AMNESIA BIOGRAFI; BEBERAPA BAHAYA DAN RESIKO TEATER UNTUK REMAJA

Riyadhus Shalihin

Pertunjukan Coitus Interruptus | Foto: Daunjati
Sampai batas manakah tatapan tajam dari aktor mampu menahan guncangan antara beban makna yang dikandung oleh pertunjukan, dan ketegangan tubuhnya yang ditatap ulang oleh penonton?

Melalui pertunjukan ‘Ruth’ dari Teater Madya (SMA Madya Bogor), tatapan menjadi pendidikan dasar keaktoran, dan melaluinyalah aktor menjadi sekaligus kehilangan keremajaannya, keremajaan yang direnggut oleh pikiran-pikiran hitam-putih antara idealitas masa lalu dan negativitas masa kini, masa lalu yang ditandai dengan permainan yang langsung menggunakan tubuh dan masa kini yang mengasingkan tubuh. Pertunjukan memainkan penyutradaraan ruang di sana, oleh teks-teks di suatu tempat, entah di mana, teks-teks yang membalutkan situasi kekinian dengan strategi ke-di-sana-an, tempat yang anonim secara geografis, yang bergumul di dalam fiksi, sebuah projek memfiksikan fakta.

Tokoh ‘Ruth’ menjadi super-idealitas atas sesama remaja seumurnya, yang dinarasikan terjerumus kondisi jahat karena sudah terhipnotis oleh sinetron, televisi, dan juga smartphone. Tokoh ‘Ruth’ menjadi heroisme keaktoran, yang mengajarkan tentang ketegangan, bagaimana teater didistribusi oleh teriak dan menatap langsung penonton, melawan penonton untuk menegaskan bahwa saya sedang melawan sesuatu, mata yang menyalak dan menantang untuk merayakan aku-aktor sebagai aku yang berdebar-debar, aku-peran yang mengejangkan mata dan membiarkan keremajaannya tubuhnya menjadi teatrikal.

Skenografi yang ditata di belakang panggung, melalui poster-poster yang ditempelkan pada siclorama sudah menjadi jurnalisme visual yang membatalkan visi fiksi pertunjukan, yang dengan kuat menahan teater untuk tetap berada di sini, tidak menjadi di sana, menjadi bagian lain dari keterbelahan pertunjukan yang ingin menjelaskan persoalan kekinian melalui modus fiksi, yang terus berteriak lebih berteriak daripada teriakan para aktor. Pertunjukan ‘Ruth’ membawa misi antagonisme pada situasi kekinian dengan begitu kuat, situasi yang akhirnya membawa kita pada pertanyaan ; lalu apa yang anda tawarkan untuk mengelola dan mengalami hari ini, apakah dengan cara memakamkan seluruh kebudayaan kini, atau menziarahi lagi kembali apa-apa yang sudah dimakamkan di masa lalu?

Pertunjukan yang juga menjadi ragu terhadap dirinya sendiri, karena ternyata di akhir cerita tokoh yang melaporkan Ruth untuk dibunuh, juga dibunuh, dan mereka berdua berpelukan hingga akhirnya larut oleh temaram tata cahaya, pertunjukan yang sedari awal memang ingin memakamkan masa lalu sebagai museum heroisme, memenangkan sekaligus memusuhinya.

Pertunjukan Dunia Abu | Foto: Daunjati
siasat-siasat seks yang etis, dan sebuah masyarakat tanpa perempuan

Bagaimana cara membaca seksualitas yang anarkis, seksualitas yang justru menahan laju sensualitas?

Dalam pertunjukan ‘Coitus Interruptus’ yang ditampilkan oleh Teater Nur (SMK Nurul Islam Cianjur), dengan sutradara; Dian Ardiansyah, seksualitas menjadi politik bahasa yang lebih pintar dari seks itu sendiri, dan medan panggung yang tercipta melulu tafsir politik atasnya, sehingga seks sebagai peristiwa seks tidak hadir dari panggung Teater Nur. Adegan lokasi pelacuran dibalut dengan lilitan kostum warna-warni yang menutupi seluruh kulit-tubuh aktor perempuan, bahkan sehelai rambut-pun tidak dibiarkan untuk ditatap.

Birahi kelelakian tidak diundang untuk lahir dan terlibat, hanya komposisi musik-lah yang mengantarkan tentang imaji ketubuhan dan sensualitas ke-pelacur-an masuk, tubuh yang ada di dalam kostum adalah tubuh-polos yang dipolitisasi oleh politik-kostum, yang memang langsung menghadirkan narasi tentang kondisi etis sekolah mereka sendiri, bagaimana kuasa kurikulum keislaman menyensor hingga bagian tereksternal dari siswa untuk mengalami aku di luar kurikulum, aku-pelacur sebagai bagian dari kerja pemeranan yang polos tanpa siasat etika.

