Headlines News :
Home » » TEATER SEBAGAI TEKS BERSUSPENSI*

TEATER SEBAGAI TEKS BERSUSPENSI*

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 20 Desember 2015 | 04.56.00

Oleh: Benny Yohanes**



Kita tengah berada dalam zona pengetahuan yang borderless. Batas itu tak lagi tegas, maya. Kita tak lagi menemukan sebuah pagi yang elok dan halus; sebuah dunia personal yang kita dekati dengan hati bersijingkat. Dunia sudah melahap kehadiran persona, dan menyajikan kembali persona-persona itu dalam identitasnya yang mejemuk. Manusia kini adalah manusia yang menanggung konglomerasi identitas.

            Manusia kini meninggalkan ketunggalan identitasnya sebab itulah cara yang kompetitif untuk merespon zona pengetahuan yang borderless itu. Lagi pula, ketunggalan hanyalah  sebuah fiksi identitas.

Solo Performance Arkeologi BeHa, teks: BenJon -John Heryanto . Foto: Anggiat Tornado
            Nilai kehadiran telah berubah secara substansial. Sebelumnya, ketika pikiran masih dirawat oleh pengalaman domestik yang terbatas, kehadiran tampak memiliki fokus. Kini keinginan untuk mempertahankan domestifikasi pengalaman hanya memperlihatkan sisi defensif kehadiran kita. Untuk menjadi lengkap, atau untuk memperoleh rasa kehadiran yang, fokus domestik menjadi gugur, gugur sebagai bingkai referensial bagi ingatan.

            Pengetahuan, pengalaman, ingatan dan imajinasi, kini telah menjadi teks. Teks itu adalah medan interaksi, laut kesadaran yang terus berkecambah. Teks itu tumbuh dan terbuka, meniadakan fokus tunggal, menciptakan labirin ingatan yang kenyal.

            Ingatan telah menjadi jaringan . Jaringan itulah yang mengembalikan semua bentuk material empirik yang bergelombang bersama itu, menjadi firdaus tanda-tanda. Dalam firdaus tanda-tanda, kategori waktu mnjadi labil. Masa lalu, kini dan yang akan menjadi depan, hadir serentak tanpa distansi.

Sejarah ruang, sejarah waktu, sejarah ingatan dan sejarah kehadiran menjadi epistimologi kesadaran yang berada secara simultan. Dalam wadah epistemik yang borderless itu, untuk membuka akses majemuk bagi kreativitas semiotisasi.

            Menciptakan kisah adalah proses membaur ingatan. Jika ingatan adalah jaringan, maka teks adalah jejak kesadaran yang tidak memperlihatkan asal usulnya. Dimanakah asal usul dari semesta yang borderless?! Elemen-elemen teks yang kita pungut untuk menjahit kisah, adalah teks yang tengah melacak asal-usulnya sendiri. Melacak bukan untuk menjemput awal, yang asli atau yang murni. Melacak adalah tindakan permainan epistemik, sebuah epistemological games.

Permainan epistemik adalah keluasan untuk menanggalkan konteks referensial tunggal dari sebuah peristiwa, atau mencoret batas dari sebuah pengertian yang sudah mengalami fiksasi. Logika kreatif itu bersipat inventif, tapi tidak definitif.

Epitemological game adalah isyarat untuk senja kala ketentuan. Yang tentu, yang pasti, yang solid, adalah bentuk isolatif dari ingatan Cartesian. Kisah adalah upaya desolasi terhadap semua bentuk Cartesianisasi kesadaran.

Ingatan sebagai jaringan adalah hantu tanpa jejak kaki, sosok spectre, yang dengan kekuatan fleksibilitas dan multi-facesnya, bisa merakit kembali berbagai elemen teks dari berbagai zona waktu, ruang dan tanda. Perakitan lintas waktu, ruang dan tanda, membuat kisah yang dihadirkan menjadi sebuah temptation; sebuah teks yang memproduksi godaan semantik, karena telah membocorkan kepastian epistemiknya. Inilah yang saya sebut sebagai teks yang bersuspensi.

Suspensi adalah keadaan mengambang. Kisah suspensi adalah struktur multi-narasi tanpa pondasi tunggal. Struktur yang dipakai tidak melarut pada linearitas aliran nalar. Suspensi adalah keadaan menyetop laju diskursivitas teks, membuat teks melambat dari pertemuan yang juga berarti jebakan dengan wilayah fiksasi pikiran.

