dengan nada rendah-menyusup dan dibarengi nafas yang panjang, akhirnya tanpa harus menunggu dosen yang punya ilmu grafis di kampus turun gunung dan menunggu kurikulum seni grafis ada di ruang kelas—Sekte Sablon menjadi semacam ruang alternatif untuk menyuarakan kreativitas menyablon. Ini membuktikan bahwa ketidakadaan kurikulum bukan alasan seorang kreator untuk tidak berkarya sesuai dengan bidang yang diminatinya.

Di tahun 2015 ini, Sekte Sablon sudah menggelar pameran bersama grup band Slaras Rockabilly yang digelar di Way Out, Jalan Buah Batu. Sekte Sablon menginterpretasi seluruh lagu-lagu Slaras Rockabilly ke dalam bentuk sablon di atas kertas. Sekte Sablon adalah ruang baru untuk memertemukan kembali ruang artikulasi. Sesuai dengan diksi awalnya “sekte”, semoga bisa menjadi sekte yang bisa mengimani nalar dan kondisi di lingkungannya sendiri! [Wallahua'lam Bissawab]


*Reporter Pers Daunjati. Menulis (puisi dan esai), menjadi aktor teater, dan meneliti seni.

Related

Seni Rupa 8285524968544011954

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item