Pertunjukan ‘Coitus Interruptus’ justru tidak sedang menghadirkan seksualitas sebagai dirinya, namun bagaimana seks sebagai juga bagian dari proses rantai-berantai politik luas, seks ditekstualisasi sebagai basis untuk mengatakan politik yang ada di balik seks, bagaimana industri pelacuran selalu juga menjadi pelumas atas berkembangnya produksi kondom, dan konsepsi seks bebas yang juga ikut memperlancar hubungan ekonomis kondom dan perniagaan hasrat. Seks menjadi metodologi yang ilmiah dan berbusa-busa, pemeranan menjadi aksi akrobatisme berkata-kata dan berbahasa, dan melalui siasat inilah, siasat cerdas berseksualitas, maka kuasa kurikulum keislaman dari sekolah bisa ditranslasi menjadi teater atas tema seksual yang tidak sensual. Namun, energi ini didislokasi menjadi hasrat yang katupnya bocor di luar pertemuan tubuh lelaki dan perempuan, penyibakan tubuh perempuan, ataupun superfisialitas kostum, energi hasrat keremajaan mereka yang bergumpal, bocor melalui disiplin atletis adegan per-adegan, yang memicu mereka untuk terus berlari dan bersiaga atas direksi keruangan, juga melalui adegan-adegan masokistis atas pemenggalan kepala dan berpelukan serta berciumannya beberapa aktor lelaki. Ketika satu katup ditutup maka katup lain akan meledak, dan melaluinyalah kita masih bisa membaca ke manakah larinya hasrat yang tidak terkostumisasi, di manakah sensualitas itu bersembunyi dan beralih media dalam atletisme tubuh, urat-urat juga keringat tubuh yang bercucuran dalam tempo adegan yang ketat, serta masokisme keras dari tubuh yang sigap dan awas?

Pada sebuah adegan dalam pertunjukan ‘Sebening Mutiara’  dari Teater Beta (SMK At-Taqwa Pusat Putra), Bekasi, untuk menyiasati sensor pertemuan tubuh lelaki-perempuan, maka adegan dibuat dengan menggendong tubuh aktor satu sama lain, yang semuanya lelaki – meskipun musik yang larut pada adegan tersebut sudah menggelitik dan menggoda, lirik-nya sudah mengalir dengan basah dan seksis, namun propaganda keras mendaftarkan perempuan sebagai salah satu elemen pertunjukan – menjadikan adegan ini sebagai latar pembacaan saya, atas apa yang ada pada pertunjukan tidak seutuhnya murni sebagai order atas seni peran, tetapi juga atas apa yang berada di luar panggung itu sendiri.

Sama-sama berasal dari pusaran Islam sebagai kelahiran kelompok teater-nya, Teater Nur dan Teater Beta membuat siasat atas apa yang boleh dan tidak boleh dalam tata etika Islam, juga sebagai yang terus mengawasi dan ikut tumbuh dalam proses teater-nya. Pada Teater Nur, seksualitas menjadi seksologi, hasrat ditahan sekaligus diurai oleh kostum dan adegan, di mana tubuh perempuan bukan sebagai tubuh polos sebagaimana seks atas perempuan itu sendiri, tetapi tubuh yang tumbuh dari latar jilbab/kerudung atas kesehariannya, yang juga ikut hadir pada keasingan antara peran pelacur dan pelacur yang ditutupi rambutnya. Teater Beta hadir sebagai bagian dari teater yang memiliki pengalaman serupa dengan Teater Nur, Teater yang membawa kesehariannya pada teater, keseharian yang tidak seperti keseharian mereka yang di luar asrama, di mana menatap perempuan adalah adegan lain di luar keremajaan, yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah dewasa dan siap untuk menikah.

Pertunjukan ‘Sebening Mutiara’ meniadakan wanita melalui tidak hadirnya tokoh Ibu Ustadz dari peran Ustadz, tidak hadirnya ibu-ibu dan wanita pengajian dari remaja lelaki pengajian, tidak hadirnya istri pengusaha dari peran Pengusaha, dan hilangnya peran pembeli wanita  di warung/kios.

Perempuan menjadi imajinasi kedua atas realitas sehari-hari pengajian, sehari-hari di jalan kampung, yang berbeda misalnya jika Teater Beta langsung menghadirkan keabsenan wanita itu tidak meminjam narasi lain di luar diri mereka, tetapi langsung meradikalisasi realitas keseharian mereka yang memang tanpa wanita ke dalam teater, misalnya membocorkan fenomena sehari-hari di asrama yang mengalienasi wanita dalam kehidupan para santri pria, kegelisahan apa sajakah yang timbul atasnya, problem personal dan sosial apakah yang hadir atas keabsenan wanita di dalam keseharian mereka di dalam asrama, tidak menghindar atas kenyataan bahwa wanita memang tidak ada di dalam keseharian dan meminjam teater lain di luar teater mereka sendiri. Di mana teater masih diperlakukan sebagai bagian dari memerankan peran, sedangkan biografi lingkungan lelaki yang ditutup kemungkinan komunikasinya dengan perempuan tidak dibayangkan sebagai teater yang sudah memiliki dramaturgi-nya sendiri.