Melambatkan teks dari jebakan pintu fiksasi berarti upaya menanggalkan fungsi dan makna singular tanda-tanda. Tokoh, peristiwa dan kalimat, yang ditenun dalam pertemuan bisa mengadopsi multi realitas dari narasi, suspensi makna, sekaligus suspensi resepsi. Suspensi berarti menemukan keambangan logika inventif, dengan cara melakukan defiksasi terhadap pondasi narasi yang bersipat kausal dan realistik.

Maka, dalam teks yang bersuspensi, logika inventif itu akan memperlihatkan bahwa tak ada cangkang permanen yang membungkus satu peristiwa. Peristiwa suspensi adalah zona tanpa limitasi cangkang. Tokoh-tokoh dalam peristiwa suspensi sedang memperbaharui makna cangkang atau bungkus historis yang menjeratnya, dengan cara melepaskan ikatan fiksasinya pada stu konteks. Teks bersuspensi melakukan semacam deontologisasi terhadap keberadaan historis dari sebuah peristiwa.

Teater sebagai teks bersuspensi, tidak mengurusi perbedaan kategoris antara peristiwa historis dengan peristiwa non historis. Semua kategori peristiwa telah membaur menjadi kaki-kaki teks itu, tanpa biografi tunggal. Kaki-kaki teks itu, yang hadir secara simultan dengan struktur ingatan jaringan, dalah jejak-jejak epistemik, yang bisa dipetemukan dalam sebuah epistemological games.

Teks drama, yang dibangun oleh ‘estetika suspensi’ mampu menghadirkan peristiwa-peristiwa enigmatic : meyelomot fiksasi pikiran lewat kemuskilan, teka-teki dan makna tersembunyi, agar muatan reflektif yag dibangun oleh teks semacam itu tetap dalam kondisi mengembang. Teks drama, yang melibatkan ‘estetika-suspensi’ sifatnya lebih passional, dari pada eksplantif. Teks passional itu berfungsi sebagai provokasi terhadap epistemological Cartesaian.

Maka, dalam teater yang bersuspensi, Dayang Sumbi yang possesive (reverse sifat Sangkuriang) adalah ibunda HAMLET (dekat Hamlet, bukan Hamlet); Jendral Himmler (yang Histeris) adalah ayah-gelap Walt Disney (yang Kapitalis), dan Soekarno, Hamlet dari timur, muncul sebagai sipir yang mengintrogasi sekaligus jatuh hati pada Kartini, siluet Ophelia. Sedang Kartini sendiri adalah seorang tahanan kelas berat penjara Rembang, karena melakukan mutilasi etik terhadap otoritas hegemonik suaminya, Bupati poligami itu. Sementara Shakespeare (yang menolak heroisasi ) dihadirkan sebagai pecandu bola dan ahli tato.

Peristiwa suspensi bergulir tanpa tahun dan tanggal. Tak ada distansi dan isolasi antara kisah lama dengan kisah baru. Teks teater yang bersuspensi mengambil segmen-segmen dari peristiwa dan tokoh yang telah mengalami fiksasi; fiksasi historis, nilai dan identitas, untuk kemudian dikembangkan menjadi multi-narasi yang menolak linearitas logika. Semua kisah adalah kisah menuju peralihan, menuju suspensi historis dan epistemik.
Siapakah yang sedang terbahak melihat narasi bersuspensi, seperti di atas? Yang sedang berbahak, namun gelisah, adalah pengawal diskursif kesadaran. Pengawal diskursif kesadaran adalah ciri kebuntuan Cartesian, yang menganggap keseriusan kesadaran hanya mungkin terjadi dalam sebuah fikasasi kebenaran yang definitif dan aksiomatis.

Teks bersuspensi bisa menunjukan, bahwa dibalik punggung diskursif Descartes yang ajeg itu, ada gua besar, gelap, growong, tak bernama, yang sengaja diurug. Di sanalah tempat gelap dimana para spectre disekap. Logika aksiomatis Cartesian tak bisa mentolelir epistemologi kaum spectre, karena bisa membikin kepastian tidak bisa dijual selaris iklan. Dilihat dari perspektif teks bersuspensi, seluruh manifestasi kesadaran Cartesian adalah sang Maha-Iklan, sebab selalu berpretensi menampakan identitas sebagai entitas yang solid dan distingtif, alias sebagai kecap nomor satu.