Teater yang meminjam cerita seperti Teater Beta, menjadi pertanyaan pada festival ini yaitu apakah teater adalah proses remaja berperan ataukah remaja yang memerankan peran, di mana juga rata-rata sebagian besar para remaja memerankan juga tokoh remaja?

Sehingga pertanyaannya adalah apakah teater remaja adalah remaja yang memerankan remaja ataukah remaja yang memerankan bukan tokoh remaja, apakah seorang remaja dikatakan berhasil berteater jika sudah mengatakan dirinya ataukah yang justru sudah  mengatasi dirinya?

Pertunjukan Ruth | Foto:Daunjati
dokumentasi pada batas remaja pemeranan dan remaja pernyataan

Kericuhan itu berlangsung lebih dari 30 menit, kecerewetan yang menyedot satu persatu para aktor dari Teater Kipas (SMA Negeri 6 Bekasi) yang membawakan teks ‘H2S04 0’1M’ – bergumul dalam lingkar kerumunan fokus.

Kata-kata yang mereka keluarkan terkadang ada yang bisa didengarkan dengan jelas, tetapi terkadang juga lepas dan terbang begitu saja, antara dialog dan gerutu keseharian menjadi baur, antara dialog yang memang ditujukan sebagai pesan dramatik ataupun apa yang keluar dari mulut sebagai imbuhan mengobrol, antara ingin mengikat penonton sebagai pengumuman pertunjukan juga membiarkan penonton lepas dari panggung.

Pertunjukan ini sedari awal tidak diedit atau dikurasi dalam satuan tempo dramatik yang pekat dan ketat, waktu yang hadir adalah waktu yang ditarik dan memuai, waktu yang melebar dan menetap. Adegan demi adegan adalah shot gambar yang berdiri sendiri-sendiri, dirinya hadir tidak untuk menegaskan atau menyambung struktur adegan sebelumnya. Penyutradaraan yang dilakukan oleh Dendi Madiya, bukan membebani ruang dengan hisapan dramatik, tetapi membiarkan adegan demi adegan sebagai adegan itu sendiri, Dendi Madiya tidak melakukan pengadeganan pada aktor,  dirinya justru memberikan ruang pada adegan, seperti memberikan panggung kosong kepada aktor, adegan-adegan yang banyak dibangun oleh lingkungan adegan itu sendiri, adegan mengerjakan tugas rumah, adegan menggambar/mewarnai, adegan tentang kurikulum, adegan bermain gitar. Sebuah dokumentasi yang berganti ruang, dislokasi dari apa yang ada di lokasi kelas dan keseharian menjadi tabel adegan. 

Pertunjukan yang akhirnya menawarkan pertanyaan kepada pentas yang membiarkan penonton satu persatu pergi dari kursi penontonnya, lantas apa yang harus dijaga oleh teater ketika akhirnya teater harus merelakan elemen resiprokal aktor dan penonton tidak berlangsung intim, apakah intimasi  teater terbuat dari pertunjukan yang magnetis secara dramatik, apakah magnetis dramatik teater berasal dari berdebar-debarnya ruang adegan – dan tempo yang berdegup, akurasi lalu lintas blocking keaktoran yang presisif, apakah teknis masih diperlukan.
Lalu bagaimanakah seharusnya remaja berhadapan dengan biografi sosialnya sekaligus juga berhadapan dengan elemen teknis teater, baik apa yang ada pada disiplin keaktorannya maupun pada teknologi visual dan audialnya, bagaimanakah syarat ketinampilan yang hadir atas dan untuk remaja, apakah teater hadir untuk dirinya atau untuk mereka.

Apakah teater menjadi hadir sebagai pengalaman atas remaja setelah mereka bisa mengatakan dirinya ataukah setelah mengatasi dirinya? Apakah mengalami diri sendiri juga adalah pengalaman mengatasi, dan apakah memerankan diri sendiri dapat disebut berperan?

Related

Teater 6957685926526507375

Posting Komentar

  1. Tulisan yang dalam. Luar biasa. Tulisan ini membuat panggung teaternya sendiri. Akrobat kata-katanya lebih teaterikal daripada pentas-pentas yang diulasnya. Saking asyiknya berakrobat, sampai lupa dengan etika dan regulasi tanda baca. Titik, koma, kutip tertendang entah ke mana.

    BalasHapus
  2. "Apakah tulisan menjadi hadir sebagai pengalaman atas teater remaja setelah mereka bisa mengatakan dirinya ataukah setelah mengatasi dirinya. Apakah menuliskan pengalaman diri sendiri juga adalah pengalaman mengatasi, dan apakah memerankan diri sebagai penulis dapat disebut berperan" kutip gw dari paragraf terakhir

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. HYPER-INTERPRETASI dan AMNESIA PERTUNJUKAN;
    BEBERAPA BAHAYA DAN RESIKO PENULISAN (REVIEW/KRITIK) TEATER REMAJA

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Yadh, Teater Kipas dari SMAN 02 Kota Bekasi. Dendi

    BalasHapus

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item