Teks bersuspensi mengiyakan diri pada problem identitas. Manusia adalah hutan, lebat dengan timbunan kemungkinan. Yang tetap melekat dalam diri manusia adalah daya tahannya untuk menjadi carnivora. Sebagai mahluk pemburu dan pemangsa, manusia menghibur diri dengan hanya memperlihatkan wajah-wajah idealisasi. Di sanalah  kita menemukan sosok pahlawan, sifat-sifat luruh dan pikiran yang bijak. Idealisasi dan heroisasi identitas, dalah contoh tipikal dari teks yang defensif.

Teater sebagai teks yang bersuspensi, tidak menghibur diri lewat idealisasi. Pahlawan mustahil ditemukan, juga mustahil dilahirkan. Teks seperti ingatan-jaringan, adalah wilayah kontaminasi. Isolasi dan purifikasi tak bisa dilakukan karena manusia tak bisa lagi hidup dengan domestifikasi pengetahuan. Sebagai carnivora, manusia justru bisa menjadi survivor karena dihadapkan pada berbagai kompetisi yang kontaminatif. Manusia tak berhak diseleksi menjadi nabi, karena justru lewat kompetisi yang kontaminatif itulah manusia memperoleh kompleksitasnya.

Teks bersuspensi adalah teks untuk melahirkan kompleksitas. Panggung teater, dimana teks bersuspensi memperlihatkan kelahiran aktualnya, adalah pusat energi yang mampu melakukan kompresi artistik bagi terjelmanya kehadiran kompleksitas teks itu. Tugas panggung teater bukanlah memilih artikulasi yang paling ideal untuk realisasi teks bersuspensi. Panggung teater juga harus menerapkan prinsip aesthetic borderless, dalam pencarian kontruksi visual pemanggungan. Panggung teater adalah medan melakukan radikalisasi suspensi terhadap apa yang sudah terkodekan dalam teks dramataik itu juga merupakan perwujudan dari suatu kerja suspensi.

Panggung teater sebagai panggung suspensi adalah jaringan dramatik bagi berlangsungnya defiksasi logika dan makna. Di sana, manusia adalah ketidakhadiran identitas, atau identitas yang terus menerus membatalkan idealisasi. Idealisasi menjadi batal karena epistemological games adalah kesuntukan permainan tanpa akhir definitif. Lalu apa yang bisa diperoleh penonton, jika panggung suspensi tak menyediakan kata akhir, sedang setiap lakon toh mesti ada akhirnya?!

Dalam realitas panggung bersuspensi, penonton harus mengambil peran sebagai pelaku. Penonton harus menghidupkan urgensi untuk mengalami situasi epistemological borderless. Penonton harus terus membatalkan fungsi reseptifnya sebagai diskursivitas, sebagai penjaga diskursivitas, sebagai Cartesian watchers. Bukan pemisahan kategoris antara pelaku dan penonton, merupakan konsekuensi dari sistem logika idealisasi yang berimplikasi pada terbentuknya distansi antara subyek dengan obyek.

Dalam panggung bersuspensi, setiap elemen yang hadir dalam komunikasi dramatik, sekaliannya adalah subyek. Tak ada limitasi peran antara pelaku dan penonton. Pelaku/ penonton adalah subyek epistemik yang tengah mengelola pengalaman suspensinya masing-masing. Pengalaman suspensi adalah pengalaman dengan menghadirkan kepekaan carnivorous manusia, sebagai mahluk pemburu dan pemangsa, untuk melacak jejak dari semua permainan epistemik yang telah bergeser dari objek optis di atas panggung, menjadi pergulatan epistemik didalam diri pelaku/penonton sendiri.

Bagaimana sebuah kata akhir bisa dibayangkan dari sebuah panggung suspensi?! Pangung suspensi adalah panggung yang mengelola isyarat, bukan menyuguhkan jawaban bijak. Ambilah sebuah isyarat ini : Manusia akan bijak jika menjadi hewan. Aha! Tidak cukup sebagai kata akhir, bukan? Jika begitu, tetaplah bordeless. Selamat datang di panggung suspensi. Tulisan ini pun sebuah suspensi ; sebuah tempatation. Akh!!

________
* Majalah Daunjati edisi 8/ mei 2007
** Benny Yohanes, dosen Jurusan Teater STSI Bandung


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger